----- Original Message ----- 
  From: teddy sunardi 
  To: [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; B.DORPI P. 
  Sent: Sunday, November 04, 2007 2:24 AM
  Subject: [mediacare] Menyentil Malaysia lewat Wayang Listrik


  sumber: http://www.suarapembaruan.com/News/2007/11/03/Hiburan/hib01.htm

  Dalang asal Bali, Made Sidia, tampil dalam pertunjukan Wayang Listrik yang 
mengangkat cerita "Perjalanan Tualen" pada Festival Seni Pertunjukan 
Kontemporer di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis (1/11). 

  Festival seni pertunjukan kontemporer Art Summit digelar untuk kelima 
kalinya. Suguhan pertama adalah Wayang Listrik, pedalang Made Sidia. Selain 
unik, Made Sidia mendalang kisah "putus cinta" Indonesia -Malaysia. 

  Ketidakharmonisan Indonesia dan Malaysia, khususnya di bidang kerja sama 
tenaga kerja, dan seni budaya memberi inspirasi pedalang Made Sidia untuk 
menuangkannya dalam lakon berjudul Perjalanan Tualen yang ditampilkan pada 
pembukaan acara Art Summit Indonesia ke-5 tahun 2007, di Graha Bhakti Budaya, 
Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada Kamis (1/11) malam. 

  Perjalanan seorang tualen (punakawan) dan seorang anaknya dimulai saat mereka 
berada di hutan. Di tengah perjalanan tanpa sengaja mereka bertemu dengan 
seekor macan. Berbagai upaya pun dilakukan untuk mengusir macan agar tak 
memangsa mereka. 

  Dari mulai membujuk hingga merayunya, tapi sang macan tetap ganas dan 
berusaha menerkam mereka. Tualen pun tak hilang akal, dia berusaha menghibur 
macan dengan menyanyikan sebait syair lagu dalam bahasa Bali , tapi ternyata 
lagu itu tak mampu menjinakkan macan. 

  Kemudian potongan syair lagu Indonesia Raya pun didendangkannya, namun tetap 
saja lagu kebangsaan negara Indonesia itu tak mampu meredam nafsu macan untuk 
memangsa mereka. 

  "Oh, he doesn't like Indonesian song, maybe his a Malaysian tiger!," seru 
Tualen pada anaknya dalam logat bahasa Inggris yang kaku. 

  Penonton pun tertawa geli mendengarnya. Dialog antara Tualen dan anaknya yang 
diucapkan dalam bahasa Inggris kerap memberi hiburan tersendiri bagi para 
penonton yang berasal dari negara-negara peserta Art Summit Indonesia 2007, 
seperti Indonesia, Jerman, Spanyol, Singapura, Argentina, Mesir, India, New 
Zealand, Korea dan Belgia. 

  Pertunjukan wayang yang berdurasi sekitar satu jam pun terasa tak 
membosankan, dan mampu mengusir rasa kantuk yang mulai menyerang. Apalagi 
sebelumnya penonton sempat disuguhkan tontonan membosankan, saat panitia 
menayangkan cuplikan video dokumenter pertunjukan para peserta Art Summit 
Indonesia ke-1 dan 2. 

  Selain terlalu lama, karena memakan waktu hampir satu jam, kualitas gambar 
tayangan video itu pun sangat memprihatinkan untuk sebuah ajang internasional 
sekelas Art Summit. Gambarnya yang tak jernih, dengan sound system yang 
"naik-turun" membuat beberapa penonton memutuskan untuk meninggalkan tempat 
duduk mereka. 

  "Acaranya membosankan," kata seorang penonton kepada rekannya seraya berlalu 
dari tempat duduknya.

  Untunglah, acara kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan wayang listrik yang 
digarap dengan menggunakan tiga layar dalam ukuran berbeda. Dalam mendalang, 
Made juga dibantu empat dalang lainnya dalam menggerakkan berbagai karakter 
yang ditampilkan. 

  Made juga menggunakan proyektor untuk menampilkan rekaman video dan 
gambar-gambar digital sebagai latar belakang di hampir sebagian besar adegan 
dalam pementasannya. Tampilannya makin memikat karena ada permainan cahaya dan 
instrumen musik modern, seperti dram dan gitar. 

  Dengan bantuan papan luncur (skateboard), setiap dalang dapat dengan mudah 
berganti-ganti posisi sesuai dengan peran yang tengah dimainkannya. Pemakaian 
papan luncur ini telah menjadikan mereka dijuluki Wayang Skateboard oleh 
komunitas asing di Bali. 




  Metode Kontemporer 

  Meski dibantu empat dalang, Wayang Sira, Ida Bagus Darma Witama Putra, Nyoman 
Sudarma, I Wayan Swarmadja, dan Ida Bagus Surya Merdika yang membantu 
mengoperasikan komputer, dalam keseluruhan pertunjukan, Made tetap menjadi 
narator di samping ikut memainkan wayang. 

  Made bukanlah nama baru dalam dunia pertunjukan wayang. Bahkan metodenya yang 
kontemporer telah membawa pertunjukan wayang di Bali memasuki era baru dan 
karyanya telah dipertunjukkan di berbagai pentas di dalam dan luar negeri. 

  Jika pertunjukan wayang tradisi memakai blencong (lampu minyak) yang 
dinyalakan dengan minyak kelapa untuk memproyeksikan wayang ke layar, maka pada 
karya kontemporer ini yang digunakan adalah proyektor yang dioperasikan oleh 
komputer. 

  Pemakaian komputer memberikan gambar dan visual effect yang lebih jelas 
sebagai latar dalam pertunjukan. Dan menampilkan gambar-gambar yang berbeda, 
dari hutan, gunung, candi, dan laut, baik berwarna maupun hitam putih. Cara ini 
membuat pertunjukan wayang kulit kontemporer lebih menyerupai pertunjukan film. 

  Selain isu mengenai ketakharmonisan Indonesia dan Malaysia, dalam kisah yang 
diangkat dari cerita epik Ramayana ini, Made juga mengangkat lima bahaya (panca 
baya-Red) yang mengancam kelangsungan hidup manusia.

  Pertama, bahaya dari air, seperti tsunami, tanah longsor dan lain-lain, kedua 
geni baya atau bahaya dari api, seperti global warming, kebakaran hutan, dan 
lain-lain, ketiga duratmaka baya, seperti pencuri, pemerkosa, korupsi, dan 
lain-lain, keempat ripu baya yang berarti bahaya dari dalam diri kita (amarah) 
atau bahaya dari dalam dan luar negeri, dan kelima adalah jiwa baya yaitu 
bahaya akibat ketidakperdulian kita pada diri sendiri, seperti minum-minuman 
keras, obat-obatan terlarang, bunuh diri, dan lain-lain. 

  "Kelima bahaya itu yang kini mengancam kelangsungan hidup manusia. Kita 
seharusnya waspada terhadap ancaman ini," kata Made.

  Pertunjukan Perjalanan Tualen mengekspresikan kegelisahan Made menghadapi 
situasi zaman yang melintas di depan matanya. Ia begitu masygul melihat betapa 
tabiat manusia di masa kini ternyata belum jauh beranjak dari primata. 

  Sebelum acara pembukaan dimulai para undangan yang hadir di hari pertama Art 
Summit 2007 ini disuguhi seni instalasi Le Buffet Flottant (hidangan yang 
mengapung-Red). Lebih dari 500 balon berwarna hijau yang diisi dengan helium 
ditata menggantung di sebuah ruang tempat perjamuan. Pada tiap balon digantung 
sebuah kotak berisi penganan kecil seperti kismis, coklat yang diimpor langsung 
dari Perancis. 

  Setiap tamu diperbolehkan mengambil kotak makanan yang tergantung di ujung 
tali balon-balon tersebut untuk mencicipi isi di dalamnya. Setelah kotak 
diambil, balon pun akan terbang dan secara perlahan karya dua seniman asal 
Perancis, Emmanuelle Becquemin (31) dan Stephanie Sagot (32) ini pun menghilang 
dan berubah tak beraturan. 

  Inti dari karya ini adalah melibatkan unsur konsumsi ke dalam proses kreasi 
karya. Karya yang dihasilkan merupakan pengalihan dari fungsi utama material 
yang digunakan, menciptakan dunia penuh kepekaan, puisi dan kesatuan yang 
saling berbagi rasa. [Y-6] 



  -- 
  Teddy Sunardi 

   


------------------------------------------------------------------------------


  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG Free Edition. 
  Version: 7.5.503 / Virus Database: 269.15.19/1106 - Release Date: 02/11/2007 
21:46


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke