Menarik sekali bahan ini, saya kira memang seharusnya diluruskan semuanya, 
supaya adil jangan hanya salah satu saja. Dan kita yang tidak tahu ahirnya 
bisa mempertimbangkan dengan saksama dan menilai secara dil apa yang terjadi 
zaman sebelum orde baru.
Salam lestari, Zohra Andi baso
----- Original Message ----- 
From: "radityo djadjoeri" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>; 
<[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>; 
<[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>; 
<[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>; 
<[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>; 
<[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>; 
<[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>; 
<[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>; 
<[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>; 
<[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>; 
<[email protected]>; <[EMAIL PROTECTED]>; 
<[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Saturday, November 03, 2007 11:20 AM
Subject: [ppiindia] Ada apa dengan "Manikebu"?


> sumber:
> 
> http://artculture-indonesia.blogspot.com/2007/11/fiksi-dan-fakta-manikebu.html
>
>
>
>  From: Farida Wardhani
> E-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
> Saya terkejut membaca postingan E. Harikumara, yang menunjukkan adanya 
> penyimpangan dalam cerita tentang "Manikebu" yang tidak sesuai dengan 
> faktanya seperti tertulis dalam teks.
>
> Saya tidak akan menyebut ini "penggelapan sejarah", akan tetapi memang 
> memalukan juga bahwa selama 40 tahun tidak ada yang mencoba mengecek 
> sendiri bagaimana "Manikebu" sebenarnya.
>
> Tidak kalah memalukan ialah bahwa hampir tidak satu pun suara yang 
> menyebut apalagi mengecam pemberangusan Manikebu di tahun 1964.
>
> Selama ini cerita yang beredar ialah pertentangan antara "Lekra" dan 
> "Manikebu" merupakan pertentangan antara "humanisme universil" dari 
> "Manikebu" dengan (katakanlah) "sosialisme" dari "Lekra". Juga antara 
> "seni untuk seni" dengan "seni untuk rakyat".
>
> Tetapi jika Manikebu tidak berpendirian "seni untuk seni" dan malah 
> menolak bentuk tertentu "humanisme universil", lalu apa sebenarnya yang 
> jadi pertentangan? Mengapa Manikebu dikalahkan dalam pertentangan itu?
>
> Bagi generasi muda, semua itu masih gelap. Saya harap beberapa di antara 
> generasi zaman 1960-an yang masih hidup, termasuk Goenawan Mohamad 
> (Manikebu) dan Putu Oka (Lekra) sudi menjelaskannya.
>
> Farida Wardhani.
>
> _____________________________
>
> Fiksi dan fakta "Manikebu"
>
> From: Ernesto Harikumara
> E-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
>
> Akhir-akhir ini "Manikebu" disebut-sebut lagi. Saya jadi tertarik untuk 
> membaca sendiri teks pernyatan yang disebut "Manifes Kebudayaan" di tahun 
> 1963 itu. Terutama setelah muncul tulisan E. Endratmoko dalam blog ACI 
> (Art-Culture-Indonesia) yang menunjukkan kesalahan seorang penulis makalah 
> tentang "Manikebu". Setelah saya dapatkan teks itu (dapat dicari dengan 
> Google), saya temukan bahwa kesalahan memang sering terjadi tentang 
> "Manikebu".
>
> Sebelum saya masuk ke dalam persoalan itu, saya tuliskan beberapa data. 
> Teks "Manikebu" berjudul "Manifes Kebudayaan" dan diterbitkan pertama 
> kalinya dalam Majalah Sastra, no.9/10, tahun II, 1963. Mengapa disebut 
> "manifes" dan bukan "manifesto"? Tidak ada penjelasan.
>
> Naskahnya terdiri dari enam halaman. Halaman pertama teks manifesto itu, 
> terdiri dari empat paragraf. Di bawah teks itu, terdapat 20 nama 
> sastrawan, perupa dan komponis, antara lain H.B. Jassin, Trisno Sumardjo, 
> Wiratmo Sukito, Zaini, Taufiq Ismail, Goenawan Mohamad, Soe Hok Jin (yang 
> kemudian memakai nama Arief Budiman), Binsar Sitompul.
>
> Halaman ke-2 sampai dengan ke-6, berisi "Penjelasan Manifes Kebudayaan". 
> Terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama: "Pancasila sebagai Falsafah 
> Kebudayaan", "Kepribadian dan Kebudayaan Nasional", dan "Politisi dan 
> Estetisi".
>
> Halaman terakhir disebut nama tempat dan tanggal: "Djakarta, 17 Agustus 
> 1963". Juga sebuah daftar bacaan yang disebut "Literatur 
> Pancasila"&#65533;. Dalam daftar ini terdapat dua tulisan Bung Karno, satu 
> tulisan Dr. H. Roeslan Abdoelgani, dan satu tulisan Wiratmo Sukito.
>
> [Catatan saya dari penelitian: Manifesto ini kemudian diejek dengan 
> sebutan "Manikebu" oleh media massa seperti Harian Rakjat, suratkabar PKI, 
> lembaran kebudayaan "Lentera" yang dipimpin Pramoedya Ananta Toer dalam 
> koran Bintang Timur. Dalam koran-koran itu juga dimuat laporan tentang 
> aksi pengganyangan "Manikebu"]
>
> Nama itu melekat hingga sekarang. "Manikebu" kemudian dikaitkan dengan 
> beberapa pendirian tentang kebudayaan dan politik. Terutama tentang 
> "humanisme universil" dan "politik dan kesenian". Ini menunjukkan secara 
> tidak langsung bagaimana besarnya pengaruh kedua media itu waktu itu dalam 
> opini politik.
>
> Lebih dari 40 tahun kemudian, ketika membaca teks "Manifes Kebudayaan" 
> (seterusnya saya singkat MK) sendiri, saya menemukan hal-hal yang 
> mengejutkan. Rupanya terdapat beberapa sangkaan yang bertentangan dengan 
> fakta tertulis.
>
>
> Tentang "Humanisme Universil"
>
> Umum dikatakan, "Manikebu" membawakan pendirian "humanisme universil". 
> Ternyata teks MK menyebut ada dua makna 'humanisme universil', dan MK 
> menolak salah satu dari makna itu:
>
> "Apabila dengan 'humanisme universil' dimaksudkan pengaburan kontradiksi 
> antagonis, kontradiksi antara kawan dengan lawan, maka kami akan menolak 
> humanisme universil itu. Misalnya sebagaimana yang dilakukan oleh NICA 
> dahulu, di mana diulurkan kerjasama kebudayaan di satu pihak, tetapi 
> dilakukan aksi militer di lain pihak."
>
> Tetapi MK mendukung 'humanisme universil' apabila humanisme itu mengakui 
> 'kebudayaan universil' yang merupakan "perjoangan dari budinurani 
> universil dalam memerdekakan manusia dari setiap manusia dari rantai dan 
> belenggunya".
>
> Rakyat di manapun, kata MK, "tidak mau ditindas oleh bangsa-bangsa lain, 
> tidak mau dieksploitir oleh golongan-golongan apapun, meskipun golongan 
> itu adalah bangsanya sendiri".
>
>
> Tentang "Seni Untuk Seni"
>
> Benarkah "Manikebu" berpendirian 'seni untuk seni'? Ternyata dalam MK 
> terdapat kalimat ini: "Pekerjaan seorang seniman senantiasa harus 
> dilakukan di tengah-tengah dunia yang penuh dengan masalah-masalah, analog 
> dengan pekerjaan seorang dokter yag senantiasa harus dilakukan di 
> tengah-tengah dunia yang penuh dengan penyakit-penyakit."
>
> Dari sini dapat disimpulkan agaknya, bahwa bagi "Manikebu" pekerjaan 
> seorang seniman sejajar dengan pekerjaan penyembuhan di masyarakat. Jadi 
> bukan 'seni untuk seni'.
>
>
> Tentang "Seni dan Politik"
>
> Pendirian MK mengenai seni dan politik bertolak dari tentang paham 
> 'realisme sosialis'. Menurut MK, ada dua macam 'realisme sosialis' dalam 
> sejarahnya. Yang pertama, yang merupakan lanjutan konsepsi kebudayaan 
> Stalin. Bermula di Uni Soviet, dalam tahun 1930-an, berkembang pemujaan 
> ("festisyisme") kepada Stalin, pemimpin komunis internasional masa itu. 
> Dalam masa ini, kebudayaan 'terancam dengan sangat mengerikan. Di bawah 
> Stalin, kesenian "ditertibkan" menurut "konsepsi yang sama dan 
> sektaristis". Inilah "realisme sosialis" yang dasarnya adalah paham 
> "politik di atas estetik".
>
> [catatan dari penelitian saya: "Realisme Sosialis" dijadikan doktrin resmi 
> di bawah pemerintahan Stalin di tahun 1932 di Rusia. Pada masa itu 
> digalakkan "pemujaan kepada Stalin" dalam propaganda melalui seni. 
> Pemujaan ini, sering disebut sebagai "personality cult" atau "kultus 
> pemimpin", kemudian dibongkar setelah Stalin wafat].
>
> Akan tetapi di samping "realisme sosialis" model Stalin, MK menyebut 
> adanya "realisme sosialis" yang lain, yaitu yang diperkenalkan oleh Maxim 
> Gorki. "Realisme sosialis" ini mengakui bahwa "kebudayaan tidak sebagai 
> suatu sektor politik". Bahkan menurut MK, dalam pandangan "realisme 
> sosialis" Gorki, kebudayaan adalah "induknya kehidupan politik".
>
> Maka MK hanya menentang "realisme sosialis" menurut ajaran Stalin. MK 
> menentang "politik sebagai panglima". Akan tetapi MK juga menganggap 
> "faham estetik di atas politik" adalah "bersifat borjuis". MK menyebut 
> "fungsi estetik murni" sebagai "imperialisme estetika".
>
>
> Kesimpulan:
>
> Ternyata tidak betul, bahwa "Manikebu" menyuarakan "humanisme universil", 
> berprinsip "seni untuk seni" dan mengutamakan "estetik di atas politik".
>
> Yang masih perlu diteliti ialah mengapa "Manikebu" kemudian selalu 
> digambarkan dengan keliru sampai sekarang. Masih juga perlu para sejarawan 
> meneliti mengapa "Manikebu" dilarang Pemerintahan "Demokrasi Terpimpin" 
> pada tanggal 8 Mei 1964.
>
> Kesan saya, sejak di tahun 1964, MK telah mengalami "penggelapan" sejarah. 
> Sekarang ketika "penggelapan" sejarah tentang G30S, Aidit dan PKI mulai 
> diungkap, banyak kejadian atau kasus di masa lalu harus disoroti dan 
> diperiksa kembali. Di antaranya MK.
>
>
>
>
> blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com
>
>
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
> http://mail.yahoo.com
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
> ***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia 
> yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
> http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
> ***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>

Kirim email ke