Petinggi Freeport Pimpim Perang Saudara di Tembagapura "Ada apa?"
Perang saudara yang kembali terjadi di Distrik Freeport Tembagapura tercatat salah seorang oknum pegawai aktif freeport terlibat sebagai pimpinan perang. Konflik yang sengaja diadudomba Perusahaan Amerika ini terus menelan korban penduduk sipil. Eks karyawan Freeport yang pernah dipecat dan kini kembali menduduki jabatan penting dalam internal Freeport kembali mengarahkan konflik rakyat Papua yang berada di kampung Banti dan Kimberli Tembagapura Freeport Papua. Tak ada salahnya jika Front Persatuan Perjuangan Rakyat Papua Barat telah menduga bahwa keterlibatan Freeport dalam konflik hari ini ada benarnya. Disatu sisi penduduk kampung yang juga berada dalam areal konsensi FI ini selalu saja diperhadapkan dalam situasi yang tidak nyaman. Distribusi emas dan tembaga bagi Freeport lebih diutamakan daripada masyarakat yang berada disana. Freeport Indonesia dalam eksplorasinya selama di Papua, turut andil dalam menyumbang beragam konflik baik di wilayah Timika, daerah pegunungan tengah Papua bahkan seantero Papua. Agen-agen Freeport yang merebak di seantero Indonesia sampai jakarta membuat raksasa pencundang emas ini tiada hentinya merekonstruksi konflik. Peristiwa berdarah dalam lumbung kekayaan emas dunia tidak begitu menjadi perhatian serius Indonesia. Mulai dari konflik kekerasan militer yang digalang Freeport hingga peran militer Indonesia dalam menjaga aset asing tersebut tidaklah membuat suatu perubahan semesta bagi keberpihakan neokolonialis Jakarta terhadap orang Papua. Tidak lama dari konflik berdarah di Kawamki-Agustus 2007, Bentrok Brimob Kelapa dua dan Angkatan Darat di mimika kini nerebak konflik antar suku kembali terjadi. Polemik perang suku tak begitu datang sendirinya. Selang perdebatan elite suku untuk memposisikan diri dan kelompok tertentu yang terjadi awal bulan ini, perbincangan serius tentang hak suku maupun kelompok dalam realisasi dana satu persen Freeport memicu kondisi Timika yang kian panas. Rasa tersinggungpun datang dari usaha-usaha merebut kedudukan di Freeport. Perang Suku demi Mendapat Jabatan di Freeport??? Persaingan kursi dalam posisi penting di Freeport beberapa bulan terakhir gencar digalang oleh individu-individu yang selama ini bercokol dalam lahan freeport. Keberadaan freeport terbukti tidak hanya membuat ketengan antara korps tentara namun fakta hari ini selama puluhan tahun terakhir perebutan antar suku soal hak atas kekuasaan terus berlaku tiada hentinya. Aparat pemerintah, militer maupun masyarakat adat tidak menyadari dirinya adalah korban freeport, sejengkal tanah yang kaya hanyalah menjadi tumpah darah dengan begitu saja dan berlalu tanpa akhir. Oknum eks Freeport yang sekarang hendak aktif kembali terus melakukan berbagai cara dan upaya untuk bergaining atas segala kekuasaan suku dan kelompok. Proyek semacam ini sudah menjadi tradisi dikalangan masyarakat baik buruh maupun masyarakat Tambang entah sekarang di Papua, begitu juga di daerah lain dimana beroperasinya tambang. Sejarah merebut kursi di Freeport bukan hanya terjadi sekarang. Suharto ditahun 1967 nekad menjamin Freeport ke Papua dengan mengatasnamakan rakyat Papua, mengorbankan orang Papua dalam suatu mekanisme demokrasi dalam PEPERA tahun 1969, mengorbankan rakyat Indonesia dimana UUPMA telah gagal menjamin kemakmuran sekarang. Pimpinan Kopassus Prabowo peratruhkan korpsnya untuk melakukan beragam operasi-operasi sapu bersih di areal freeport guna keamanan freeport. Stigma Gerombolan dan separatis pemicu proyek freeport kepada tentara Indonesia mengalir deras. Para letnan dan Jenderal Indonesia memandang gunung grasberg sebagai tempat pemujaan harta dan jaminan seumur hidup. Awatak whot's Dog "anjing penjaga modal" kemudian menempel pada prajurit Indonesia yang berpatroli di sepanjang mile Freeport begitu juga nama yang identik juga sama diembankan oleh kalangan agen freeport.

