Dari postingan lama koleksi Mang Ucup di Holland:

Bahasa Indonesia sebenarnya berasal dari bahasa Melayu yg dicampur aduk
menjadi bahasa gado2 dari berbagai macam bahasa Sansekerta, Portugis,
Tionghoa, Belanda, Inggris dsb-nya. Marco Polo adalah orang Eropa pertama yang 
mendarat di Asia Tenggara, maka dari itu juga kamus pertama bhs Melayu ke dlm 
bhs Eropa adalah kamus Melayu - Italy yg disusun oleh Antonio Pigafetta yang 
berbangsa Itali pada tahun 1522. 

Ketika mang Ucup pertama kali tiba di Belanda merasa bingung, karena kata
"keju" dlm bhs Belanda bukanlah keju melainkan "Kaas" sedangkan untuk
mentega adalah "Boter", maklum karena orang Eropa pertama yg memperkenalkan
keju bukanlah orang Belanda melainkan orang Portugis, dlm bhs Porgugis: keju
= queijo, begitu juga dgn mentega = manteiga. Merekalah yg pertama kalinya
memperkenalkan budaya barat kepada bangsa Indonesia, seperti kata gereja =
igreja, meja = mesa, kemeja = camisa dan sepatu = sapatu. 

Bhs Indonesia juga banyak menyerap kata2 dari bhs Tionghoa terutama dlm soal
pangan seperti mie, bihun, bakpau, bacang, tauco, lobak, pecai, cincau,
bakso, bahkan kata "sate" juga sebenarnya berasal dari kosa kata bhs
Tionghoa yg berarti "tiga tingkat". Sedangkan kecap dlm bhs Hokkian
"kueciap" ini mengacu kepada saos tomat, sebab kecap seperti yg kita kenal
di Indonesia dlm bhs Hokkian disebut "taoyu".

Bahasa Arab masuk pada tataran yang lebih luas terutama dalam bidang iptek
dan kemasyarakatan. Lihat saja dalam sistem pemerintahan dikenal kata-kata:
wakil, rakyat, majelis, musyawarah, mahkamah, hukum, hakim, wilayah, asas,
pasal, ayat, dll. Dan dlm bidang iptek, dulu ketika saya masih sekolah masih
dipakai istilah ilmu alam, ilmu hayat, ilmu hewan, ilmu ukur, ilmu falak,
aljabar, kimia, dll. Sebelum akhirnya terdesak dengan biologi, zooologi,
goniometri/stereometri, cosmologi, matematika, dll.

Indonesia dijajah oleh Belanda sekitar 350 th jadi wajarlah andil paling
besar yg paling berpengaruh dlm bhs Indonesia adalah bhs Belanda. Menurut
seorang ahli bahasa ada sekitar 5.000 kata-kata bahasa Indonesia yang
berasal dari bahasa Belanda, tetapi tidak semua kata-kata lazim dan sering
digunakan sebagai bahasa sehari-hari.

Rupanya karena orang Indonesia dahulu sukar mengucapkan lafal huruf W & F
maka akhirnya diubah menjadi huruf B, sebagai contoh ialah waskom menjadi
baskom, wekker = beker, Winkel dirubah menjadi Binkel dan akhirnya menjadi
bengkel. Untuk huruf  f  dan  v diganti dengan  p; franco = perangko,  fiets
= piet, vol = pol, divan = dipan, vanille = panili, versnelling =
persneling, voorschot = persekot, enveloppe = emplop.

Begitu juga dengan suku kata "ui", dari "achteruit", menjadi "ahteret",
ritssluiting = ritsleting, kortsluiting = korsleting,  puin = puing dan dari
kakhuis = kakus. Suku kata  "tje" dlm bhs Belanda dirubah menjadi "ci"
laatjes = laci, kaartjes = karcis, petje = peci, potje = poci

Bukan hanya bhs Indonesia saja yg menyerap kosakata dari bhs Belanda,
kebalikannya pun demikian, karena sudah banyak kosakata bhs Indonesia yg
diserap oleh bhs Belanda sebagai contoh: toko, soerat, kassian, goedang,
hormat, koeli, senang, pienter, sate begitu juga dgn kata nasi, hanya hati2
apabila Anda memesan "nasi" di Belanda, sebab kata "nasi" disini bukannya
berarti "nasi putih" melainkan "nasi goreng".

Bahasa Inggris juga banyak 'meminjam' (borrowing) kata2 dari bhs Indonesia
antara lain: to run amok(ngamuk), compound (kampung), sarong (sarung), gong,
batik, tempeh (tempe), gamelan, dsb. Yg menarik ttg istilah 'word borrowing'
ialah bhw mereka yg meminjam tidak pernah minta ijin dan tidak pula pernah
mengembalikan yg mereka pinjam itu.

Dgn modal pengetahuan tsb saya berusaha mencari kata2 dlm bhs Indonesia yg
diserap dari bhs Belanda, dan ternyata telah berhasil menemukan sekitar
1.500 kosakata yg berasal dari bhs Belanda. Ini memudahkan bagi saya untuk
mempelajari bhs Belanda, sehingga dlm jangka waktu hanya tiga bulan saja
saya sdh bisa berkomunikasi dlm bhs Belanda. Bagi mereka yg terarik untuk
bisa mendapatkan kamus sakti nya mang Ucup mohon hubungi saya per japri :
[EMAIL PROTECTED]
nanti akan saya fwd secara gratis per email. 

Aneh bin nyata bangsa Jepang mengalami kesulitan untuk mengucapkan lafal "l"
sehingga kata Hotel menjadi Hoteru, sedangkan Hallo menjadi Harro,
kebalikannya orang Tionghoa kesulitan mengucapkan lafal "r" sehingga kata2
yg ada huruf "r" nya jadi pelo diucapkannya, padahal kalau direnungkan ras
dan daerah mereka tinggal tidak berjauhan satu dgn yg lain. 

Berdasarkan Noam Chomsky, seorang ahli bahasa kenamaan dari Amerika, ini
sebenarnya tidak tergantung dari ras atau etnis darimana manusia itu
berasal, sebab setiap bayi yg dilahirkan di dunia ini telah dilengkapi dgn
perangkat bahasa yg dinamakan Language Acquisition Device (LAD), jadi
bertentangan dgn teori bahwa tiap bayi yg dilahirkan itu bak piring kosong,
atau tabularasa. 

Perangkat LAD ini bersifat universal, dibawa anak sejak lahir, sehingga
dapat dikatakan ia sudah dibekali pengetahuan tertentu tentang bahasa. Yg
dibutuhkan untuk mengembangkan kemampuan berbahasanya hanyalah masukan guna
mengaktifkan tombol-tombol universal itu. Sesungguhnya, perangkat bahasa
inilah yg memungkinkan anak bisa memperoleh bahasa apa pun.

Sebagai contoh apabila seorang anak Bule dilahirkan di Shanghai, selama
beberapa tahun memakai bahasaTionghoa, bergaul dgn anak-anak yg berbahasa
Tionghoa, ia tidak hanya akan bisa berbahasa Tionghoa, tetapi bahasa
Tionghoa nya akan menjadi serupa dgn bunyi bahasa Tionghoa penduduk Shanghai
tulen, berarti ia juga nantinya akan turut menjadi pelo untuk mengucapkan
lafal huruf "l'.

Dgn ini saya akhiri oret2an saya mengenai Bahasa.

Mang Ucup
Email: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: www.mangucup.org


mediacare
http://www.mediacare.biz


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke