Syarah Hadits
  23/10/2007 | 12/Syawal/1428 H | Hits: 314 
  Humanisme Islam; Refleksi di Bulan Syawal   Oleh: Ulis Tofa, Lc 
   
  Betapa Rasulullah saw mampu memikat seluruh elemen penduduk Madinah yang 
terdiri dari berbagai suku, agama dan latar belakang sosial yang beragam. Di 
awal kedatangan beliau disana. Padahal beliau belum pernah bertemu dengan 
mereka, pun tidak ada hubungan darah dengan mereka.
   
  Pertama sekali yang Rasulullah saw deklarasikan bagi penduduk Madinah yang 
sedang menanti-nanti kedatangan beliau adalah nilai-nilai humanisme dan 
kepedulian yang dilandasi dengan sikap mental yang kuat.
   
  Mari kita simak penuturan salah seorang yang sengaja menyempatkan diri 
bersama khalayak penduduk Madinah yang sedang menyambut Rasulullah saw. 
Bagaimana pengakuan tulusnya akan kepribadian Rasulullah saw. Dan taujih atau 
arahan Rasulullah saw yang beliau sampaikan dengan sangat puitis :
   
  Dari Abdullah bin Salam berkata: Ketika Rasulullah saw hendak datang di 
Madinah, manusia pada menunggu-nunggu dan saling memberi kabar: Rasulullah 
datang, Rasulullah datang. Aku datangi kerumunan manusia. Ketika aku pastikan 
bisa melihat wajah Rasulullah saw, maka aku yakin bahwa raut wajahnya bukan 
tipe wajah pembohong. Dan pertama kali yang beliau ucapkan adalah: “Sebarkanlah 
salam, berilah makan orang yang membutuhkan, sambunglah persaudaraan dan shalat 
malamlah ketika manusia pada tertidur. Maka anda akan masuk surga dengan 
selamat.” (Sunan Tirmidzi, Jilid 9, Halaman. 25)
   
  Sebarkan Salam
   
  Subhanallah, ajaran agama yang sangat mulia bagi kemanusiaan. Betapa tidak, 
Islam pertama dan utama sekali menyuruh pemeluknya untuk menyebarkan salam yang 
berarti kedamaian, keselamatan dan kasih sayang. Karena salam Islam adalah 
penghormatan dari Allah swt. ”Assalamu’alaikum warahmatullahi wabaraktuh. 
Semoga keselamatan, kasih sayang dan keberkahan Allah selalu bersama kalian.”
   
  Sering kita dengar cerita orang sedang bepergian di negeri orang atau tempat 
yang asing lainnya, mendapatkan pertolongan dari orang lain atau ketemu kenalan 
baru gara-gara ucapan salam. Karena salamnya orang Indonesia dengan orang Turki 
sama, salamnya orang Jepang dengan orang Amerika sama, demikian juga salamnya 
orang Arab dengan Afrika sama.
   
  Banyak sekali rahasia dari diperintahkan menyebarkan salam ini. Adalah untuk 
saling kenal, cinta, kasih sayang dan mendapatkan keberkahan do’a salam itu 
sendiri. Bahkan menjadi prasyarat mendapat tiket masuk surga Allah swt. Inilah 
rahasia yang pernah diungkap sendiri oleh Rasulullah saw dalam sabdanya:
   
  Artinya: “Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian benar dalam keimanan 
kalian. Dan kalian tidak akan sampai meraih keimanan yang benar sampai kalian 
saling mencintai di antara kalian. Maukah Aku tunjukkan perkara yang apabila 
kalian laksanakan kalian akan saling mencintai? “Sebarkan salam di antara 
kalian.” (Shahih Muslim, Jilid I, Halaman 180)
   
  Bahkan terhadap orang yang tidak kita kenal sekali pun, sebagaimana sabda 
Rasulullah saw. ”Berilah salam terhadap orang yang kamu kenal dan yang tidak 
kamu kenal.”
  Pelajaran menarik lain adalah bahwa kita tidak boleh pelit dalam mengucapkan 
salam dan menjawab salam. Justru berlomba untuk memberi doa yang terbaik dan 
terlengkap untuk saudara kita. Lihatlah taujih Allah swt dalam surat An Nisa’ 
ayat 86.
   
  ”Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, Maka balaslah 
penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah 
penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan 
segala sesuatu.” 
   
  Penghormatan yang dimaksud disini ialah: dengan mengucapkan assalamu’alaikum 
dengan tulus ikhlas.
   
  Wujudkan 
   
  Langkah berikutnya ketika sudah terbiasa dengan salam, sapa dan saling kenal 
– sebagai pintu masuk mengetahui kondisi saudaranya-, ketika kondisi saudaranya 
sedang membutuhkan bantuan, pertolongan atau baru mendapat masalah, maka 
anjuran Rasulullah saw adalah agar kita peduli dengannya, menolong sesuai 
dengan yang ia butuhkan.
  Ramadhan telah mentraining hamba-hamba Allah swt untuk merasakan penderitaan 
dan kesulitan hidup orang yang tidak berpunya. Dengan training itu muncul sikap 
kepedulian dan kebersamaan. Orang kaya akan merenung, ”ternyata saudara saya 
yang belum ketemu nasi dalam sehari sangat menderita”.
   
  Ith’amuth tho’am atau memberi makan orang yang membutuhkan adalah lambang 
sikap kepedulian. Sehingga ia juga bisa berarti upaya sistematik untuk 
mengentaskan kemiskinan, mengurangi pengangguran, pelayanan kesehatan yang 
memadai serta memberi bantuan pendidikan, bahkan gratis.
   
  Sikap peduli ini sangat penting sehingga Allah swt pun mengecam keras orang 
yang tidak memiliki rasa kepedulian padahal ia berkecukupan. Bahkan Allah swt 
mengkatagorikan mereka sebagai pendusta agama. Allah swt berfirman dalam sura 
Al Ma’un : 1-3.
   
  ”Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?. Itulah orang yang menghardik 
anak yatim. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.”
   
  Kalau umat Islam secara umum mampu menghayati pesan ini, wabil khusus para 
pemimpin yang diberi amanah untuk melayani rakyatnya, maka tidak ada lagi yang 
akhirnya mati kelaparan, yang putus sekolah dan menderita sakit dan akhirnya 
meninggal karena tidak punya biaya berobat, wal iyadzu billah.
   
  Galang Silaturahim
   
  Sungguh, agung agama Islam ini. Setelah menganjurkan ummat Islam untuk saling 
mendekat dan saling kenal, mengalakkan sikap peduli terhadap sesama. Ternyata 
Islam juga mengunci kuat pintu-pintu konflik dan menutup rapat-rapat potensi 
permusuhan. Yaitu dengan anjuran menyambung persaudaraan, silaturahim.
   
  Sesama muslim adalah saudara, bahkan persaudaraan itu kadang lebih kuat 
dibanding dengan persaudaraan darah sekalipun. Inilah yang ditegaskan Allah swt 
dalam firman-Nya:
   
  ”Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah 
(perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, 
supaya kamu mendapat rahmat.” QS. Al Hujurat 10.
   
  Ternyata ayat ini didahului dengan kisah dua golongan yang sama-sama mukmin 
yang sedang bermusuhan. Tapi mereka masih disebut dengan golongan yang beriman. 
Mereka diperintahkan untuk ruju’ dan dinyatakan dengan tegas bahwa mereka 
adalah bersaudara.
   
  ”Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah 
kamu damaikan antara keduanya! tapi kalau yang satu melanggar perjanjian 
terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai 
surut kembali pada perintah Allah. kalau dia telah surut, damaikanlah antara 
keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; Sesungguhnya Allah 
mencintai orang-orang yang berlaku adil.” QS. Al Hujurat : 9
   
  Orang-orang yang saling bercinta karena Allah swt, saling menyambung 
persaudaraan fillah, akan dibanggakan Allah swt di hari kiamat kelak, sehingga 
para Anbiya’ dan Syuhada’ sekalipun cemburu dengan mereka. Rasulullah saw 
bersabda:
  ”Orang-orang yang saling mencintai karena kebesaran-Ku, pada hari kiamat 
kelak berada di atas mimbar yang terbuat dari cahaya, yang menyebabkan para 
Nabi dan Syuhada cemburu akan kedudukan mereka
   
  Sikap lapang dada, dewasa dan menghormati perbedaan pendapat atau golongan di 
antara umat Islam bisa menjadi katup pengikat kesatuan dan persatuan umat Islam.
  Sisi lain Islam sangat mengecam permusuhan, persengketaan melebihi tiga hari, 
apalagi permusuhan abadi. Rasulullah saw bersabda:
   
  ”Barangsiapa yang bertengkar dengan saudaranya melebihi tiga hari, maka Aku 
tidak butuh ketaatan dan peribadatan keduanya, sampai keduanya rujuk kembali 
dan yang pertama rujuk adalah yang paling baik”.
   
  Tradisi silaturahim tidak hanya dilakukan ketika lebaran atau bulan Syawal 
saja, apalagi ada embel-embel kepentingan politis. Namun anjuran silaturahim 
adalah setiap saat sesuai kadar yang dibutuhkan.
   
  Menyambung persaudaraan tidak hanya dengan sesama muslim saja, namun juga 
dengan semua pemeluk agama lain. Rasulullah swt menjadi bukti konkrit dalam hal 
ini. Beliau meskipun setiap hari dicaci maki oleh lawan politiknya, diludahi 
oleh orang yang beda agama, namun beliau tetap berbuat manusiawi terhadap 
mereka. Justru dengan sikap itulah lawan-lawannya menjadi simpati dan masuk 
Islam.
   
  Hidupkan Shalat Malam
   
  Ramadhan telah mentarbiyah kita selama sebulan penuh untuk shalat tarawih. 
Shalat tarawih sebenarnya adalah istilah lain dari shalat malam di luar bulan 
Ramadhan. Sehingga bagaimana akhirnya kita berusaha untuk bisa meneruskan 
tradisi shalat tarawih atau shalat malam ini di luar bulan Ramadhan. Allah swt 
berfirman :
   
  ”Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang 
dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian 
pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan 
ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat 
menentukan batas-batas waktu-waktu itu, Maka dia memberi keringanan kepadamu, 
Karena itu Bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa 
akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di 
muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi 
berperang di jalan Allah, Maka Bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran 
dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada 
Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu 
niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling 
baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan
 kepada Allah; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” QS. Al 
Muzzammil : 20
   
  Ada tips yang pernah dicontohkan oleh dua sahabat besar dalam hal pelaksanaan 
shalat malam ini yaitu sahabat Abu Bakar dan Umar Radliyallahu anhuma. Model 
sahabat Umar bin Khattab ra yang mengerjakan shalat malam setelah melaksanakan 
shalat Isya’ langsung alias sebelum tidur dan ditutup dengan witir. Atau model 
sahabat Abu Bakar ra yang bangun sepertiga malam akhir untuk qiyamullail dan 
ditutup dengan witir.
  Kesangggupan masing-masing kita berbeda-beda, apakah mau seperti sahabat Umar 
atau sahabat Abu Bakar radliyallahuma, tafadldlal saja.
   
  Saudaraku, di Bulan Syawal yang berarti Bulan peningkatan amal kebaikan dan 
ketaatan ini, marilah kita tegaskan kembali komitmen kita sewaktu menjalani 
amaliyah ibadah Ramadhan; yaitu komitmen untuk menjadi manusia baru, insan 
taqwa, pemburu pintu Royyan. Dengan melaksanakan pesan-pesan mulia Rasulullah 
saw ini.
   
  saudaraku, ketika resep Rasulullah swt itu bisa kita terapkan dalam tataran 
individu, maka pasti janji Allah swt berupa tiket Jannah dengan penuh kedamaian 
pasti akan diraih.
  Dan jika konsep Rasulullah saw tersebut dapat diejawantahkan dalam tataran 
kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, maka kehidupan akan menjadi rukun, 
sejahtera, damai dan mendapat ridho Ilahi Rabbi, menjadi baldatun thayyibatun 
wa Rabbun Ghafur. Insya Allah. Allahu A’lam. 

 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke