Menurut saya sih permasalahannya bukan di masalah 'hisab' atau 'rukyat'. Bukan
soal metode mana yang paling valid di antara cara konvensional dengan melihat
bulan, dengan metode keilmuan dengan perhitungan astronomi. Permasalahan
sebenarnya adalah kegagapan pemimpin umat di Indonesia untuk mengelola
mekanisme 'ijma'. Sebuah kesepakatan para ulama. Pernyataan Hasyim Muzadi yang
terkesan untuk menenangkan umat, bahwa perbedaan adalah hal yang wajar,
sebenarnya merupakan upaya pembenaran dalam menutupi kegagalan pemimpin agama
kita mencapai kata sepakat.
Pemimpin umat aja gak bisa sepakat, apalagi umatnya. Masalahnya bukanlah apakah
Idul Fitri jatuh pada tanggal 12 atau 13 Oktober. Yang menjadi masalah adalah,
apakah tidak aneh jika umat Islam dalam suatu wilayah geografis sebuah negara,
dengan hanya tiga daerah waktu dengan rentang perbedaan waktu paling besar dua
jam, terdapat dua kelompok yang mendukung pendapat yang berbeda secara ekstrim.
Kelompok satu berpendapat bahwa hari itu umat masih diwajibkan berpuasa,
sementara kelompok lain mendukung pendapat bahwa hari itu diharamkan berpuasa.
Sebenarnya di situlah letak esensi mengenai 'ijma', agar umat tidak bingung
dalam menjalankan ajaran Islam yang mereka yakini kebenarannya. Dan para ulama
di Indonesia gagal mengelola mekanisme tersebut. Gengsi lembaga keagamaan telah
memperparah pula kegagalan tersebut, membelah umat menjadi kelompok-kelompok
yang sama gamangnya. Lebih parah lagi, kegagalan tersebut membuka peluang
negara untuk melakukan intervensi dalam hal penetapan tanggal 1 Syawal. Please
dech, buat menetapkan 1 Syawal aja masih perlu intervensi pemerintah. Gimana
mau memajukan kesejahteraan umat?
---------------------------------
Be a better Heartthrob. Get better relationship answers from someone who knows.
Yahoo! Answers - Check it out.
[Non-text portions of this message have been removed]