apa bedanya dengan perayaan natal dalam tradisi kristen? sangat mengada-ngada 
dan merupakan pemenang dalam hal bertradisi-ria?, padahal tak seorangpun dapat 
membuktikan kapan yesus lahir.
   
  herbert w amstrong menulis " Di ensiklopedi mana pun atau juga di kitab suci 
Kristen sendiri akan mengatakan kepada kita bahwa Yesus tidak lahir pada 
tanggal 25 Desember. Catholic Encyclopedia sendiri secara tegas dan 
terang-terangan mengakui fakta ini. Tidak seorang pun yang mengetahui, kapan 
hari kelahiran Yesus yang sebenarnya. Jika kita meneliti dari bukti-bukti 
sejarah dan kitab suci Kristen sendiri, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa 
Yesus lahir pada awal musim gugur - yang diperkirakan jatuh pada bulan 
September - atau sekitar 6 bulan setelah hari Paskah.
   
  Jika Tuhan menghendaki kita untuk mengingat-ingat dan merayakan hari 
kelahiran Yesus, niscaya dia tidak akan menyembunyikan hari kelahirannya", 
tambahnya
   
  Acara yang paling penting dari seluruh kegiatan Natal adalah "The Christmas 
Shopping Season - Musim Belanja Natal" yang dilakukan dengan cara membeli dan 
tukar menukar hadiah. Mungkin banyak orang yang mengecam kami sambil berkata:
   
    "Bukankah Bibel (Alkitab) telah menceritakan kepada kita untuk ditiru? 
Lupakah kita kisah 3 orang dari timur yang datang ke Betelhem untuk memberikan 
hadiah ketika Yesus lahir?"
   
  Memang, kami mengetahui cerita itu di dalam Alkitab. Tetapi, silahkan anda 
melihat keterangan kami yang mengejutkan ini. Marilah menengok sejarah asal 
usul tukar menukar hadiah itu, kemudian kita bandingkan dengan ayat Alkitab.
  Pada Bibliothica Sacra, volume 12, halaman 153-155, kita dapat membaca 
sebagai berikut:
   
    "The interchange of presents between friends is alike characteristic of 
Christmas and the Saturnalia, and must have been adopted by Christians from the 
Pagan, as the admonition of Tertullian plainly shows." 
   
  "Tukar menukar hadiah antar teman di hari Natal serupa dengan adat agama 
Saturnalia. Kemungkinan besar, kebiasaan ini diadopsi oleh orang-orang Kristen 
dari agama Pagan, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Tertulianus."
   
  Dari bukti yang jelas ini, ternyata kebiasaan pertukaran hadian sesama teman 
dan famili pada hari Natal itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan kisah 
dalam Alkitab tersebut. Acara Natal bukanlah merayakan ulang tahun Yesus 
Kristus, juga bukan untuk menghormatinya. (menyedihkan)
   
  Sebuah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri yang selalu dilakukan oleh hampir 
semua orang di seluruh dunia. Mereka menghormati "sebuah hari" - yang 
sebenarnya bukan hari kelahiran Yesus Kristus - dengan berbelanja dan membeli 
hadiah sebanyak-banyaknya untuk ditukarkan kepada teman-teman dan kerabatnya. 
Dari pengalaman saya selama bertahun-tahun, begitu pula pengalaman para pastur 
dan pendeta; Apabila bulan Desember tiba, hampir semua orang yang mengaku 
Kristen lupa memberi hadiah kepada Yesus Kristus yang mereka cintai" 
   
  selanjutnya : "Desember adalah bulan yang paling sulit untuk menghidupkan 
ajaran Yesus. Sebab semua orang terlalu disibukkan untuk membeli dan menukar 
hadiah daripada mengingat Yesus dan menghidupkan ajarannya. Peristiwa melupakan 
Yesus ini terus berlangsung sampai bulan Januari bahkan Pebruari. Sebab mereka 
harus melunasi biaya pengeluaran yang dibelanjakan pada waktu Natal. Sehingga 
mereka sulit mengabdi kepada Yesus kembali sebelum bulan Maret.
   
  achirnya, inilah realitasnya " Christmas atau Natal telah menjadi musim panen 
para pedagang. Ia menjadi sponsor yang terus dilestarikan oleh perusahaan 
advertising setiap tahun. Anda selalu melihat Santa Claus yang dipajang di 
setiap toko. Iklan-iklan menyambut dan mengajak kita untuk merayakan "Beautiful 
Christmas Spirit". Koran yang selalu menjual iklan, ikut menyemarakkan musim 
kaum kafir tersebut di tajuk rencananya. Orang yang mudah terbius oleh tradisi 
ini, akan marah bila ditunjukkan kebenaran dari Tuhan. Padahal "Christmas 
Spirit = Semangat Natal" yang diselenggarakan setiap tahun itu, bukanlah untuk 
mengangungkan Kristus, melainkan hanya untuk promosi barang-barang dagangan. 
Sebagaimana rayuan setan lainnya, ia dikemas sedemikian rupa sehingga tampak 
seperti "Malaikat Pembawa Terang" yang amat indah. Setiap tahun jutaan dolar 
dihabiskan begitu saja, sementara ajaran Yesus diterlantarkan. Itulah bagian 
dari sistem perekonomian Babilonia"
   
  natal dijadikan komoditi bisnis semata, tradisi untuk meraup untung 
sebanyak2nya. dan masih panjang sebenarnya yang ditulis mengenai "tradisi natal 
yang mengada-ada ini", tapi cukuplah sekian.
   
  sudah dijelaskan oleh riri cute tentang  Iedul Fitri, dan bila ada yang 
menjadikannya sebagai tradisi yang kering tanpa makna, berarti orang tersebut 
yang perlu belajar banyak tentang makna Iedul Fithri sesungguhnya, apalagi para 
pebisnis kartu dan ucapan lebaran yang mendompleng pada hari raya Ied, yang 
kebanyakan mereka bukanlah Muslim. gimana mau paham mereka dengan makna Ied 
kecuali berfikir untuk keuntungan semata? anehnya para Muslim sendiri tidak 
sadar sedang diperdaya.
   
  coba schrooldown tulisan riri cute, bedakan antara tradisi kristen yang 
mengadakan yang tidak ada alias mengada-ada, di dalam Islam, merayakan Iedul 
Fithri memang ada, dan tidak mengada-ada, yang merayakannya saja yang 
mengada-ada, membelokkan makna.
   
  sebenarnya makna Ied Fithrie focusnya bukan 'saling memaafkan' walau 
membiasakan hal ini juga bukan hal jelek.
   
  kalimat2 yang sepatutnya diucapkan merupakan doa, doa agar ibadah yang 
dilakukan pada bulan Ramadhan diterima oleh Allah.
   
  adapun ucapan yang disunnahkan untuk diucapkan dan dilakukan dizaman Rasul 
dan para sahabat apabila Ramadhan berachir adalah: " 
   
  Taqabalallahu Minna waminkum, Shiyamana washiyamakum. (Semoga Allah 
mengabulkan yg dari kami dan dari anda, puasa kami dan puasa anda).
   
  Sedangkan lafadz minal a'idin wal faidzin merupakan doa yang terpotong, arti 
secara harfiyahnya adalah: termasuk orang yang kembali dan menang.
  Lafadz ini terpotong, seharusnya ada lafadz tambahan di depannya meski sudah 
lazim lafadz tambahan itu memang tidak diucapkan. Lengkapnya ja'alanallahu 
minal a'idin wal faidzin, yang bermakna semoga Allah menjadi kita termasuk 
orang yang kembali dan orang yang menang.
   
  Namun sering kali orang salah paham, dikiranya lafadz itu merupakan bahasa 
arab dari ungkapan mohon maaf lahir dan batin. Padahal bukan dan merupakan dua 
hal yang jauh berbeda.
   
  Lafadz taqabbalallahu minna wa minkum merupakan lafadz doa yang intinya kita 
saling berdoa agar semua amal kita diterima Allah SWT. Lafadz doa ini adalah 
lafadz yang diajarkan oleh Rasulullah SAW ketika kita selesai melewati Ramadhan.
   
  Jadi yang diajarkan sebenarnya bukan bermaaf-maafan seperti yang selama ini 
dilakukan oleh kebanyakan bangsa Indonesia. Tetapi yang lebih ditekankan adalah 
tahni'ah yaitu ucapan selamat serta doa agar amal dikabulkan.
   
  Meski tidak diajarkan atau diperintahkan secara khusus, namun bermaaf-maafan 
dan silaturrahim di hari Idul Fithri juga tidak terlarang, boleh-boleh saja dan 
merupakan 'urf (kebiasaan) yang baik. 
   
  Di luar Indonesia, belum tentu ada budaya seperti ini, di mana semua orang 
sibuk untuk saling mendatangi sekedar bisa berziarah dan silaturrahim, lalu 
masing-masing saling meminta maaf. Sungguh sebuah tradisi yang baik dan sejalan 
dengan syariah Islam.
   
  Meski terkadang ada juga bentuk-bentuk yang kurang sejalan dengan Islam, 
misalnya membakar petasan di lingkungan pemukiman. Tentunya sangat mengganggu 
dan beresiko musibah kebakaran.
   
  Termasuk juga yang tidak sejalan dengan tuntunan agama adalah bertakbir 
keliling kota naik truk sambil mengganggu ketertiban berlalu-lintas, apalagi 
sambil melempar mercon, campur baur laki dan perempuan dan tidak mengindahkan 
adab dan etika Islam.
  Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, 
(Ahmad Sarwat, Lc)
   
  jadi, meminta maaf itu bukan "tradisi" Iedul Fithri yang dicontohkan Rasul 
dan para sahabat. makanya kering makna, dan salah kaprah. yang penting adalah 
amalan yang diterima (puasa Ramadhan), kalaupun harus saling memaafkan, mesti 
dengan ketulusan, paham kenapa meminta dan menerima maaf, bukan sekedar pemanis 
bibir.
   
  r2fw
   
   
  semoga kakek ucup mengerti.
   
  salma feirouz
   
   
   
   
   
  

mangucup88 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Yuu..uk coba test kepripadian: Cobalah renungkan sejenak, nama-nama 
dari orang kepada siapa saja Anda merasa sewot/sebel/ benci ? Begitu 
juga dengan kejadian-kejadian yang sangat menyakiti hati Anda ? 
Apakah masih ada nama-nama atau kejadian-kejadian menyakitkan yang 
masih teringat ? 

Apabila jawabannya „Yes" berarti Anda kurang rapih membersihkan 
arsip gudang dosa Anda, kita masih belum mampu mereset jadi nol 
kembali kalkulator dosa kita, sehingga rasa benci dan hal-hal yang 
negatif lainnya masih tetap saja bercokol dan teringat terus. Dalam 
hal ini tidak bisa dipungkiri, bahwa virus benci maupun sewotnya 
masih tetap ada di dalam pikiran maupun lubuk hati kita.

Itulah hasil nyata dari Neraca hitung-hitungan dari "Permohonan Maaf 
Lahir Batin" selama hari raya Lebaran kemarin !

Padahal kalau direnungkan, kemarin kita telah mengirimkan puluhan 
bahkan ratusan SMS, kartu permohonan maaf lahir dan batin, begitu 
juga dengan parsel maupun bunga kepada semua rekan-rekan dan handai 
taulan kita dengan harapan minimum setahun sekali kita dapat 
membersihkan batin dan hati kita. Dengan demikian diharapkan dapat 
mengawali tahun baru dengan pandangan maupun hidup yang baru. Hanya 
sayangnya kalau kita jujur, orang yang kita benci masih tetap saja 
ada dan banyak, bahkan kejadian-kejadian yang menyakitkan pun masih 
tetap saja tak terlupakan. Kenapa?

Permasalahannya; kita hanya mengirimkan SMS, kartu ucapan 
permohonana maaf lahir dan batin kepada orang-orang yang kita merasa 
dekat / simpatik saja, apalagi dengan kiriman parsel maupun bunga 
ini pada umumnya hanya ditujukan kepada keluarga dekat seperti ortu, 
kekasih atau rekan bisnis atau pejabat; agar „take & give" nya jelas 
begitu. 

Jawablah dengan jujur pernahkan anda mengirimkan parsel ato bunga 
maupun kartu kepada orang yang kita benci ataupun kepada musuh kita, 
ataupun kepada korban orang-orang yang pernah kita sakiti. Jangan 
harap ! Boro-boro ucapan selamat yang berkaitan dengan uang kirim 
email ato sms yang gratisan azah udah ogah.

Sebenarnya bukan saya yang menyakiti, melainkan sayalah sang korban 
yang disakiti, moso sih saya yang harus kirim kartu apalagi parsel, 
emangnya aku ini termasuk wong gendheng? Bukankah kita seringkali 
mendengar ucapan seperti „forgiving, but not forgetting", kita 
mungkin bisa memaafkan, tetapi tidak bisa melupakan, apalagi kalau 
rasa sakitnya itu dalam sekali, sehingga telah menghancurkan 
hidupnya seseorang.

Disamping itu permohonan maafnya pun dalam bentuk „kodian", yang 
dikirim secara „grosiran" dalam jumlah besar, bukannya „eceran". 
Jadi bukannya yang khusus ditujukan dan ditulis untuk saya tulen, 
melainkan karena kalimat „permohonan maaf" tsb sdh tercantum dicetak 
dikartu atau karena hanya men fwd SMS orang saja. Maka dari itu 
kalau ia benar-benar serious mau minta maaf, kenapa harus menunggu 
hingga tibanya hari raya Idul Fitri bukan sebelumnya. Apakah 
permohonan maaf itu seperti juga penutupan buku neraca akhir tahun 
yang dilakukan hanya setahun sekali saja untuk melihat laba dan rugi 
nya untuk berkawan dengan seseorang ?

Maka dari itu janganlah heran kalau banyak orang yang menilai 
permohonan maaf lahir & batin yang diajukan pada saat hari raya Idul 
Fitri tidak dapat ditanggapi secara serious, karena hal ini lebih 
menjurus kepada tradisi yang sekedar basa-basi atau pemanis bibir 
saja !

Walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa bisnis „maaf & memaafkan" ini 
setiap tahunnya dapat menghasilkan omset ratusan milyar Rp, mulai 
dari penjualan kartu mohon maaf, s/d porto meterainya, belum lagi 
dengan pengiriman parsel-nya, kueh, bunga dll-nya. Perlu diketahui 
bahwa "Anda dapat memberi tanpa mengasihi, tetapi Anda tidak dapat 
mengasihi tanpa memberi!"

Orang yang dapat memaafkan kesalahan seseorang adalah orang yang 
baik, sedangkan yang dapat memaafkan dan melupakan kesalahan 
seseoran adalah orang yang bijak, tetapi orang yang dapat memaafkan 
dan melupakan kesalahan seseorang „sebelumnya" orang tsb minta maaf 
adalah orang yang memiliki sifat illahi. 

Mang Ucup
Email: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: www.mangucup.org
http://www.friendster.com/mangucup



                         

 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke