http://www.antara.co.id/arc/2007/11/2/penyimpangan-prilaku-remaja-rentan-ganggu-otak/

*Penyimpangan Prilaku Remaja Rentan Ganggu Otak*

Bandung (ANTARA News) - Penyimpangan prilaku pada usia remaja adalah cermin
proses pertumbuhan ataupun perkembangan fisik serta psikis, namun
penyimpangan yang berlebih itu, diungkapkan pakar kesehatan anak, sangat
rentan terhadap gangguan otak.

Pakar Kesehatan Anak dan Remaja, RS Hasan Sadikin Bandung, Prof DR Kusnandi
Rusmil di Bandung, Jumat, proses tingkah laku diatur oleh berbagai sumber
dari otak, dan ketika ada kelainan tertentu pada otak maka akan berpengaruh
terhadap tingkah laku.

"Ketika seorang anak mengalami hiper aktif, maka saat memasuki remaja mereka
cenderung akan bertingkah laku berlebih, dan cenderung mengarah kepada
kenakalan remaja," ujar Ketua Satgas Remaja, Pengurus Ikatan Dokter Anak
Indonesia (IDAI).

Dikatakan Kusnandi, gangguan tersebut cenderung akan bertambah berlebih
ketika berbagai pengaruh negatif dari luar, seperti lingkungan serta
penggunaan narkotika turut merangsang otak anak.

Hal tersebut apabila dibiarkan akan merusak kepribadian serta lingkungannya,
ucapnya, namun proses dimaksud bisa diredam melalui intervensi berupa
penanganan konseling serta tindakan medis lainnya.

Pakar Psikologi Universitas Indonesia (UI), Prof Dadang Hawari, mengatakan
saat ini berbagai tindakan yang dilakukan dalam penanganan prilaku remaja
cenderung masih kurang tepat.

Dikatakan, penanggulangan ketergantungan pada narkotika ataupun miras saat
ini masih banyak yang menggunakan `metadon` ataupun `subutet`, padahal kedua
jenis obat itu mengandung jenis narkotik juga.

Menurut Dadang, penggunaan kedua jenis obat itu harus segera bergeser kepada
pengobatan dengan menggunakan antipsikotik, antidepresan ataupun anti
penkiller berupa golongan `NSID` yang sama sekali tidak mengandung unsur
narkotik.

Penggunaan ketiga jenis obat itu bisa diselesaikan pada rentang waktu hanya
satu minggu karena mampu mematikan serta membuang berbagai racun yang
terkandung dalam penggunaan narkotika, ujarnya.

Berdasarkan penelitiannya sejak 2000 lalu, rehabilitasi ketergantungan pada
narkotika yang lebih disebabkan faktor sugesti para pengguna narkotika bisa
diselesaikan pula melalui metode pendekatan agama.

"Penelitian yang saya hasilkan ketika seseorang yang memasuki masa
rehabilitasi melakukan ibadah sholat penuh lima waktu disertai dzikir, dan
menjalankan ibadah sunah lainnya maka daya sugesti yang dimiliknya hanya
tinggal enam persen," tandas Dadang.(*)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke