----- Original Message ----- 
  From: Wahyono Noviantoro (CIPUK) 
  To: [EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Monday, October 22, 2007 7:56 AM
  Subject: [NaratamaTV] Rating Palsu ACNielsen



  Wah, penulis artikel di bawah ini menurut saya meragukan.



  Dia bilang sudah 6 tahun kerja di Nielsen, tapi menyebutkan nama perusahaan 
tempat dia kerja saja sudah salah. Yang saya tahu, kalau betul orang ini kerja 
disana selama 6 tahun, nama perusahaannya sudah bukan ACNielsen Indonesia lagi 
tapi sudah AGB Nielsen Media Research (AGB NMR), dan ini ditekankan betul oleh 
pihak AGB NMR.



  Walaupun sudah 1 tahun terakhir tidak lagi bergelut dengan data AGB NMR, tapi 
saya pernah berkunjung ke salah satu panel dari AGB NMR, menurut saya mereka 
punya pekerjaan kok, wong punya pesawat TV dan untuk yang golongan SES A 
rata-rata pesawat TV nya lebih dari satu.



  Diluar saya setuju bahwa sebagian program (tidak semuanya) televisi memang 
tidak layak pirsa (ini istilah saya untuk program yang tidak baik), saya 
sebagai konsumen data dari AGB NMR selama lebih dari 15 tahun, memang sering 
protes ke AGB NMR tentang data-datanya, tapi apa yang ditulis di bawah ini 
menurut saya terlalu berlebihan, dan ini bukan bermaksud membela, tapi apa 
adanya saja.



  Ini mirip kasus dengan ’mantan’ karyawan AGB NMR yang menjadi narasumber dari 
salah satu episode dari program Republik Mimpi (dalam program tersebut disebut 
sebagai mantan karyawan perusahaan rating). Dimana setelah saya konfirmasi ke 
AGB NMR ternyata adalah karyawan kontrak yang diputus kontraknya karena 
melakukan kesalahan prosedur kerja.



  Di milis ini kan ada PR dari AGB NMR, coba dong tolong diklarifikasi artikel 
ini.



  Terima kasih.





  CiPuK

  (lagi belajar sebagai pengamat dan konsultan program televisi)







  ----- Original Message ----- 
  From: annafora_leysus 
  To: [EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Sunday, October 21, 2007 1:10 AM
  Subject: [pantau-komunitas] Rating Palsu AC Nielsen

  10 Okt 2007

  RATING PALSU

  Ibaratnya sebuah hakim , rating adalah kata penentu kemenangan atau kekalahan 
dalam dunia pertelevisian di Indonesia. Hidup atau matinya
  sebuah program televisi sangat tergantung oleh angka rating yang bagus. Kalau 
sebuah program televisi mendapat rating yang tinggi, maka dapat
  diasumsikan akan ada banyak pendapatan dari iklan yang akan masuk ke televisi 
tersebut. Namun sebaliknya bila rating sebuah program turun,
  televisi tersebut kehilangan pemasukan iklan.

  Dengan demikian rating adalah TUHAN bagi para pekerja televisi. Mereka rela 
berjumpalitan kerja siang malam demi memperoleh angka rating
  tersebut. Di Indonesia ,SATU- SATUNYA jasa penyedia rating adalah AC nielsen, 
perusahaan dari Amerika ini praktis menjadi tumpuan utama atau
  MONOPOLI bagi semua stasiun televisi , biro iklan dan semua produsen pemasang 
iklan.

  Selama 14 tahun terakhir ini AC Nielsen juga selalu berhasil menampik semua 
tudingan yang mempertanyakan keabsahan penelitiannya, maupun
  validitas data responden yang telah ditebarnya. Namun sebenarnya jaminan mutu 
internasional itu hanyalah lip servis semata. Kenyataannya sungguh
  jauh dari tampilan make up luarnya.

  Yang pertama AC Nielsen Indonesia tidak memiliki tenaga handal profesional 
yang direkrut dari luar negeri demi menjaga kerahasiaan
  sistem mereka, seperti yang selalu diklaimnya. AC Nielsen Indonesia yang 
sekarang banyak ditangani oleh para pekerja Indonesia , yang sebagian
  besar dari mereka adalah fresh graduated ( sebagian besar adalah lulusan 
statistik dan matematika ). Sehingga kerahasiaan sistem mereka
  sebenarnya tidak benar- benar seperti benda suci yang selalu mereka jaga 
kerahasiaannya. Mereka banyak merekrut tenaga dari dalam negeri dengan
  anggapan bahwa tenaga dari Indonesia adalah jauh lebih murah dibanding 
mempekerjakan tenaga dari negara mereka yang sudah berpengalaman. Bahkan
  Hampir setengah dari tenaga lapangan AC Nielsen adalah para mahasiswa yang 
belum lulus dengan hitungan tenaga magang. Sehingga dengan tujuan
  efisiensi pada sumber daya manusia , mereka dapat lebih banyak mendapat 
keuntungan.

  Yang Kedua dengan banyak merekrut tenaga kerja baru lulus kuliah dan 
mahasiswa magang, AC Nielsen banyak memberikan toleransi kesalahan data.
  Terutama data- data yang ada di lapangan. Sering sekali saya alami 
penyimpangan data terjadi hanya karena keteledoran SDM semata- mata.

  Yang Ketiga Untuk pemilihan demografis responden rating televisi cenderung 
dilakukan dengan asal - asalan. Dan tidak diusahakan
  pemerataan pada sebaran datanya Misalnya , untuk mengetahui berapa 
kecendrungan pemirsa untuk tayangan televisi A, mesti diambil jumlah
  responden yang seimbang misalnya untuk kelas ekonomi atas 33,3%, kelas 
ekonomi menengah 33,3 %, untuk kelas ekonomi bawah 33,3%, sehingga total
  100%. Sehingga angka rating yg didapat adalah lebih obyektif. Namun pada 
prakteknya , AC Nielsen Indonesia banyak mengambil data responden
  sebagian besar dari kelas ekonomi rendah. Profil mereka sebagian besar adalah 
: ekonomi kelas rendah, berpendidikan rendah, tidak mempunyai
  pekerjaan, bekerja sebagai pembantu rumah tangga, pedagang kaki lima, 
karyawan toko, buruh pabrik, dan lain- lain. Hal ini menjelaskan mengapa
  sebagian besar tayangan televisi nasional yang memiliki rating tinggi justru 
yang memiliki cita rasa rendah dan apresiasi seni yang rendah.
  Seperti musik dangdut, tayangan gosip artis, tayangan mistik, film- film 
hantu, dan sinetron - sinetron picisan.

  Tayangan -tayangan televisi yang justru bersifat mendidik dan mencerdaskan 
akan selalu mendapat nilai rating yang rendah dari AC
  Nielsen.  Kebijakan ini diambil AC Nielsen karena ia tidak mau membayar uang 
imbalan untuk respondennya.  Sehingga responden yang diambil adalah
  kebanyakan dari kaum ekonomi bawah agar bisa dibayar murah.

  Yang Keempat Untuk pemilihan responden secara geografis juga dilakukan dengan 
tidak merata. Sebaran data yang diambilnya tidak pernah dilakukan
  dengan distribusi yang sama rata secara nasional, melainkan sekitar lebih 
dari 60% datanya hanya terkumpul dari Jakarta saja.

  Yang Kelima sebagai imbalan ( honor ), responden rating hanya mendapat 
souvernir senilai Rp 30,000 s/d Rp 50,000,- saja per bulannya. Sehingga
  responden cenderung ogah- ogahan untuk menjaga integritasnya.

  Yang Keenam Idealnya sebuah keluarga atau sebuah rumah yang menjadi responden 
televisi menjadi reponden selama 6 bulan saja atau maksimal
  selama 1 tahun. Setelah itu AC Nielsen harus mencari responden baru. Secara 
statistik hal itu perlu dilakukan demi menjaga obyektifitas data.
  Agar secara psikologis , mood responden tidak mempengaruhi data selanjutnya. 
Namun pada kenyataannya, seorang responden kebanyakan bisa
  menjadi responden selama 7 TAHUN LEBIH. Untuk hal ini adalah murni 
dikarenakan kemalasan dari manajemen AC Nielsen untuk melakukan
  pemeriksaan ke lapangan.

  Yang Ketujuh para responden rating AC Nielsen sama sekali tidak mempunyai 
integritas. Dengan demikian , beberapa oknum televisi beserta
  oknum AC Nielsen dapat memberikan "pesanan" kepada ratusan responden 
sekaligus agar "memanteng " program televisi tertentu,
  agar hitungan rating program tersebut menjadi tinggi. Biasanya jumlah yang 
diajak adalah sekitar 100 s/d 700 orang dari total 3,500 responden.
  dengan 700 orang berarti program tersebut diharapkan sudah memegang rating 
1/5 dari total rating. Biasanya tiap satu kali
  "memanteng" ( demikian sebutannya ) tiap responden meminta bayaran Rp 
100,000,-. Sehingga dengan 700 orang x Rp 100,000,-, oknum
  pihak televisi tersebut hanya mengeluarkan uang Rp 70,000,000 saja per satu 
kali "manteng". Dengan begitu angka rating dapat
  dimanipulasi dengan mengeluarkan biaya yang relatif murah sebenarnya bagi 
para stasiun televisi.

  PENUTUP

  Demikianlah sebersit informasi dari saya sekitar rating. Karena memang 
sebagai karyawan yang sudah bekerja 6 tahun disana ( AC Nielsen ) ,
  sudah banyak orang yang bertanya- tanya pada saya mengenai bagaimana cara 
rating itu bekerja, atau adakah penyimpangan didalamnya ? Dan juga
  karena termotivasi melihat begitu banyaknya para pekerja televisi yang sangat 
gigih dalam pekerjaan mereka, yang padahal selama ini para
  pekerja televisi tersebut tidak mengejar apapun melainkan hanya RATING PALSU 
!!!

  Saya menjadi tidak tega melihat jahatnya skandal dan penipuan yang dilakukan 
orang- orang didalam AC Nielsen. Secara organisasi itu sendiri
  sebenarnya ia cukup baik sebagai barometer dunia pertelevisian kita agar 
semakin maju dan menghasilkan tayangan- tayangan yang berkualitas. Bagi
  ANDA yang sudah menerima pesan ini, tolonglah disebarkan terutama apabila 
anda mempunya teman, saudara, keluarga ataupun rekan kerja yang
  bekerja di televisi, biro iklan, dan media lainnya agar mereka tahu kebenaran 
dari apa yang mereka usahakan selama ini !!!

  Salam dari Saya , Steven Sterk ( nama samaran )



  No virus found in this outgoing message.
  Checked by AVG Free Edition.
  Version: 7.5.488 / Virus Database: 269.14.12/1072 - Release Date: 10/15/2007 
5:55 PM



   


------------------------------------------------------------------------------


  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG Free Edition. 
  Version: 7.5.488 / Virus Database: 269.15.3/1082 - Release Date: 20/10/2007 
14:59


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke