Ukhuwah Antar Ras di Masjid Kowloon  18 Okt 07 05:06 WIB
   
  Oleh Sigit Indriyono
   
  Hari itu matahari bersinar cukup terik. Masih belum siang, baru jam sepuluh 
pagi. Udara terasa sangat panas. Terkadang angin bertiup kencang, seolah 
menyambut kedatanganku di Hongkong untuk transit sehari semalam, sebelum 
melanjutkan perjalanan ke Osaka.
   
  Aku bersama seorang rekan kerja ditugaskan oleh perusahaan tempat kami 
bekerja untuk menyelesaikan urusan dengan mitra kerja perusahaan di dua negara, 
yaitu Cina dan Jepang. Amanah yang diberikan oleh perusahaan harus dilakukan 
dengan baik. Bekerja adalah beribadah guna meraih ridho Allah SWT. Itulah 
falsafah bekerja yang selalu harus dihayati dan diamalkan. Dan selalu berdo’a 
kepada-Nya agar diberikan kemudahan dalam urusan bekerja dan agar tidak 
menyimpang dari jalan-Nya.
   
  Di Shenzhen, Cina tugas telah diselesaikan dengan baik selama tiga hari. 
Dilanjutkan untuk menyelesaikan urusan dengan mitra kerja perusahaan di Osaka, 
Jepang. Dijadualkan selama dua hari, setelah itu kembali ke tanah air.
  Kami berdua berjalan kaki menyusuri jalan yang sangat ramai di kawasan 
Kowloon. Kowloon merupakan distrik tersibuk di Hongkong. Lalulintas kendaraan 
cukup padat namun teratur karena pengemudi kendaraan berlalu lintas dengan 
disiplin dan sopan santun yang baik. Pejalan kaki juga disiplin mematuhi aturan 
berjalan di trotoar dan menyeberang jalan di tempat yang telah disediakan.
   
  Tujuan kami berdua ke Kowloon adalah untuk makan siang. Setiap aku ditugaskan 
oleh perusahaan ke negeri yang mayoritas penduduknya bukan muslim, isteriku 
selalu berpesan agar berhati-hati dalam memilih makanan. Pesan yang insya Allah 
selalu kupegang. Al-Qur’an dan Hadis Rasulullah memberikan berbagai aturan yang 
baku tentang makanan. Lengkap, rinci dan mudah dipahami. Makanan yang halal dan 
yang haram telah ditetapkan. Harus makan makanan yang halal dan thoyib. Tidak 
boleh makan dan minum berlebihan. Bagaimana do’a sebelum dan sesudah makan. 
Etika makan dan minum seperti tidak berdiri, tidak meniup makanan dan minuman 
yang panas. Cara menyembelih binatang ternak. Kalau makanan yang kita makan 
tidak halal, atau halal tetapi cara memperolehnya tidak halal seperti dari 
hasil korupsi, hasil penipuan, hasil sogok menyogok, hasil riba, maka do’a kita 
tidak diterima oleh Allah SWT.
   
  Sepanjang Nathan Road di kawasan Kowloon banyak terdapat rumah makan. 
Kehalalan makanannya sangat meragukan. Sampai ujung Nathan Road kami 
menyeberang dan berbalik arah. Siapa tahu bisa menemukan Islamic Restaurant, 
seperti saat aku dtugaskan oleh perusahaan ke Perancis beberapa bulan 
sebelumnya. Alhamdulillah, saat itu di tengah kemegahan kota Paris aku bisa 
menemukan Islamic Restaurant. Aku disambut hangat oleh pemilik rumah makan yang 
berasal dari Aljazair setelah kuucapkan: ” Assalamu ’alaikum. ” Tiga potong 
daging sapi panggang disertai kentang rebus, sepiring salad dan segelas susu 
hangat jadi menu pilihanku di siang hari yang sangat dingin pada musim dingin.
   
  Sampailah kami di Kowloon Park yang hiruk pikuk dipenuhi anak muda Hongkong. 
Pandanganku tertuju pada bangunan megah di salah satu sisi taman tersebut yang 
berpagar tembok agak tinggi. Ada kubah menjulang tinggi pada bangunan tersebut. 
Subhanallah, ternyata bangunan itu adalah masjid Kowloon. Masih jam setengah 
dua belas kurang sepuluh menit menjelang tengah hari. Kuajak rekanku untuk 
sholat Dhuhur dahulu di masjid itu. Setelah itu baru makan siang. Dia 
menyetujuinya. Dengan langkah mantap kami menapaki tangga masjid. Di lantai 
dasar terdapat banyak sekali pintu toilet. Kumasuki salah satu toilet, terkesan 
mewah dan sangat bersih. Kemudian aku menuju antrian orang yang akan berwudhu.
   
  Dengan bergegas kumasuki lantai tiga masjid. Selesai sholat tahiyatul masjid, 
aku memandangi interior masjid yang indah. Jama’ah sholat Dhuhur cukup banyak. 
Sesaat kemudian terdengar suara adzan mengalun indah. Terasa syahdu dan 
menggetarkan kalbu. Selama tiga hari di Shenzhen tidak pernah terdengar suara 
adzan. Selesai sholat, jama’ah keluar meninggalkan masjid dengan tertib. 
Jama’ah masjid Kowloon dari berbagai ras bangsa ada di sini. Ada ras Cina, 
merupakan penduduk asli Hongkong. Ada ras Melayu yaitu dari negara kita, 
Malaysia dan Singapura. Ada ras Arab, ada ras India dan sedikit ras Eropa.
   
  Di tangga masjid aku menghampiri seorang jama’ah berwajah India dan memakai 
sorban. Aku menanyakan letak Islamic Restaurant di kawasan Kowloon, setelah aku 
memperkenalkan diri berasal dari Indonesia. Orang itu memperkenalkan dirinya 
berasal dari Kashmir dan telah bekerja di Hongkong selama sepuluh tahun. Dengan 
ramah dia menjawab bahwa lokasinya tidak jauh dari masjid, dia menawarkan untuk 
mengantarkan. Aku setujui tawarannya. Bertiga tiga kami segera menuju tempat 
dimaksud yang menyediakan makanan India. Alhamdulillah, telah terjalin ukhuwah 
antar ras di masjid Kowloon. 
   
  ” Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan 
seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya 
kamu saling kenal mengenal. ” (QS Al-Hujuraat[49]: 13). 

Bontang, 5 Syawal 1428 H/ 17 Oktober 2007
  
http://www.eramuslim.com/atk/oim/7a17152849-ukhuwah-antar-ras-masjid-kowloon.htm

 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke