(Tulisan ini juga disajikan dalam website
http://kontak.club.fr/index.htm)
DEWAN REVOLUSI dan KUDETA DI RADIO (16)
Oleh: Harsutejo
Menyerimpung Politik PKI
Dalam pengakuannya di depan Mahmillub pada 1967-1968, Ketua BC PKI Syam
menyatakan seluruh perbuatannya sebagai pelaksanaan instruksi Ketua PKI
Aidit termasuk pengumuman dan dekrit yang disampaikan lewat RRI Jakarta
menurut pengakuannya disusun oleh Aidit. Segala pengakuan Syam tentang G30S
boleh dibilang tidak dapat diperiksa dan dirujuk kebenarannya. Dokumen G30S
yang diumumkan pada 1 Oktober 1965 yang terdiri dari pengumuman Letkol
Untung, Dekrit No.1, Keputusan No.1 dan Keputusan No.2, rendah mutu
politiknya. Dalam pengumuman pertama bernada emosional. Sulit dipercaya
dokumen semacam itu disusun oleh seorang Aidit, seorang pemimpin politik
yang telah malang melintang secara nasional dan internasional, pemimpin
komunis kaliber dunia.
Dalam pengumuman yang dibacakan di RRI Jakarta pada 1 Oktober 1965 jam 07.00
pagi a.l. disebutkan, Presiden Sukarno selamat dalam lindungan Gerakan 30
September. Juga sejumlah tokoh-tokoh masyarakat lainnya yang menjadi sasaran
tindakan Dewan Jenderal berada dalam lindungan Gerakan 30 September.
Pernyataan ini tidak benar karena keberadaan Presiden Sukarno di PAU Halim
merupakan kehendak beliau sendiri berdasarkan prosedur baku penyelamatan.
Rombongan presiden ini berada dalam lindungan lingkungan PAU Halim, sedang
pasukan G30S berada di luarnya, ketika hendak masuk ke wilayah PAU Halim
mereka diusir oleh pasukan penjaga pangkalan. Memang Brigjen Suparjo, salah
seorang pemimpin G30S menemui BK di Halim. Dari Halim Presiden Sukarno
memanggil sejumlah petinggi negara untuk menemuinya
Selanjutnya dokumen itu bertentangan dengan politik front nasional yang
mati-matian diperjuangkan oleh pimpinan PKI. Terlebih lagi dokumen itu
menafikan persekutuan PKI dengan Presiden Sukarno. Dalam Dekrit No.1 antara
lain disebut, Dewan Revolusi Indonesia menjadi sumber daripada segala
kekuasaan dalam Negara Republik Indonesia, selanjutnya, Dengan jatuhnya
kekuasaan negara ke tangan Dewan Revolusi Indonesia, maka Kabinet Dwikora
dengan sendirinya berstatus demisioner. Ini berarti kudeta terhadap
kekuasaan Presiden Sukarno, meski dalam kenyataannya hanya di atas kertas
dan tidak pernah mewujud. Apa mungkin Aidit mengubah dasar politik PKI dalam
semalam pada saat BK masih segar bugar? Pendeknya dokumen-dokumen tersebut
menyerimpung politik PKI ketika itu, sesuatu yang mokal jika disusun oleh
seorang Ketua PKI DN Aidit.
Kekanak-kanakan dan Mencari Musuh
Dalam pengumuman Letkol Untung tentang gerakan termuat retorika emosional.
Jenderal-jenderal dan perwira-perwira yang gila kuasa, yang menelantarkan
nasib anak buah, yang di atas tumpukan penderitaan anak buah hidup
bermewah-mewah dan berfoya-foya menghina kaum wanita dan
menghambur-hamburkan uang negara harus ditendang keluar dari Angkatan Darat
dan diberi hukuman setimpal....
Kegiatan Dewan Revolusi (DR) sehari-hari disebutkan diwakili oleh Presidium
Dewan yang terdiri dari komandan dan wakil-wakil Gerakan 30 September
(G30S), yang semuanya dari kalangan ABRI (termasuk polisi) yakni Letkol
Untung (Komandan), Brigjen Suparjo (Wakil Komandan), Letkol Udara Heru
(Wakil Komandan), Kol Laut Sunardi (Wakil Komandan), Ajun Komisaris Besar
Polisi Anwas (Wakil Komandan). Dengan kata lain pemerintah harian dipegang
oleh militer alias pemerintah militer. Lima orang ini sekaligus menjadi
Ketua dan Wakil ketua DR yang seluruh anggotanya terdiri dari 45 orang
(termasuk ketua dan wakilnya), dengan 23 orang dari kalangan ABRI, 2 orang
pemimpin PKI eselon dua atau tiga. Apa pun susunannya, dewan ini tidak
pernah eksis dalam sejarah Indonesia.
Dalam keputusan No.2 disebutkan, ... segenap kekuasaan dalam negara
Republik Indonesia.... diambil alih oleh Gerakan 30 September.... Dokumen
ini masih berlanjut ....Gerakan 30 September yang Komandannya adalah
perwira dengan pangkat Letnan Kolonel, maka dengan ini dinyatakan tidak
berlaku lagi pangkat dalam Angkatan Bersenjata Republik Indonesia yang di
atas Letnan Kolonel atau setingkat.... Pendeknya dokumen ini selain sekali
lagi menegaskan penyingkiran Presiden Sukarno, sementara dalam pengumuman
pertama disebutkan tentang penyelamatan Presiden Sukarno, secara
kekanak-kanakan tidak mengakui pangkat setara atau di atas sang komandan
Letkol Untung. Bukan saja kekanak-kanakan, tetapi juga mencari musuh lebih
banyak lagi alias memperlebar front musuh.
Dokumen DARIPADA
Dua dokumen penting yang disiarkan oleh RRI Jakarta pada Oktober1965 yang
mungkin selama ini kurang mendapat perhatian dari segi bahasanya. Yang
pertama dokumen pengumuman G30S tentang penurunan dan penaikan pangkat yang
disiarkan RRI pada siang hari 1 Oktober 1965. Dokumen kedua pidato Mayjen
Suharto di Lubang Buaya pada 4 Oktober 1965 yang malamnya disiarkan oleh
RRI.
Dokumen pertama dari G30S pada butir kedua berbunyi sbb, Karena Gerakan 30
September pada dasarnya adalah gerakan DARIPADA Prajurit bawahan, terutama
DARIPADA Tamtama dan Bintara, maka dengan ini dinyatakan, bahwa semua
Tamtama dan Bintara dari semua Angkatan Bersenjata RI yang mendukung Gerakan
30 September dinaikkan satu tingkat lebih tinggi DARIPADA sebelum tanggal 30
September 1965. Sedangkan dokumen kedua pidato Mayjen Suharto pada bagian
akhir kalimat alinea kedua dan kalimat pertama alinea ketiga berbunyi sbb,
. tidak mungkin tidak ada hubungan dengan peristiwa ini DARIPADA
oknum-oknum DARIPADA anggota AURI. Oleh sebab itu saya sebagai warga
DARIPADA anggota AD mengetok jiwa perasaan DARIPADA patriot anggota AU
bilamana benar-benar ada oknum-oknum yang terlibat dengan pembunuhan yang
kejam DARIPADA para Jenderal kita yang tidak berdosa ini saya mengharapkan
agar supaya para patriot anggota AU membersihkan juga DARIPADA
anggota-anggota AU yang terlibat.
Meninjau kedua dokumen tersebut haruslah dalam konteks jamannya, gaya bahasa
dengan penggunaan kata DARIPADA semacam itu tidaklah lazim di masa itu. Hal
ini amat berbeda dengan gaya bahasa selama lebih dari 30 tahun Orba yang
begitu dominan, bahkan sampai saat ini sering masih kita temukan keluar dari
mulut daripada para pemimpin dan daripada birokrat di depan publik, juga
mereka yang bicara di televisi. Kita semua mengenal gaya bahasa itu
mula-mula milik Suharto, selalu dipeliharanya tanpa putus sepanjang
kekuasaan dan sesudahnya. Dalam pidato pendek pengalihan kekuasaannya kepada
BJ Habibie, Jenderal Besar Suharto telah menggunakan berpuluh daripada.
Rupanya Suharto memang daripada kampiun dan pencinta daripada yang tiada
bandingnya.
Dalam dokumen pertama dalam satu kalimat terdapat 3 (tiga) daripada,
sedang pada dokumen kedua dalam dua kalimat terdapat 6 (enam) daripada.
Dari situ dapat dibuat beberapa kesimpulan sementara, Letkol Untung,
Komandan G30S [atau katakan DN Aidit] mempunyai gaya bahasa yang sama dengan
Mayjen Suharto, Panglima Kostrad yang baru saja melumpuhkan G30S. Atau
dokumen-dokumen tersebut mempunyai pabrik tunggal?
Menurut pengakuan Letkol Untung kepada Letkol Heru Atmodjo, mantan Perwira
Intelijen AURI selama di penjara, ia tidak tahu menahu dokumen tersebut di
atas. Sedang dokumen sebelumnya tentang pengumuman G30S yang disiarkan RRI
pada 1 Oktober 1965 setelah warta berita jam 7.00 pagi disodorkan oleh Syam
Kamaruzaman kepadanya untuk ditandatangani.[]
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.503 / Virus Database: 269.15.10/1091 - Release Date: 24/10/2007
14:31
[Non-text portions of this message have been removed]