http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=311088&kat_id=248


*Muslim Indonesia Kini Lebih Terbuka Terhadap Sekularisasi politik*

*Brisbane-RoL--*  Dr. Luthfi Assyaukani, peneliti Indonesia yang menang
"Chancellor's Prize" (Hadiah Rektor) Universitas Melbourne (UM), membuktikan
umat Islam Indonesia saat ini lebih terbuka dan bersikap positif terhadap
sekularisasi politik dibandingkan empat tahun lalu.

Sikap umat Islam yang semakin terbuka dan positif terhadap sekularisasi
politik itu merupakan bagian dari temuan Assyaukani dalam disertasi
doktornya di UM yang pada Selasa menjadi salah satu dari empat disertasi
lulusan program doktor UM yang menerima penghargaan bergengsi rektor
universitas itu.

Informasi yang dihimpun *Antara* dari UM menyebutkan, Assyaukani mendapati
sikap umat Islam Indonesia yang cenderung lebih sekuler dari sebelumnya itu
antara lain terjadi di level politik, terutama terkait dengan partai-partai
politik dan basis negara.

Disertasi yang menggali perkembangan pemikiran Islam di Indonesia dan
bagaimana respons umat Islam terhadap konsep-konsep politik modern seperti
demokrasi, kebebasan dan sekularisme itu memfokuskan kajiannya pada tiga
generasi Muslim di negara itu.

Dengan disertasinya yang terpilih sebagai yang terbaik di bidang humaniora
dan seni kreatif UM, Assyaukani menjadi mahasiswa asing pertama UM yang
menang "Chancellor's Prize".  Disertasi Assyaukani tentang Islam dan politik
di Indonesia itu merupakan salah satu dari empat disertasi terbaik di antara
hampir 500 disertasi yang diserahkan para mahasiswa program doktor UM tahun
lalu.

Karya peneliti yang bekerja di "Freedom Institute" Jakarta dan sedang
merampungkan kegiatannya di Universitas Teknologi Nanyang (NTU) Singapura
itu dinilai pantas meraih hadiah bergengsi tersebut karena sumbangannya yang
sangat signifikan bagi perkembangan literatur tentang Islam dan politik di
Indonesia.

Seorang penguji disertasi Assyaukani bahkan mengaku bahwa pandangannya
berubah setelah membaca tesis tersebut dan ia berkeyakinan karya Assyaukani
akan memberikan dampak besar pada perdebatan tentang hubungan antara agama
(Islam) dan politik yang kini berkembang.

Assyaukani menyelesaikan studi magister dan doktoral di UM selama empat
tahun. Dia dibimbing oleh Prof. Merle Ricklefs, Abdullah Saaed dan Arief
Budiman. Hadiah bergengsi UM itu diberikan sejak tahun 1998 kepada para
lulusan program doktor yang menghasilkan karya penelitian terbaik.

Selain Assyaukani, tiga lulusan program doktor UM yang menerima hadiah
bergengsi itu adalah Dr John Papandriopoulos yang berhasil mengembangkan
teknologi yang membuat "broadband" seratus kali lebih cepat dari yang ada
sekarang dengan biaya investasi yang mahal.

Seterusnya, James Ryall, peneliti fisiologi UM yang menekuni riset tentang
penggunaan obat-obatan anti asma untuk mencegah keburukan otot akibat
penuaan usia, serta Gaye Williams, peneliti bidang pendidikan yang melakukan
studi inovatif tentang tentang pemikiran cerdas siswa di kelas-kelas
matematika.

Universitas Melbourne merupakan salah satu dari delapan universitas riset
terkemuka di Australia di samping Universitas Queensland, Universitas
Sydney, Universitas Adelaide, Universitas Nasional Australia, Universitas
Monash, Universitas New South Wales dan Universitas Australia Barat. *
antara/**mim*


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke