Per-tama2 aku tanya kepada sampeyan, berapa siswa2 asal Indonesia yang kena
musibah seperti berita dibawah ini?......dari 16 ribu-an siswa yang menuntut
ilmu disini?
Ngak ada didunia ini satu negarapun yang 100% bebas dari kriminalitas,
diskriminasi, rasisal-isme dan kejahatan2 lain. Bedanya ya...seperti aku sering
katakan...apakah urusan kejahatan di Ostrali itu didiamkan saja atau di
tuntasin? Itulah bedanya.
Apalagi kalau menyangkut para penuntut ilmu dari luar negeri(foreign
student), apalagi kalau misal-e kejadian2 kejahatan sering menimpa para pelajar
dari luar, maka pastilah pemerintah melalui jalur resmi, pulisi dan pengadilan
akan memberikan perhatiannya 100% untuk menuntasi-nya. Kenapa? Lha pemerintah
Oz sini itu mengambil keuntungan(devisa yang masuk) dari foreign student itu.
Common sense-nya bilang kalau ada pemasukan yang bagus, kalau di ganggu ya
tentunya pemerintah akan turun tangan, simple as that bukan?
Jadi tenang2 saja sampeyan, ngak perlu risau kalau ada berita semacam ini.
Pertama: Oz bukan bebas 100% dari kejahatan, kalau mau bebas dari segala
kejahatan ya tunggu saja nanti apabila, bagi yang percaya....nanti dikemudian
hari ( bagi yang percaya) .... sudah duduk disamping Tuhan, di kerajaan surgawi.
Tambahan,imbuhan sampingan, sayangnya si Andi itu tidak kenal sama aku
duluan. Apalagi cuman ngelawan 2 cowok+satu cewek, ngak sampai Andi kewalahan,
aku akan coach dia dengan tendangan2 taekwondo. Bukan dia yang jadi korban,
bisa2 para kriminal itu akan babak bundas, deldel duwel dan mereka akan
diangkut ke RS., he he he he....
Harry Adinegara.
PS: Gimana tuh perkaranya Bung Munir? Sudah ketahuan siapa pembunuhnya? Lha
gimana sih satu orang dibunuh saja ngak bisa nuntasin, belum yang jutaan
manusia di bunuhin(era Orba)
Yap Hong Gie <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Dear Master Harry,
Ternyata Pemerintah sampeyan masih belum rela melepaskan 'The White
Australia' Policy mereka, walaupun kelompok masyarakat yang melakukan aksi
terhadap para imigran; khususnya sentimen rasis anti-Asia.
Tapi, kalau sikap Pemerintah Australia tegas dalam melindungi kaum
minoritas, dimana law & order dijalankan secara benar, mana mungkin publik
Australi berani bertindak brutal seperti itu ........ as simple as that!
Ternyata, dibalik tabir kemunafikan, sami mawon ... Deldel Duwel juga ...
Wassalam, yhg.
----------------
http://www.gatra.com/artikel.php?id=109067
Mahasiswa Indonesia Dirampok 3 Pemuda Australia
Brisbane, 30 Oktober 2007 08:50
Ketua Ranting Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia (PPIA) di
Universitas Victoria, Andi Syafrani, dirampok dan dipukuli dua pemuda dan
seorang pemudi Australia kulit putih, di halaman parkir Stasiun Kereta
Footscray, Senin dinihari (29/10).
Para perampok merampas mobil, telepon genggam dan uang 100 dolar Australia
milik mahasiswa semester tiga program magister komparatif hukum bisnis di
Universitas Victoria, Melbourne, itu.
"Kasus ini murni kriminal," katanya kepada Antara yang menghubunginya dari
Brisbane, Senin.
Andi mengatakan, perampokan dengan kekerasan yang terjadi di Footscray,
daerah yang dikenal sebagai "Bronx" (daerah rawan kejahatan)-nya Melbourne
karena menjadi tempat transaksi narkoba itu terjadi sekitar pukul 01.00 dini
hari, saat dirinya hendak masuk ke mobilnya yang diparkir di halaman
stasiun, sepulang dari tempat kerja.
"Saya kebetulan dalam dua minggu terakhir ini diminta untuk bekerja pada
shift malam, karena menggantikan teman saya yang lagi ujian. Jam kerjanya
dari pukul 15.00 hingga 23.30 atau 24.00 . Karena tidak ada lagi kereta,
saya naik taksi ke Stasiun Footscray sekitar pukul 00.30 Senin dinihari,"
katanya.
Setibanya di halaman parkir mobil stasiun itu, dua orang pemuda dan seorang
pemudi Australia kulit putih bersama dua anjing mereka sudah menunggu
dirinya.
"Pas (ketika) turun dari taksi dan mau nyamperin mobil saya, mereka
berteriak-teriak memanggil saya seraya memaksa meminta uang 100 dolar. `A
hundred bucks`," kata mereka memaksa.
"Lantas saya berucap `I don`t have...` sambil masuk ke mobil. Namun mereka
mengejar. Dan tibat-tiba di cewek bule itu langsung duduk di depan setir
sambil meminta kunci mobil".
Andi mengatakan, ia tetap mempertahankan kunci mobil itu namun situasi
berubah menegang. Mereka menarik kunci mobil dan mulai memukul dirinya.
"Pada mulanya saya mencoba tidak mau melawan sambil mempertahankan kunci
mobil. Tapi akhirnya saya memutuskan untuk melawan mereka bertiga. Kami
bergulat. Dan saya mempertahankan diri habis-habisan. Satu dari dua orang
pemuda itu melarikan diri karena ketakutan."
Namun mereka kemudian melarikan mobil setelah berhasil merampas kunci mobil,
telepon selular dan uang 100 dolar.
"Saya hanya berhasil menarik dompet saya dari tangan perampok itu.
Suasananya sepi dan tidak ada saksi mata pada saat kejadian itu," katanya.
Dengan muka yang lembam dan darah yang mengucur, ia berjalan keluar halaman
parkir untuk mencari pertolongan.
"Kebetulan tidak jauh dari situ, ada pangkalan taksi. Saya meminta tolong
salah seorang supir taksi untuk menghubungi polisi," katanya.
Mobil polisi tiba di tempat kejadian 15 menit setelah ditelepon. Pada
awalnya polisi mengira bahwa yang mengalami perampokan mobil adalah supir
taksi namun setelah dijelaskan petugas itu baru mengerti bahwa dirinya yang
mengalami kasus perampokan itu, katanya.
"Polisi kemudian langsung menanyakan nama dan kartu identitas saya, mengambi
foto dan mengecek tempat kejadian perkara. Setelah itu mengantar saya ke
Rumah Sakit Western Hospital Footscray. Baju dan celana saya kotor dengan
noda-noda darah," katanya.
Andi mengatakan, ia masih merasakan nyeri di bagian matanya kendati pihak
dokter rumah sakit itu telah mengecek kondisi matanya.
"Baru pada hari Selasa (30/10), saya akan operasi mata di Rumah Sakit
Sunshines Melbourne," katanya.
Kejadian yang menimpa dirinya itu dianggap Andi sebagai "murni kasus
kriminal" yang sekaligus membuktikan bahwa di negara maju seperti Australia
sekali pun kejahatan tetap mengintai orang-orang asing seperti dirinya.
Namun menurutnya, kasus yang menimpa dirinya itu bukanlah kejadian buruk
pertama yang dialami mahasiswa Indonesia di Australia.
Berdasarkan informasi yang diterimanya, seorang mahasiswi Indonesia yang
baru tiba untuk kuliah di Universitas Monash bahkan pernah dipukuli seorang
pemuda Australia yang mengusirnya agar pulang ke Indonesia.
Di kota Sydney, beberapa kasus kejahatan lain pun pernah dialami warga
Indonesia, katanya.
Dalam beberapa kasus yang menimpa warga Indonesia, termasuk mahasiswa, itu,
kejadian buruk tersebut terjadi bukan karena mereka orang Indonesia tapi
cenderung karena sentimen rasis anti Asia, katanya.
"Mungkin kompetisi pasar tenaga kerja menjadi isu serius. Ada kecemburuan
warga lokal kepada para migran," kata Andi.
Sementara itu, Konsul Jenderal RI di Melbourne, Budiarman Bahar, yang
dihubungi secara terpisah membenarkan kejadian buruk yang menimpa mahasiswa
Indonesia di Universitas Victoria itu.
Namun, kasus perampokan yang menimpa Andi Syafrani yang juga pengurus pusat
PPIA itu bukanlah sebuah kecenderungan bagi komunitas mahasiswa dan warga
Indonesia di Melbourne, katanya.
"Perampokan ini kasuistis saja. Ya hanya `bad luck` (nasib buruk) saja.
Tapi, saya mengimbau para mahasiswa dan warga Indonesia yang pulang malam
agar berhati-hati dan menghindari daerah-daerah rawan kejahatan," katanya.
"Sebaiknya, mereka sebisanya tidak pulang jauh-jauh malam. Dan kalaupun
harus pulang malam, sebaiknya mencari teman pulang," kata Budiarman Bahar.
Di seluruh Australia, Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI di KBRI Canberra
mencatat jumlah mahasiswa Indonesia mencapai 16.800 orang. Mereka menuntut
ilmu di berbagai universitas di kota-kota penting Australia, seperti Sydney,
Melbourne, Brisbane, Canberra, Perth, Adelaide, dan Darwin. [TMA, Ant]
---------------------------------
National Bingo Night. Play along for the chance to win $10,000 every week.
Download your gamecard now at Yahoo!7 TV.
[Non-text portions of this message have been removed]