From: Farida Wardhani
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Menjelang Kongres Cerpen ke-5 di Banjarmasin nanti, Saut Situmorang (SS)
mengedarkan paparannya tentang politik kanonisasi sastra. Saya hargai paparan
itu, sebab tidak maki-maki melulu seperti biasanya. Dasar pandangannya bagus,
meskipun masih banyak fakta yang dia sebut harus diklarifikasi. Akan tetapi
lumayanlah untuk bahan diskusi, dan semoga
tidak dengan gaya panas-panasan lagi.
Saya hanya mau menyinggung soal penamaan "Paus Sastra" terhadap almarhum H.B.
Jassin. Ini mungkin dapat membantu kita semua mempelajari sejarah sastra
sendiri. Seorang rekan pernah mengatakan kepada saya bahwa sebutan itu dimulai
oleh sastrawan Gayus Siagian, mungkin di tahun 1956. Akan tetapi nadanya untuk
mengejek, bukan untuk
memuja-muja.
Saya berharap ada teman yang punya bahan untuk membantah atau membenarkan
fakta sejarah itu.
Saya teringat akan satu bagian dari surat Goenawan Mohamad (GM) kepada perupa
Tita Rubi yang dipostingkan dalam milis ACI belum lama berselang. Mengenai
kedudukan Jassin dan Teeuw sebagai kritikus.
Di sini saya tampilkan kembali, kata GM:
"Di awal 1970 saya pernah berpolemik sebentar dengan Wiratmo Sukito, yang
mengeluhkan tidak adanya "kewibawaan kritik". Menurut saya, justru itu yang
tidak kita perlukan....
Sayangnya, dalam sastra kita sudah terbiasa dengan memusatkan perhatian kepada
H.B. Jassin dan A. Teeuw. Mereka berdua tampak seperti guru sekolah tempat
kita mengirimkan karangan untuk dinilai atau bahkan seperti jawatan tera.
Dengan anggapan begitu, bila Jassin atau Teeuw tidak membahas tentang si A atau
si B, kita pun protes, seakan-akan ketidak-adilan sedang terjadi: "Wahai,
kenapa saya tidak dapat cap sebagai 'sastrawan'"?
Sungguh "pathetic". Padahal jika kita memandang Jassin dan Teeuw hanya
sebagai peserta (atau elemen) dalam percakapan sastra, kita bisa lebih
enteng melihat mereka: jangan-jangan Teeuw hanya membicarakan
Pramoedya dan tidak membicarakan Agam Wispi, misalnya, karena ia
merasa lebih cocok atau lebih paham tentang Pram. Itu saja. Teeuw toh
tak pernah mengklaim piluhannya "obyektif" atau "paling sah".
Maka kita salah bila kita menganggap Jassin atau Teuw sebagai "biang"
ketidak-adilan, ketimpangan, atau distorsi dalam sastra. Itu sama
halnya dengan meletakkan mereka sebagai Paus yang dulu mentahbiskan
raja-raja, atau Raja yang dulu mengangkat seseorang jadi ksatria. Pada
akhirnya, kita akan tahu, "dominasi" mereka itu cuma takhayul kita.
Bagaimanapun, dalam kehidupan seni, selalu ada gerak ke arah apa yang
pernah disebut di tahun 1960-an sebagai "demokratisasi jenius" -- pemakzulan
kanon dan pusat penilaian, seperti yang sebelumnya dilakukan Duchamp -- juga
berjangkitnya pluralitas "titik" penilaian ke pelbagai penjuru. Tapi dalam pada
itu juga tak tercegah terjadinya gerak "seleksi ke atas", yang akhirnya membuat
karya Duchamp (dan bukan sembarang tempat pipis) jadi kanon dan masuk Tate
Modern di London. Itu semua menunjukkan percakapan tak kunjung berhenti dan
represi, dominasi atau arogansi apapun tak akan menghentikannya.."
Mudah-mudahan posting saya ini menambah cerahnya tukar menukar pendapat.
Farida Wardhani.
e-mail: [EMAIL PROTECTED]
blog: http://mediacare.blogspot.com
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]