Bung Boni,

Tulisan Saut ini sudah lama malang melintang di milis. Coba dicek deh, siapa 
tahu sudah pernah dimuat di media cetak lain?

Coba dicek juga di blog ACI...atau digoogling



salam,

rd



  ----- Original Message ----- 
  From: Boni Triyana 
  To: [EMAIL PROTECTED] ; [email protected] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL 
PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Tuesday, October 30, 2007 9:05 AM
  Subject: [ppiindia] Tulisan Saut Situmorang di Jurnal Nasional



  Jurnal Nasional Minggu, 28 Okt 2007 (www.jurnalnasional.com)

  Tradisi dan Bakat Individu

  Oleh Saut Situmorang

  Seorang komentator sastra dari Jakarta, Nirwan Dewanto, pernah membuat 
pernyataan asersif bahwa novelis Ayu Utami tidak terlahir dari sejarah sastra 
Indonesia. Latar-belakang pembuatan klaim ini, mudah kita duga, adalah reaksi 
luar biasa yang timbul dalam sastra Indonesia setelah publikasi novel pertama 
Ayu, Saman, dari kalangan "kritikus" sastra di Indonesia, yang dalam komentar 
mereka rata-rata memakai istilah-istilah superlatif seperti "dahsyat", 
"kata-kata...bercahaya seperti kristal", "tak ada novel yang sekaya novel ini", 
"superb, splendid", dan "susah ditandingi penulis-penulis muda sekarang", dalam 
mempromosikan apa yang mereka anggap sebagai "pencapaian" artistik Saman, 
seperti yang dicantumkan pada blurb di sampul belakang novel tersebut. 
Klaim-klaim asersif semacam ini memang cukup sering kita temui dalam sastra 
Indonesia kontemporer karena apa yang dianggap sebagai "kritik" sastra itu 
rata-rata cuma sekedar esei-semi-resensi di koran-koran belaka. Kritik
  jurnalistik semacam ini bisa begitu mendominasi karena posisi koran memang 
sudah menggantikan posisi majalah atau jurnal sastra sebagai media penulisan 
studi sastra yang kritis. Ruang koran yang terbatas telah "membebaskan" seorang 
"kritikus" sastra untuk tidak harus bertanggungjawab membuktikan/mengelaborasi 
isi pernyataannya semendetil kalau dia menulis di sebuah majalah/jurnal sastra.

  Untuk menanggapi klaim Nirwan Dewanto di atas maka isu yang ingin saya 
persoalkan dalam esei ini adalah: Mungkinkah seorang sastrawan tidak terlahir 
dari sejarah sastra nasionalnya sendiri sementara dia memakai bahasa 
nasionalnya sebagai media ekspresi sastranya? Bisakah seorang sastrawan 
memasabodohkan sejarah sastra nasionalnya sendiri? Kalau benar Ayu Utami 
terlahir bukan dari sejarah sastra Indonesia, lantas dari mana dia berasal? Dan 
kenapa dia (masih menganggap perlu) menulis dalam bahasa Indonesia yang 
merupakan bahasa ekspresi dari sastra Indonesia itu, bukan dalam bahasa Inggris 
misalnya?

  Dalam sejarah sastra Indonesia rasanya tidak berlebihan kalau saya mengklaim 
Chairil Anwar adalah bapak puisi modern dalam bahasa Indonesia. Reputasi 
Chairil ini didapatnya bukan semata-mata karena apa yang dilakukan oleh sang 
paus sastra Indonesia HB Jassin terhadapnya, seperti yang umum diyakini di 
kalangan sastrawan Indonesia, tapi karena besarnya pengaruh Chairil atas para 
penyair yang menjadi penyair setelah dia. Dengan memakai konsep pengaruh 
intertekstual kritikus Dekonstruksionis Amerika Harold Bloom maka bisa dilihat 
betapa the anxiety of influence yang ditimbulkan puisi Chairil atas para 
penyair sesudahnya '" yang mencapai klimaks resistensi tekstual pada apa yang 
disebut sebagai puisi-mantra Sutardji Calzoum Bachri itu '" memiliki arti yang 
jauh lebih signifikan ketimbang pernyataan-pernyataan mitologis Jassin dalam 
membentuk reputasi Chairil sebagai pencipta puisi modern Indonesia. 

  Sudah berabad-abad para kritikus dan sejarawan sastra di Barat membahas apa 
yang disebut sebagai "pengaruh" seorang sastrawan atau tradisi sastra atas 
sastrawan sesudahnya, yang dianggap mengadopsi, dan pada saat yang sama 
merubah, aspek-aspek dari tema, bentuk, atau gaya dari penulis sebelumnya. 
"Kecemasan (atas) pengaruh" atau "the anxiety of influence" merupakan sebuah 
istilah yang dipakai Harold Bloom untuk teori yang diciptakannya yang merevisi 
secara radikal teori lama di atas yang menganggap pengaruh hanya terjadi 
sebagai sebuah "peminjaman" langsung, atau asimilasi, dari material dan 
unsur-unsur penting sastrawan sebelumnya. Bagi Bloom, dalam penciptaan sebuah 
puisi, pengaruh tak mungkin dielakkan, tapi pengaruh tersebut menimbulkan dalam 
diri penyairnya sebuah kecemasan yang memaksanya untuk membuat distorsi drastis 
atas karya pendahulunya itu. Seorang penyair tergerak untuk menulis puisi 
setelah imajinasinya terpesona oleh puisi "pendahulu"nya. Tapi reaksinya
  atas pendahulunya itu ambivalen, mirip dengan hubungan Oedipal antara anak 
laki-laki dengan bapaknya dalam teori psikoanalisis Sigmund Freud: bukan hanya 
rasa pesona yang timbul tapi juga (karena seorang penyair yang kuat memiliki 
keinginan besar untuk bebas dan orisinal) rasa benci, cemburu, dan takut atas 
penguasaan ruang imajinatifnya oleh pendahulunya tersebut. Karena itulah dia 
membaca puisi pendahulunya secara "bela diri" sehingga mendistorsinya sampai 
tak dikenalinya lagi. Meskipun demikian tetap saja "puisi-induk" (parent-poem) 
yang sudah terdistorsi itu terkandung dalam puisi yang kemudian dituliskannya 
itu. Apa yang paling mungkin dicapai seorang penyair terbaik sekalipun adalah 
menulis puisi yang begitu "kuat" sehingga menimbulkan efek ilusi "prioritas", 
yaitu sebuah ilusi ganda bahwa puisinya sudah mendahului puisi pendahulunya itu 
dalam waktu, dan sudah melampauinya dalam kebesarannya. Menurut Bloom lagi, 
konsep "kecemasan pengaruh" ini tidak hanya terjadi
  pada sastrawan saja tapi juga pada para pembaca sastra. Dalam konteks inilah, 
meminjam istilah Sapardi Djoko Damono waktu memuji Saman, sepanjang pengetahuan 
saya belum ada pengarang lain di Indonesia, baik sebelum maupun sesudah 
Chairil, yang memiliki efek-sejarah (kreatif maupun biografis), atau "kecemasan 
pengaruh", atas sesama pengarang seperti yang disebabkan oleh Chairil.

  Sudah banyak tulisan yang membuktikan, dan susah untuk dibantah, betapa 
kuatnya pengaruh puisi Barat pada puisi Chairil, yang diterimanya lewat 
pendidikan dan terutama bacaannya. Juga terjemahan yang dilakukannya atas karya 
sastra Barat '" baik puisi, cerpen, maupun surat pribadi, dan dari berbagai 
latar-bahasa '" misalnya, merupakan salah satu bukti akrabnya dia dengan dunia 
sastra tersebut. Keakrabannya yang intens dengan sastra Barat ini malah sampai 
membuat dia pernah dianggap sebagai plagiator satu-dua puisi penyair Barat, 
atau puisinya dianggap bukan ditulis untuk pembaca Indonesia karena 
idiom-idiomnya yang kebarat-baratan seperti yang pernah dinyatakan Subagio 
Sastrowardoyo. Terlepas dari tuduhan-tuduhan yang saya pikir lebih bersifat 
cemburu-antar-sesama-seniman ketimbang studi komparatif sastra itu, intensitas 
pergaulan Chairil dengan dunia sastra Barat tersebut apakah lantas membuat dia 
(pernah) diklaim sebagai terlahir bukan dari sastra Indonesia yang cuma
  beberapa tahun saja usianya waktu dia hidup sebagai "binatang jalang" itu? 
Sepanjang pengetahuan saya belum ada yang pernah mengklaim Chairil Anwar tidak 
terlahir dari sastra Indonesia seperti Nirwan Dewanto mengklaim Ayu Utami, 
bahkan tidak oleh Subagio Sastrowardoyo sekalipun.

  Bagaimanapun intensnya pengaruh puisi Barat pada puisi Chairil, kita tetap 
tidak bisa menutup mata pada kemungkinan bahwa Chairil pun tidak akan terlepas 
dari persoalan "kecemasan pengaruh" dari penyair Indonesia sebelum dia, atau 
dari puitika tradisional dalam khazanah sastra lokal yang ada. Adanya relasi 
intertekstual antara puisi Chairil dan puisi Amir Hamzah, misalnya, pernah 
dibuktikan dengan sangat baik oleh peneliti sastra Indonesia Sylvia Tiwon dalam 
eseinya yang berjudul "Ordinary Songs: Chairil Anwar and Traditional Poetics" 
di majalah Indonesia Circle, No 58, June 92, terbitan School of Oriental and 
African Studies, London, Inggris. Dengan membaca Chairil dalam konteks "puitika 
tradisional" Pujangga Baru yang direpresentasikan oleh Amir Hamzah, Tiwon 
berhasil menunjukkan betapa besar "hutang" Chairil pada Amir Hamzah dalam 
beberapa sajaknya yang terkenal, seperti "Jangan Kita di Sini Berhenti", 
"Sia-sia", "Sajak Putih", dan terutama pada "Sorga" dan "Di Mesjid".
  Bukti-bukti pergumulan Chairil dengan puitika tradisional dari khazanah 
sastra lokal yang begitu banyak terdapat pada puisinya yang dianggap 
"kebarat-baratan" itu (pengucapan Pantun pada puisinya, misalnya), seperti yang 
ditunjukkan Sylvia Tiwon tersebut, tidak bisa disepelekan begitu saja, demi 
sebuah resepsi yang lebih kritis atas puisinya, ketimbang sekedar daur-ulang 
mitos binatang jalangnya yang masih terus dilakukan para "kritikus" sastra di 
Indonesia sampai sekarang. Dan juga untuk menghindari euforia pembuatan 
klaim-klaim bombastis yang tak sanggup dibuktikan seperti pada kasus Ayu Utami 
di atas, yang pada dasarnya hanya bertujuan untuk membuat mitologi-mitologi 
dalam sastra Indonesia, dan yang pada akhirnya cuma menghambat kemajuan 
pemikiran kritis dalam sastra kontemporer kita.

  Penyair Inggris asal Amerika TS Eliot pernah menyatakan dalam sebuah eseinya 
yang terkenal tentang pentingnya bagi seorang pengarang untuk menyadari 
posisinya dalam sejarah sastranya, "Tradition and Individual Talent" (1919), 
bahwa "Tak ada penyair, tak ada seniman dalam bidang apapun, yang memiliki 
maknanya sendiri. Penting tidaknya dia, apresiasi atasnya, dilihat berdasarkan 
relasinya dengan para penyair dan seniman yang sudah mati. Kita tidak bisa 
menilainya hanya berdasarkan dirinya sendiri; kita mesti menempatkannya, untuk 
kontras dan perbandingan, di antara yang sudah mati. Ini adalah prinsip kritik 
estetik, tidak sekedar kritik historis". Karena, disukainya atau tidak, seorang 
penyair/seniman itu akan dinilai berdasarkan ukuran-ukuran standar dari masa 
yang sudah lewat, bukan yang akan datang. Dan penyair yang menyadari ini akan 
sadar pula betapa besar kesukaran dan tanggung-jawab sejarah yang dipikulnya 
sebagai sastrawan sastra nasionalnya. Ini menunjukkan juga
  bahwa sejarah sastra, atau tradisi, itu adalah sebuah organisme hidup, 
dinamis, dan berkembang.

  Konsep Eliot ini sangat mirip dengan konsep "intertekstualitas" dalam teori 
pascastrukturalis Prancis. "Intertekstualitas" adalah konsep yang diperkenalkan 
pemikir Feminis Prancis Julia Kristeva berdasarkan pemikiran teoritikus Marxis 
Rusia Mikhail Bakhtin tentang beragamnya suara sebuah teks: polifoni, 
dialogisme, dan heteroglosia. Menurut Kristeva, intertekstualitas adalah 
pluralitas teks yang tak tereduksi di dalam dan di balik setiap teks, dimana 
fokus pembicaraan tidak lagi pada subjek (pengarang) tapi pada produktivitas 
tekstual. Bersama rekan-rekannya penulis dan kritikus di majalah sastra Tel 
Quel di akhir 1960an dan awal 1970an, Kristeva gencar melakukan kritik atas 
konsep "subjek pembuat" (the founding subject) yaitu konsep humanis tentang 
pengarang sebagai sumber-asli-dan-asal dari makna-tetap dan makna-fetish dalam 
sebuah teks. 

  Setiap teks adalah sebuah penulisan kembali atas teks-teks lainnya. Tak ada 
teks yang tidak memiliki interteksnya. Sebuah teks tak dapat berfungsi dalam 
kesendiriannya, terkucil dari teks-teks lainnya. Semua teks hidup dalam 
komunitas teks yang luas, dalam apa yang disebut sebagai sistem interteks. 
Semua teks hidup dalam sistem intertekstual antara teks dengan teks, bahkan 
antara genre dengan genre maupun antara media dengan media. Relasi 
intertekstual antar-teks akan menghasilkan hibriditas teks, teks-indo, teks 
blasteran, campuran antara teks-teks. "Subjektivitas" masing-masing teks 
di-destabilisasi, sentralitas "kepengarangan" masing-masing teks diambrukkan, 
dan "kemurnian" diskursif keduanya dinodai. Intertekstualitas adalah 
pengulangan (repetisi), bukan representasi. Dan dalam peristiwa repetisi 
intertekstual ini, "orisinalitas" masing-masing teks hilang. Kaligrafi dan 
puisi-konkret, misalnya, adalah dua contoh "puisi-rupa" yang tercipta lewat 
peristiwa intertekstual
  antara sastra dan seni rupa.

  Sutardji Calzoum Bachri dalam sebuah esei pendek berjudul "Sajak-sajak Cerah" 
yang mengantar beberapa sajak yang dipilihnya untuk suplemen Bentara, Kompas 5 
Mei 2000, menyatakan, ". . . di tahun 1990-an para penyair kembali menulis 
puisi dengan memperhatikan kata dan tidak melulu menekankan kehadiran kebebasan 
imaji sebagai yang utama. Kata-kata diupayakan menciptakan keutuhan sajak. Dan 
sajak menjadi transparan". 

  Transparansi sajak yang menjadi ciri-utama dari apa yang Sutardji namakan 
sebagai "sajak terang" para penyair 1990an terjadi karena para penyair ini 
mulai jenuh dengan apa yang dilakukan para penyair sebelumnya: para penyair di 
tahun 1970an terlalu sibuk dengan estetika pembebasan kata dari beban makna 
leksikal-gramatikal, sementara penyair 1980an terobsesi untuk membebaskan imaji 
visual pada sajak sebagai estetika puisi mereka. Walaupun mesti dibuktikan lagi 
kebenaran pendapatnya ini atas mayoritas puisi, tidak hanya berdasarkan puisi 
satu-dua penyair belaka, yang ditulis pada kedua periode yang disebutkannya 
itu, demi konteks tema esei ini secara umum saya bisa setuju dengan apa yang 
diungkapkan Sutardji di atas. Tapi saya perlu menambahkan bahwa apa yang 
menjadi ciri-khas penyair 1970an (musikalitas puisi) dan penyair 1980an 
(visualitas imaji) tidak ditinggalkan pada "sajak terang" para penyair 1990an. 
Sebaliknya, kedua unsur utama puisi itu digabungkan dalam bingkai
  kesederhanaan bahasa sehari-hari untuk, meminjam kata-kata Sutardji kembali, 
mengungkapkan realitas yang dialami penyair. Memilih kesederhanaan bahasa 
sehari-hari, kesederhanaan bahasa yang lugas tidak rumit, dengan tidak 
mengorbankan musikalitas dan visualitas bahasa, untuk mengungkapkan realitas 
puitis, adalah ciri berpuisi para penyair yang mulai dikenal luas di dunia 
puisi kontemporer Indonesia pada periode 1990an. Dalam kata lain, penyair 
1990an tidak lagi berusaha untuk menjadi pemusik atau pelukis waktu menulis 
puisi, tapi hanya untuk menjadi penyair.

  Sebuah motif dominan lain pada puisi para penyair 1990an adalah politik. Para 
penyair 1990an tidak lagi tabu atau malu-malu untuk mempuisikan politik, 
mempolitikkan puisi, malah justru pada periode inilah puisi politik mencapai 
puncak ekspresi artistiknya, melampaui apa yang sebelumnya dikenal sebagai 
sajak-protes dan pamflet-penyair, seperti pada puisi Wiji Thukul. Pada puisi 
politik penyair seperti Wiji Thukul kita melihat betapa kemiskinan tidak lagi 
diromantiskan sebagai semacam "hidup alternatif" dari "materialisme kota" atau 
diabstrakkan menjadi sekedar "teori pembangunan yang tidak membumi" tapi 
merupakan pengalaman hidup sehari-hari yang harus dihidupi sang penyairnya 
sendiri. Subjektivitas pengalaman adalah realisme baru dalam puisi politik 
penyair 1990an.

  Inilah cara para penyair 1990an menjadi bagian dari tradisi/sejarah sastra 
Indonesia, inilah relasi intertekstual puisi 1990an dengan puisi-puisi 
sebelumnya.

  *Saut Situmorang, penyair 1990an dan eseis, tinggal di Jogjakarta
  Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

  [Non-text portions of this message have been removed]



   


------------------------------------------------------------------------------


  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG Free Edition. 
  Version: 7.5.503 / Virus Database: 269.15.12/1098 - Release Date: 29/10/2007 
9:28


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke