http://www.mediaindonesia.com/berita.asp?id=146655


*Stok Obat Bius Habis, RS di Gaza Hentikan Operasi*

GAZA CITY--MEDIA: Rumah sakit di seluruh *Jalur Gaza* menutup ruang operasi
mereka akibat kekurangan obat bius penting.

Khaled Radi, jurubicara bagi Kementerian Kesehatan, pimpinan HAMAS,
mengatakan satu perusahaan penengah telah memberitahu mereka bahwa Israel
tak mengizinkan pengiriman nitrous oxide, yang digunakan sebagai pembius
dalam operasi bedah.

"Mulanya tersedia simpanan 44 silinder, dan 42 di antaranya telah digunakan
sejauh ini. Kami telah mulai menggunakan sisa dua silinder lagi sejak Kamis,
dan obat itu akan habis setiap saat," kata Radi, Senin (22/10).

Namun, jurubicara militer Israel menyatakan negara Yahudi tersebut "akan
mengizinkan pasokan medis".

"Besok nitrous oxide akan dikirim ke Jalur Gaza," kata Shadi Yassin

dari badan koordinasi Israel yang bertanggung jawab atas Jalur Gaza, Minggu
(21/10).

Ia menyalahkan para pejabat kesehatan di daerah kantung itu karena "tak
memberitahu Israel mengenai kekurangan tersebut sebelumnya".

Kementerian tersebut telah mengirim seruan mendesak kepada beberapa
organisasi agar campur-tangan, termasuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO),
dan memperingatkan bahwa ribuan pasien menghadapi bahaya.

Radi menuduh Israel melanggar hukum internasional dengan mengancam nyawa
banyak pasien.

Israel menyatakan Jalur Gaza sebagai "daerah yang bermusuhan" bulan lalu,
suatu reaksi atas pengambil-alihan dengan menggunakan kekerasan atas wilayah
itu oleh Gerakan Perlawanan Islam (HAMAS) dan kegagalannya untuk
menghentikan serangan roket yang terjadi setiap hari dari daerah tersebut ke
arah desa dan kota kecil di Israel selatan.

Sejak itu, Israel telah meningkatkan penutupan atas jalur tersebut.

Antara 12 dan 17 Oktober, Israel mengizinkan pengiriman 114 orang yang
sangat memerlukan perawatan medis di Israel di luar Jalur Gaza, kata
Kementerian Kesehatan. Tetapi Tel Aviv mencegah pengiriman 30 pasien lain,
dengan alasan keamanan.

Dalam suatu laporan yang disiarkan Sabtu, Human Rights Watch menyatakan tiga
pasien di Jalur Gaza telah meninggal karena mereka tak diberi izin oleh
Israel untuk keluar wilayah tersebut, sementara pasien lain telah kehilangan
anggota tubuh atau penglihatan.

Organisasi non-pemerintah itu menuduh dinas rahasia dalam negeri Israel,
Shin Bet, memberi izin dengan dasar sewenang-wenang, dan Israel menghukum
warga sipil yang sakit sebagai cara untuk melukai HAMAS.

(Ant/DPA/OL-03)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke