Uskup di Mesir Ingin Doakan Umat Islam, Picu Kontroversi Kalangan Kristen 
Koptik  Senin, 22 Okt 07 17:32 WIB
   
  Inisiatif seorang Uskup Kristen Koptik di Mesir untuk mendoakan umat Islam 
dan Nabi Muhammad Saw dalam setiap misanya, menimbulkan perdebatan di kalangan 
penganut Kristen Ortodok di negeri Piramida itu.
   
  Para penganut Kristen Koptik di Mesir ada yang menilai inisiatif uskup itu 
sebagai bentuk kemunafikan dan tidak masuk akal. Sementara Uskup Maximus I, 
pendiri dari Yayasan St Athanasius yang berpusat di distrik Muqattam, sebelah 
Timur Kairo, bersikeras bahwa sebagai uskup, ia berhak untuk menentukan 
keputusan itu.
   
  "Sekarang, saya memimpin keuskupan, saya punya hak untuk menambahkan doa bagi 
umat Islam dalam misa. Kita biasanya memanjatkan doa untuk berbagai 
hal-keuskupan dan para uskup, tanah air, dan sebagainya. Dan saya memutuskan 
untuk menyisipkan doa untuk umat Islam di negeri ini, " tukas Uskup Maximus I.
   
  Menurutnya, ia melakukan inisiatif itu sebagai bentuk pengakuan bahwa ajaran 
Kristen mengakui keberadaan umat Islam, seperti juga Islam mengakui keberadaan 
umat Kristiani.
   
  "Saya ingin menjembatani jurang pemisah ini dan ingin membentuk ikatan yang 
kuat antara umat Kristiania dan Muslim di seluruh dunia, " ujarnya.
  Namun Maximus I mengatakan, pengakuan itu hanya sebatas pengakuan dalam level 
budaya dan sosial, bukan dalam level keagamaan. Alasannya, "Mengakui satu agama 
artinya menghilangkan agama lainnya dan hanya ada satu doktrin untuk setiap 
umat manusia, " tandasnya.
  Ia mengatakan, hal ini terjadi hampir di semua keyakinan, bukan hanya antara 
Muslim dan umat Kristiani, tapi juga antara Kristen Ortodoks dan Protestan, 
serta Sunni dan Syiah.
   
  Maximus I lalu bercerita tentang pengalamannya saat melakukan perjalanan ke 
Beirut. Di pesawat, ia duduk bersebelahan dengan tiga da'i dari muslim dari 
Nigeria. "Kami mulai ngobrol, pada awalnya saya tidak tahu kalau mereka adalah 
da'i. Saya katakan pada mereka, bahwa agama Kristen mengajarkan cinta dan kasih 
sayang. Salah seorang di antara mereka mendengarkan saya dengan penuh 
perhatian, lalu bertanya, 'setelah pembicaraan panjang tentang cinta, apakah 
Anda mencintai Muhammad?'" tutur Maximus I.
   
  "Mendengar pertanyaan itu, saya menemukan diri saya dihadapkan pada sebuah 
konflik batin yang kuat. Saya tidak bisa mengatakan 'ya' karena secara tidak 
sadar terbebani oleh warisan sektarianisme. Di sisi lain, menjawab 'tidak' 
menunjukkan hal yang negatif dan tidak sesuai dengan apa yang telah saya 
katakan tentang ajaran Kristen. Saya merasa malu sendiri, " lanjut Uskup 
Maximus I.
   
  Ia mengaku kecewa dengan reaksinya sendiri. "Saya merasa kecewa dengan 
kredibilitas dan keotentikan agama saya serta makna 'cinta' yang selama ini 
saya yakini. Saya berlutut di hadapan Tuhan dan berdoa dengan khusyuk agar 
dilepaskan dari warisan sektarianisme dan kebencian ini, dan semoga hati saya 
dipenuhi dengan cinta untuk semua umat Islam dan Nabi (Nabi Muhammad Saw) 
mereka, " demikian pengakuan Maximu I.
   
  "Dan Tuhan menjawab doa saya. Ini sebuah keajaiban, " tandasnya.
  Sementara itu, anggota Coptic Orthodox Ecumenical Council, Pastor Salib Matta 
Sawiris menilai alasan yang dikemukan Uskup Maximus I tidak masuk akal. Sawiris 
tidak mau mengakui keuskupan Maximus I dan tidak merasa telah menunjuk Maximus 
sebagai uskup yang mewakili penganut Kristen Koptik di Mesir.
   
  "Dia tidak punya hak untuk mengubah apapun. Misa dalam Kristen Ortodoks harus 
mengikuti cara yang sudah dilakukan sejak 2. 000 tahun yang lalu, bahkan 
sebelum Islam masuk ke Mesir, " kata Sawiris.
  Ia melanjutkan, "Dia (Maximus I) akan lenyap seperti semua orang-orang yang 
menyimpang dalam sejarah Kristen. Sejarahnya akan berakhir di tempat sampah. "
   
  Sawiris mengingatkan, apa yang dilakukan Maximus I bisa memicu ketegangan 
sektarian antara umat Islam dan Kristiani. Ia mendesak agar masalah kasus 
Maximus I dimejahijaukan.
   
  "Kenapa dia tidak masuk Islam saja, " tukas Sawiris.
  Menurut Sawiris, saat misa mereka mendoakan semua umat manusia tanpa harus 
menyebut secara spesifik sekte atau agamanya. "Kami bahkan mendoakan 
musuh-musuh kami, untuk menunjukkan bahwa kami tidak melakukan diskriminasi, " 
tandasnya. (ln/alarby)
   

 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke