"Sumpah Pemuda" dan  Persatuan

Oleh Samsir Mohamad

Lebih dari tiga perempat abad yang lalu, persisnya 79 yahun yang lalu,
lahirlah Sumpah Pemuda. Sebuah monumen nasional yang mengukuhkan kita
menjadi bangsa yang ber-Tanah Air dan ber-Bahasa satu: Indonesia. Nama
dan sebutan Indonesia itu untuk kepulauan Nusantara berasal dari
seorang cendekiawan Inggris pada tahun 1850. Dalam rangka belajar dari
bangsa dan negeri sendiri patut sekali kita menelusuri bagaimana
terjadinya dan lahirnya Sumpah Pemuda yang akan membuat kita
mengetahui bagaimana misalnya lahirnya Trikoro Dharmo di surabaya yang
kemudian tumbuh menjadi Jong Java. Dan beriringan dengan itu
bermunculan "Jong", seperti Jong Sumatra. Jong Ambon dan lainnya.
Itulah yang kemudian dalam kurun waktu yang relatif singkat mengerucut
melalui Kongres Pemuda pertama dan kedua yang melahirkan Sumpah Pemuda
yang menumental itu. Organisasinya kemudian menjelma menjadi IM
(Indonesia Muda), yang mengarah pada usaha memperjuangankan diri
menjadi bangsa yang merdeka, lepas dari penjajahan kolonial Belanda.

Adalah suatu kenyataan bahwa dalam usaha membidani lahirnya Sumpah
Pemuda pada 28 Oktober 1928 tidak terdengar adanya kehadiran dan
peranan partai-partai politik yang ada ketika itu. Hal serupa terjadi
lagi ketika kita membidani Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus
1945. Dalam rangka belajar dari bangsa dan negeri sendiri dua kejadian
tersebut sebaiknya dikaji dan ditelaah mengapa seperti itu. Ataukah
memang sudah sewajarnya seperti itu?

Di era kolonial persatuan digalang. Peran Sumpah Pemuda untuk mencapai
kemerdekaan bisa disebut monumental dan murni. Tidak disekat-sekat
oleh kesukuan, kepercayaan dan agama, maupun berbagai faham yang
belakangan disebut ideologi. Sumpah Pemuda bagaikan menggelar jalan
persatuan bangsa untuk mencapai kemerdekaan. Beriringan dengan
partai-partai politik ketika itu yang menggugah kesadaran
masyarakat-bangsa supaya mengetahui dan mengerti betapa jahatnya
penjajahan kolonial yang mengeruk laba dari tanah air kita yang luas,
subur dan kaya sumber alamnya, serta penduduknya. Sampai ada pemimpin
kita ketika itu yang mengatakan "rakyat bagaikan ayam mati di lumbung
padi". Menggugah kemengertian dan kesadaran masyarakat-bangsa selama
puluhan tahun dengan menempub berbagai resiko ditangkap, dihukum dan
diasingkan ke Digul, Endeh, Bandaneira, Bengkulu dan berbagai penjara
hingga diusir dari Indonesia. Itulah sebabnya kita menghargai dan
menghormati mereka.  Seperti kita saksikan dalam kenyataan, orang bisa
berubah, dan perubahan itu mesti diartikan dan ditunjukkan sejujurnya,
seperti yang terjadi. Tidak boleh sesuka hati. Kita perlu nalar yang
sehat untuk itu.

Jika di era kolonial kita menghadapi kekuasaan penjajah, kita bersatu
dan mengugah kesadaran masyarakat-bangsa, di era fasis Jepang kita
menghadapi kebengisan fasis, maka seakarang apa yang kita hadapi.
Itulah persoalannya. Sudah sejak kita merdeka, dan sejak kita menerima
masuk kandang RIS (Republik Indonesia Serikat) yang menerima
penyerahan kedaulatan dari Kerajaan Belanda sampai menanggalkan UUD
1945 dan memberlakukan UUD RIS, menyusul UUD Sementara sampai pada
Dekrit Presiden Soekarno memberlakukan kembali UUD 1945, UUD yang
menyertai Proklamasi Kemerdekaan kita. Itulah perjalanan kita, yang
tentu saja perlu dikaji untuk bisa menangguk hikmahnya, untuk belak ke
depan.

Sekarang, kita punya UUD 1945 dan oleh karena itu kita punya yang
dinamakan Pemerintah Negara Indonesia. Sudah lebih 40 tahun kita
menyibukkan diri dengan berbagai "tata-cara" menghadirkan pemerintahan
(dari pemilu ke pemilu dan pilkada) berlanjut dengan berbagai orasi
"mewarisi roh" dan "semangat". "visi", "misi" sampai "janji-janji.
Kita semua menyaksikan dan merasakan apa yang terjadi. Kenyataa n yang
terjadi hanya membuat hati kita kecut. Betapa tidak, katanya sudah
ribuan kita membuat undang-undang, termasuk perda-perda yang tidak
sesuai dan bertentangan dengan UUD 1945. Ditambah lagi dengan
bermunculannya seterus-menyeteru satu sama lain. Jika terus begini,
barangkali kita bisa merangkak di "selangkangan" orang lain alias papa
dan hina.

Oleh sebab itu, marilah kita "membasuh muka" supaya sadar dan nalar
kit hadir, guna menyegarkan kesetiaan kita pada Proklamasi Kemerdekaan
dan UUD 1945, sehingga kita mampu dan mau berbuat untuk menjalankan
dan dijalankannya dengan sungguh-sungguh, luru dan benar, serta
konsisten pada apa yang dinamakan "kontrak sosial", yaitu UUD 1945.
Untuk itulah kita perlu bersatu. Untuk itulah persatuan. Artinya,
untuk kemaslahatan segenap bangsa dan tumbah darah, bukan untuk
pihak-pihak atau golongan tertentu. Simaklah Mukadimah UUD 1945. Ada
nilai luhur dan kejelasan untuk apa pemerintah dibentuk atau diadakan,
yaitu "untuk melindungi segnap bangsa dan tumpah darah, untuk
memajukan kesejahtraan umum, untuk mencerdaskan kehidupan bangsa..."
Di dalam pasal-pasalnya ditetapkan bahwa pengajaran alias pendidikan
adalah HAK tiap warga negara, dan bahwa tiap warga negara BERHAK atas
pekerjaan dan kehidupan yang layak bagi kemanusiaan. Bumi, air dan
kekayaan yang terkandung didalamnya dikuasai, bukan dimiliki oleh
negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Dengan demikian, siapa pun yang berhasil masuk dan duduk dalam jajaran
pemerintahan WAJIB menjalankan dan melaksanakan UUD Negara. Untuk itu
masyarakat-bangsa perlu menyadari isi dan makna UUD Negara sehingga
bisa dengan sadar bergandengan tangan dengan pemerintah untuk
dijalankan dan dilaksanakannya UUD Negara secara sungguh-sungguh,
lurus dan benar serta konsisten. Untuk itulah masyarakat-bangsa perlu
bersatu. Untuk itulah diperlukan persatuan: persatuan yang jelas makna
dan tujuannya.

Semua itu memerlukan peran kaum terpelajar kita yang sehat dan
patriotik, seperti yang kita punya di era perjuangan melawan kolonial
Belanda. Tidak Usah menanti biduk karam, kapal tenggelam.

Lereng Burangrang, 28 Oktober 2007

Sumber: http://rumahkiri.net/ 
Link tulisan:
 http://rumahkiri.net/index.php?option=com_content&task=view&id=1385&Itemid=352


Tulisan ini merupakan materi yang akan dibahas dalam Diskusi Reflektif
tentang Sumpah Pemuda dan Nasionalisme Iddonesia. Untuk Informasi
Diskusi, buka link ini:
http://rumahkiri.net/index.php?option=com_events&task=view_detail&agid=6&year=2007&month=10&day=27&Itemid=1


Tentang Selengkap lihat



Kirim email ke