Ya aku bulan lalu ke Padang. Anak-anak Kresten dan non muslim lainnya yang 
menimba ilmu di sekolah negeri wajib berjilbab tuh. Tidak ada perkecualian. 
Mereka tidak boleh protes, mereka tidak boleh mengeluh.

Mungkin pantesnya bukan diberi penghargaan Tokoh Tempo, tapi Tokoh Islam 2008

  ----- Original Message ----- 
  From: A Nizami 
  To: [email protected] 
  Sent: Thursday, October 25, 2007 12:03 PM
  Subject: Harusnya Jadi Capres - Re: [ppiindia] Gamawan Fauzi - Penerima Bung 
Hatta Award 2004 - Re: Fwd:TOKOH TEMPO 2007


  Jika sudah bersih/tidak korupsi dan punya prestasi bagus dalam 
mensejahterakan rakyatnya, Gamawan harusnya dicalonkan jadi calon presiden.

  ===
  Ingin belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits?
  Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

  ----- Original Message ----
  From: IrwanK <[EMAIL PROTECTED]>
  To: [email protected]
  Cc: [EMAIL PROTECTED]
  Sent: Thursday, October 25, 2007 11:34:51 AM
  Subject: [ppiindia] Gamawan Fauzi - Penerima Bung Hatta Award 2004 - Re: 
Fwd:TOKOH TEMPO 2007

  Usul nih bos.. :D

  Quote:
  "..
  Dia seorang pejabat yang konsisten menegakkan aturan dan tidak korupsi.
  .."

  Wassalam,

  Irwan.K

  ---------------
  http://www.tokohindonesia.com/ ensiklopedi/g/gamawan-fauzi/index.shtml

  Nama:
  Gamawan Fauzi, SH, MM
  Lahir:
  9 November 1957
  Agama:
  Islam
  Isteri:
  Vita Nova (Menikah 12 Oktober 1984)
  Anak:
  = Idola Prima Gita (19), mahasiswi di Padang
  = Gina Dwi Fachria (17), pelajar SMA
  = Gian Gufran (13), pelajar kelas III SMP negeri di Padang.
  Ayah:
  Haji Dahlan Saleh Datuak Bandaro (almarhum)
  Ibu:
  Hajjah Syofiah Amin (75),
  Pendidikan:
  Lulusan Fakultas Hukum Universitas Andalas Padang tahun 1982
  Karier:
  = Staf biasa di Kantor Direktorat Sosial Politik (Ditsospol) Pemerintah
  Provinsi (Pemprov) Sumatera Barat
  = Sekretaris pribadi Gubernur Sumbar
  = Kepala Biro Humas Pemprov Sumbar
  = Bupati Solok 1995-2000 <javascript:void(0)> <javascript: void(0)> dan
  2000-2005 <javascript:void(0)><javascrip t:void(0) >

  Sumber:
  Kompas Minggu, 10 Oktober 2004
  Pewawancara:
  Ahmad Zulkani
  Yurnaldi

  --------

  Gamawan Fauzi
  Penerima Bung Hatta Award 2004

  Gubernur Sumatera Barat penerima Bung Hatta Award 2004, saat menjabat
  Bupati
  Solok. Dia seorang pejabat yang konsisten menegakkan aturan dan tidak
  korupsi.
  Namun, dia sendiri merasa penghargaan itu sangat berat dan mungkin saja
  belum
  pantas. Lulusan FH Universitas Andalas Padang (1982) itu menapak karier
  mulai
  dari staf biasa di Kantor Ditsospol Pemprov Sumatera Barat.

  Setelah sempat sebagai sekretaris pribadi Gubernur Sumbar, secara
  mengejutkan dalam usia 36 tahun ia dipercaya sebagai Kepala Biro Humas
  Pemprov Sumbar. Dianggap mengejutkan karena pada era itu tak lazim,
  seorang
  staf dan pegawai negeri sipil (PNS) yang golongannya III C menjabat
  kepala
  biro yang biasanya posisi ini diisi pejabat bergolongan IV A atau III D
  senior.

  Namun, baru satu setengah tahun sebagai kepala biro humas, pada 2
  Agustus
  1995 Gamawan Fauzi terpilih menjadi Bupati Solok. Komitmen dan
  konsistensinya dalam menegakkan aturan dan antikorupsi membuat ayah
  tiga
  putra-putri ini bisa mulus melewati eforia reformasi sehingga pada 20
  Agustus 2000 secara demokratis terpilih kembali memangku jabatan Bupati
  Solok periode kedua.

  "Jujur saya katakan, tak ada satu sen pun saya keluar uang untuk meraih
  jabatan kedua kali sebagai Bupati Solok. Silakan tanya anggota DPRD
  yang
  memilih saya. Sejak awal masa jabatan sampai era reformasi sekarang,
  alhamdulillah tak sekalipun saya didatangi para pengunjuk rasa,
  demonstran,
  atau orang-orang yang memprotes kebijakan saya," kata Gamawan.

  Gamawan Fauzi yang menikah dengan Vita Nova, 12 Oktober 1984,
  dikaruniai
  tiga anak masing-masing Idola Prima Gita (19), mahasiswi di Padang;
  Gina Dwi
  Fachria (17), pelajar SMA; dan satu-satunya anak lelaki Gian Gufran
  (13),
  pelajar kelas III SMP negeri di Padang.

  Ia mengaku sejak dari awal sudah mewanti-wanti dan mendidik untuk hidup
  sederhana, memakan dan menikmati apa yang menjadi hak dan yang halal.

  "Istri saya itu anak seorang pejabat tinggi di Sumatera Barat. Ke
  mana-mana,
  misalnya kuliah, ia diantar mobil sendiri dengan sopir pribadi.
  Pokoknya,
  dia itu anak orang terpandang yang saat itu sudah hidup berkecukupan.
  Saya
  mungkin tergolong nekat karena sehari setelah menikah saya langsung
  boyong
  istri ke rumah kontrakan. Tidak itu saja, saya pun biasakan dia
  membonceng
  dengan sepeda motor ke mana-mana karena memang itu yang saya punya.
  Tetapi,
  akhirnya semua jadi terbiasa sampai sekarang," kata Gamawan.

  Tiga anaknya juga dibentuk seperti itu. Dari awal, ia sudah ingatkan
  bahwa
  jabatan bupati yang diembannya hanya titipan sementara. Kapan pun, ini
  akan
  berakhir.

  "Ternyata anak-anak saya juga merasa biasa-biasa saja. Biar Bapaknya
  jadi
  bupati, dapat penghargaan dan lainnya, hidup dan keseharian mereka
  tidak ada
  beda dengan anak-anak yang lain. Jajannya di sekolah tak beda dengan
  anak
  temannya. Sama kok, lihat saja Idola Prima Gita, jajannya Rp 6.000
  sehari,
  Gina Dwi Fachria dapat sangu Rp 5.000 sehari, dan si bungsu Gian Gufran
  Rp
  3.000 per hari".

  Begitu pula kekuarga yang lain. Orangtuanya, ayah Haji Dahlan Saleh
  Datuak
  Bandaro (almarhum) dan ibu Hajjah Syofiah Amin (75), selama ini selalu
  berperan sebagai "pengawas" atau "inspektur" yang paling tegas. Karena
  ayahnya sudah meninggal, ibunya mengambil alih peran "inspektorat"
  tersebut,
  tetap mengawasi dan mengingatkan agar selalu ingat Tuhan, peduli dengan
  sesama, serta tidak bertindak dan mengeluarkan kebijakan yang
  bertentangan
  dengan kehendak rakyat.

  Ketika ia terpilih untuk kedua kali jadi Bupati Solok tahun 2000 dan
  juga
  waktu mendapat penghargaan Bung Hatta Award, ibunya mengingatkan agar
  sujud
  syukur. Berdoa agar selalu dilindungi Allah, juga tidak sombong dan
  takabur
  serta hanya memakan rezeki yang halal, bukan hidup dengan mengambil hak
  orang lain. Ibunya selalu mengingatkan ini.

  Sampai kini ia hanya punya satu mobil pribadi, jenis sedan keluaran
  tahun
  1995. Mobil ini pun bukan beli baru, tetapi hasil lelang mobil dinas
  Pemkab
  Solok yang di-dump dengan persetujuan DPRD. "Saya tidak punya yang
  lain.
  Silakan cek ke siapa saja, termasuk ke pejabat Pemkab Solok dan DPRD,"
  katanya.

  Terus terang, soal kendaraan ini ia tetap merasa bukanlah pejabat yang
  betul-betul sudah menjalankan aturan dengan benar, termasuk setelah
  menerima
  Bung Hatta Award yang lalu. "Buktinya, kalau ke kondangan atau
  berkunjung ke
  tempat keluarga, saya masih memakai mobil dinas. Padahal, itu kan
  sebetulnya
  urusan pribadi bukan dinas sebagai bupati. Jadi, kalau saya dikatakan
  bupati
  yang taat aturan, jujur atau apa pun namanya, saya rasa tidak juga.
  Lihat
  saja soal pemakaian kendaraan dinas tadi," ujarnya.

  Hingga sekarang dia hanya punya satu rumah di kompleks perumahan pemda
  di
  Padang. Rumah ini dibeli jauh sebelum jadi Bupati Solok, yaitu ketika
  masih
  sebagai staf di kantor gubernur. Rumah ini dulunya juga kredit.

  "Nah, tentang rumah ini, saya sekarang jadi bingung. Kondisinya sama
  sekali
  tidak bisa ditempati karena sudah bocor dan rusak. Sebetulnya, saya mau
  merehab dengan uang tabungan yang saya punya sekitar Rp 200 juta. Uang
  ini
  berasal dari tunjangan jabatan saya sebagai bupati yang ditabung setiap
  bulan sejak bulan-bulan pertama jadi bupati," katanya.

  Lebih lanjut soal rumah yang bocor dan rusak berat itu, ia bilang,
  kalau
  saya perbaiki dengan uang tabungan tersebut sebetulnya boleh-boleh
  saja.
  Tetapi, ia berpikir jangan-jangan ada orang yang sirik dan merasa tidak
  enak
  hati. Karena itu, rumah pribadinya ini sampai sekarang masih dibiarkan
  rusak.

  Tetapi resikonya, kalau ia sedang tidak berdinas dan berlibur dengan
  keluarga di Padang, terpaksa menumpang di rumah saudara. Kebingungannya
  pun
  makin memuncak karena beberapa bulan lagi jabatan bupati berakhir dan
  harus
  ke luar dari rumah dinas, kembali ke rumah pribadi. "Lha, saya jadi
  bingung
  sekarang nanti sekeluarga mau numpang tidur di mana?" ujarnya.

  Ketika berbincang dengan Kompas di Padang, Jumat (8/10/2004) malam,
  lelaki
  kelahiran 9 November 2004 itu tampil santai, jauh dari kesan birokrat.
  Menggunakan kemeja lengan pendek dan bersepatu tanpa kaus kaki, Gamawan
  tampak bersemangat ketika pembicaraan lebih difokuskan pada berbagai
  persoalan besar di negara ini.

  Mulai dari soal penanganan korupsi yang sepertinya dianggap sebagai hal
  yang
  biasa di negeri ini, perbincangan pun berlanjut pada soal penegakan
  aturan
  dan hukum, perilaku para pejabat, disiplin pegawai, kinerja aparat,
  soal
  gaji pegawai yang pas-pasan, hingga pro-kontra tudingan bupati yang sok
  bersih dan munafik terutama pada bulan-bulan pertama ia mengeluarkan
  aturan
  dan kebijakan melawan arus di jajaran Pemerintah Kabupaten (Pemkab)
  Solok.

  *Anda memulai dari mana dan sejak kapan?*

  Sejak tahun 1995 saya sudah punya komitmen untuk menginginkan sistem
  pemerintahan yang lebih baik. Saya memulai dengan membuat aturan:
  kontraktor
  tak boleh bertemu saya. Karena sebelumnya kedatangan kontraktor untuk
  minta
  proyek dan mengiming-imingi uang. Saya tegaskan agar mereka mengikuti
  prosedur. Jangan coba- coba beri saya uang. Kalau prosedur yang jadi
  penghalang, saya akan benahi bagaimana agar pengusaha terlindungi.
  Perbaikan
  sistem harus dibarengi dengan komitmen.

  Kedua, saya membenahi soal perizinan. Biasanya, masing-masing bidang
  mengeluarkan izin sendiri dan sulit menghindari terjadinya "beri
  memberi".
  Ini saya pangkas. Saya buat sistem pelayanan satu pintu plus. Tarif
  perizinan dicantumkan secara terbuka dan kapan harus selesai. Untuk
  mengurus
  izin masyarakat pun diberi kemudahan, melalui pos. Jadi, masyarakat tak
  perlu datang dan mengeluarkan uang yang banyak, hanya membayar Rp
  2.000biaya pos. Kerja sama dengan pihak Pos dan Giro Oktober 1998.
  Tahun 2001
  pelayanan satu pintu plus ini dapat penghargaan nasional, Citra
  Pelayanan
  Prima, yang diserahkan Presiden.

  Ketiga, soal proyek. Soal proyek tak perlu harus sampai ke bupati,
  cukup
  sampai di tingkat pimpinan proyek (pimpro). Pimpro yang melaporkan dan
  bertanggung jawab. Soal keuangan, tidak bayar cash, tetapi melalui
  giro. Ini
  secara psikologis mengurangi pemberian, apalagi kita selalu gaungkan
  tidak
  boleh memberi dan menerima.
  Keempat, tahun 2003 kita lanjutkan dengan integrity pact, kesepakatan
  kejujuran dalam menjalankan roda pemerintahan. Sekaligus kesepakatan
  untuk
  tidak memberi dan menerima yang bersifat ilegal, dan panggilan hati
  nurani
  untuk tidak melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Kesepakatan
  untuk
  membangun harkat dan martabat serta kejujuran aparatur. Ini saya
  lakukan
  sepulang saya dari Korea setelah diundang untuk Kongres Antikorupsi.

  Lalu, saya buat kebijakan meniadakan honor dan membuat tunjangan
  daerah.
  Karena selama ini berkembang ungkapan "meja mata air" dan "meja air
  mata",
  pekerjaan yang bergelimang honor dan kering dengan honor. Padahal, yang
  mereka kerjakan adalah pekerjaan fungsional mereka, tugas pokoknya.
  Tahun
  2004 berhasil dikumpulkan uang honor itu sebesar Rp 14,5 miliar.

  Sebanyak 5.000 guru dari 6.200 pegawai negeri sipil di Kabupaten Solok
  selama ini tak pernah menikmati bagian honor yang mencapai Rp 14,5
  miliar
  itu karena jarang dilibatkan dalam berbagai kepanitiaan. Ukuran besaran
  honor seseorang pun tak ada aturannya. Ini jelas tidak adil. Bagi
  instansi
  yang banyak proyek akan banyak mendapat honor sehingga ini tidak
  profesional
  karena banyak panitia yang tidak bekerja. Ini terjadi di seluruh
  Indonesia
  dan seluruh instansi.

  Dengan kebijakan tunjangan daerah, yang tujuannya untuk meningkatkan
  kesejahteraan seluruh pegawai, semua pegawai dapat bagian dan itu lebih
  besar pula dari tunjangan struktural. Misalnya, sekda itu eselon dua,
  tunjangan struktural dari negara diatur bahwa ia dapat Rp 2,5 juta per
  bulan. Resmi, di mana pun di Indonesia. Tetapi, dari tunjangan daerah
  sekda
  dapat Rp 3,5 juta sehingga ia terima Rp 6 juta per bulan tambah gaji
  pokok
  Rp 1,5 juta. Ini sudah cukup untuk tidak melakukan korupsi sebab semua
  fasilitas ditanggung negara, mulai dari mobil dinas, rumah dinas,
  listrik,
  telepon, dan minyak mobil. Tunjangan daerah paling kecil saya berikan
  Rp
  150.000 per bulan.

  Kita sekarang berpikiran berapa gaji yang layak itu sehingga jangan ada
  macam-macam lagi. Jika masih ada uang pemda, misalnya, honor Rp 14,5
  miliar
  itu akan saya cukupkan menjadi Rp 20 miliar sehingga saya bisa
  memberikan
  prioritas peningkatan kesejahteraan pada mereka yang level bawah,
  seperti
  guru-guru. Sebenarnya, menurut saya, gaji pegawai harus dirasionalkan.

  *Apakah gebrakan mendadak itu tidak berpengaruh terhadap kinerja staf?*

  Kinerja malah meningkat. Tunjangan daerah adalah untuk kehadiran 25
  hari
  kerja. Kalau tidak datang satu hari, tunjangan daerah dipotong sebesar
  4
  persen, tak hadir dua hari 8 persen dipotong, tak hadir 3 hari dipotong
  12
  persen. Yang paling efektif harus dikaitkan dengan kinerja, harus ada
  standar kerja individual. Sekarang, rajin, malas, bodoh, dan pintar,
  gaji
  sama saja diterima. Standar kerja individual belum jalan. Pada suatu
  saat,
  saya yakin di pemerintahan hal seperti akan jalan sehingga motivasi PNS
  untuk bekerja sungguh-sungguh.

  *Pernah Anda ditawari uang selama masa jabatan?*

  O, sering. Silakan cek ke banyak orang, tahu mereka siapa yang pernah
  mendatangi saya dan berupaya hendak memberi saya uang. Ada pengusaha
  yang
  hendak memberi saya uang cash ratusan juta rupiah karena mendapat
  proyek.
  Selama ini, kata pengusaha itu, tak ada pejabat yang tak lewat.

  *Lantas menolaknya?*

  Saya minta maaf saja. Ada pula kepala dinas yang hendak memberi saya
  telepon
  genggam, malah saya umumkan ke khalayak. Dimuat koran lokal sehingga
  membuat
  yang lain menjadi kapok.

  Agar penindakan efektif, setiap pejabat atau staf yang melanggar selalu
  diumumkan ke publik. Hingga kini, ia mengakui sudah memecat 10 stafnya
  karena terbukti melakukan pelanggaran berat. Di samping itu, ada 68
  orang
  yang di-"non-job" -kan dan 23 orang lain diturunkan pangkatnya.

  *Siapa yang paling Anda kagumi?*

  Ada tiga sosok yang menjadi figur idola saya, yakni Nabi Muhammad,
  kedua
  orangtua, dan Bung Hatta.
  Sebagai orang beragama Islam, saya kagum pribadi dan cara-cara nabi
  memimpin
  umat. Siapa pun tidak akan bisa menyamainya. Sebagai umatnya, kita bisa
  mencontoh dan meneladani. Begitu pula tentang kedua orangtua saya, ia
  taat
  beragama dan selalu mengingatkan bahwa kita ini hidup tetap akan mati.
  Dan,
  setelah mati nanti, apa yang kita kerjakan di dunia akan
  dipertanggungjawabk an di akhirat.

  Tentang Bung Hatta…, saya betul-betul sangat kagum dengan beliau. Ini
  bukan
  karena saya mendapat Bung Hatta Award, tetapi kekaguman ini sudah
  terpatri
  sejak saya masih remaja. Rasa kagum ini makin bertambah kental lagi
  setelah
  saya melahap hampir semua buku-buku yang ditulis Bung Hatta. Melalui
  buku-buku itu, saya temukan jati diri Bung Hatta. Ternyata ia seorang
  pemimpin yang bijak, sangat agamis, serta memiliki komitmen dan
  keberpihakan
  yang tegas terhadap rakyat.

  *Selama jadi bupati, apakah yang paling membanggakan Anda?*

  Ada tiga hal yang membuat saya bangga. Yakni, pertama hampir sepuluh
  tahun
  jadi bupati syukur alhamdulillah daerah Solok yang saya pimpin ternyata
  aman
  tenteram, tidak sekalipun ada bencana yang menimpa masyarakat dan
  daerah
  ini. Bagi saya, ini jadi pertanda bahwa apa yang saya kerjakan sangat
  diridai Allah.

  Kedua, sejak awal masa jabatan bupati tahun 1995 sampai sekarang,
  alhamdulillah saya belum pernah sekali pun didatangi demonstran,
  pengunjuk
  rasa yang mempersoalkan kebijakan saya. Padahal, siapa pun tahu sejak
  reformasi sampai sekarang siapa pun bisa menggugat, memprotes, dan
  menghujat
  bupati atau pejabat.

  Ketiga, yang membanggakan saya adalah selama menjadi bupati saya
  berhasil
  "memerdekakan" dua desa yang dihuni hampir 500-an jiwa. Dua desa ini,
  yaitu
  Desa Sariak Bayang dan Lubuak Tareh, sangat terisolasi dari luar. Tidak
  ada
  jalan akses dari dan ke desa itu ke kota kecamatan, kecuali jalan
  setapak
  yang hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki selama tiga hari tiga malam
  dan
  itu saya alami sendiri. Begitu saya temukan kenyataan itu ketika
  berkunjung
  kedua desa tersebut, saya sempat menangis melihat kenyataan bahwa
  ternyata
  ada warga saya yang hidupnya seperti suku terasing, jauh dari dunia
  luar.

  Akhirnya saya putuskan, dua desa itu harus dipindahkan ke lokasi lain
  yang
  lebih subur dan gampang diakses. Karena sekitar 140 keluarga yang
  menghuni
  dua desa tersebut merupakan keluarga miskin, maka di permukiman baru
  mereka
  saya bangunkan rumah tinggal secara gratis. Jalan akses beraspal juga
  dibangun Pemkab Solok, di dua desa baru itu juga dibangunkan berbagai
  fasilitas umum, ada pasar, penerangan listrik ke rumah-rumah, tempat
  ibadah,
  sekolah, air bersih, tempat pelayanan kesehatan, dan lahan usaha
  pertanian
  untuk menopang hidup warga di sana.

  *Adakah sesuatu cobaan hidup yang Anda rasakan selama jadi bupati?*

  Oh… ada, cobaan hidup yang paling berat adalah ketika saya sempat
  "hilang"
  selama lima hari di hutan belantara ketika napak tilas perjuangan dari
  Lubuak Minturun (Kota Padang) hingga ke Paninggahan (Kabupaten Solok)
  tahun
  1999. Nyasar di hutan ini saya anggap sebagai cobaan hidup karena
  bersama
  saya ada 116 orang lainnya. Mereka ada yang pelajar, mahasiswa, polisi,
  dan
  juga pejabat kabupaten.

  Jangankan Tim SAR yang mencari menggunakan helikopter, saya di hutan
  yang
  tersesat ketika itu pun betul-betul cemas dan sangat tertekan.
  Bayangkan,
  kalau ada di antara peserta napak tilas yang meninggal, wah… saya
  sudah
  pasti disalahkan dan dimintai tanggung jawab. Tetapi, bersyukur karena
  saya
  dan rombongan ditemukan tim pencari. Inilah cobaan paling berat selama
  jadi
  Bupati Solok, yang tidak akan saya lupakan sepanjang hidup saya".

  *Setelah jadi bupati, obsesi dan target ke depan?*

  Saya akan jalani hidup ini seperti air mengalir. Tidak ada target saya,
  habis ini harus menjadi ini, jadi itu dan lainnya. Tetapi, itu bukan
  berarti
  saya apatis atau pesimistis. Ya..., apa adanya lah…. ►*e-ti*

  *** *TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)*

  On 10/25/07, Nugroho Dewanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  >
  >
  > >>Kawan-kawan Tempo di seluruh dunia,
  > >>
  > >>Majalah Tempo untuk edisi akhir tahun akan memilih *Tokoh TEMPO
  2007*,
  > >>yang berasal dari bidang penegakan hukum.
  > >>
  > >>Adapun latar belakang mereka bisa:
  > >>1. Birokrat penegak hukum (jaksa, hakim, polisi)
  > >>2. Aktifis penegakan hukum dan HAM
  > >>3. Birokrat yang mempromosikan, memperjuangkan, serta membangun
  sebuah
  > >>sistem pemerintahan yang bersih.
  > >>
  > >>
  > >>Kriteria penegak hukum:
  > >>1. WNI,
  > >>2. Birokrat atau aktifis NGO
  > >>3. Bersih dari korupsi, kolusi, nepotisme serta tindak kriminal
  lain
  > >>4. Telah memberikan sumbangsih nyata dalam penegakan hukum atau
  dalam
  > >>mewujudkan pemerintahan yang bersih.
  > >>
  > >>
  > >>Untuk itu, kami menunggu kandidat Anda paling lambat 5 November.
  > >>
  > >>Sertakan profil dan sumbangsihnya.
  > >>
  > >>Ditunggu, ya
  > >>terima kasih
  > >>tabik
  > >>
  > >>yudono
  > >>
  > >>*NB Mohon disebarkan ke milis-milis*
  >

  [Non-text portions of this message have been removed]

  ***************************************************************************
  Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju
  Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
  http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
  ***************************************************************************
  __________________________________________________________
  Mohon Perhatian:

  1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg
  otokritik)
  2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
  3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
  4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
  5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
  6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]

  Yahoo! Groups Links

  __________________________________________________
  Do You Yahoo!?
  Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around 
  http://mail.yahoo.com 


   


------------------------------------------------------------------------------


  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG Free Edition. 
  Version: 7.5.503 / Virus Database: 269.15.10/1091 - Release Date: 24/10/2007 
14:31


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke