Bicara masalah anak memang selalu menarik. Khususnya bagi orang yang punya anak.
Kalau saya, selama ini 'dihujani' pertanyaan-pertanyaan jujur dari anak saya yang pertama, Orion (5). Saat adiknya lahir dia protes. Saya memang sengaja tidak kasih tahu dia bahwa adiknya akan lahir. Dia tetap sekolah seperti biasa (TK). Setelah tahu adiknya lahir, dia protes. "Harusnya Oi, (panggilannya) dikasih tahu. Oi kan pingin tahu adik keluarnya dari mana," protesnya. Hari ini kami serumah juga dibuat mesem. Sambil ngelap sepatu mau berangkat sekolah, dia tanya tentang nyawa. "Nyawa itu besar atau kecil, sih?" tanyanya. Siapa yang tidak bingung ditanya seperti ini. Akhirnya harus diberi penjelasan panjang lebar. Karena terus dipepet, saya menyerah. "Nanti kiamat baru kita bisa tanya sama Allah," jawab saya. Dia tak terima, "Kenapa harus menunggu kiamat. Allah itu punya HP, nggak. Papa tahu nomornya. Kalau tahu kita telepon," katanya polos. Singkat cerita, pertanyaan-pertanyaan nyeleneh ini selalu saya catat di buku harian. Kelak akan saya tunjukkan padanya. Sekarang dia tidak tahu bahwa pertanyaan itu dicatat. Kalau tahu saya khawatir dia ikut-ikutan corat coret. Saya bercita-cita kelak jika memungkinkan ini saya bukukan. Edy Supratno (0817259124) Wartawan Jawa Pos Radar Kudus Satrio Arismunandar <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Umumnya orangtua selalu mengajari anaknya untuk berlaku jujur. Tetapi, kalau terlalu jujur dan tanpa basa-basi, betul-betul merepotkan. Ini yang saya alami pada dua putri saya, Dhifa (kelas IV SD) dan adiknya Rifa (kelas II SD). Anak saya ketiga, Fawwas Ahmadinejad (4 bulan), adalah laki-laki dan masih terlalu kecil. Dhifa sekali waktu pernah diajak ibunya ke rumah seorang teman. Ketika sedang bertamu, Dhifa nyeletuk, Mama, rumahnya kok jelek ya? Istri saya tentu saja merasa sangat malu pada tuan rumah. Ia buru-buru minta maaf dan lalu memarahi Dhifa. Lain Dhifa, lain lagi adiknya Rifa. Rifa memang kritis. Suatu ketika dia diberi tugas oleh gurunya, untuk membuat tulisan tentang anggota keluarga. Tulisan itu dibacakan di depan kelas. Rifa pun menulis kira-kira begini: Papaku seorang wartawan politik. Dia pernah muncul di televisi lho. Mamaku galak sekali. Aku punya seorang kakak. Dia judes sekali. Adikku gendut sekali. Keluarga kami tidak rukun. Guru dan seisi kelas tentu saja tertawa geli mendengar cerita itu. Dhifa lalu menceritakan kasus cerita Rifa itu pada istri saya. Istri saya pun marah-marah pada Rifa, karena menganggap cerita itu tak pantas disampaikan di depan kelas, dan mungkin juga tidak semuanya akurat. Macam-macam saja deh. Tapi saya pikir, itu risiko punya anak yang jujur dan kritis. Seharusnya tak perlu dihambat atau dimarahi. Yang penting, kita bisa mengarahkan dan menyalurkan energinya yang berlebihan ke tempat dan aktivitas yang tepat. Jadi, jangan terlalu diredam atau dihambat. Pada akhirnya, saya tetap bahagia dan bangga punya anak yang percaya diri dan berani berekspresi. Mungkin Anda juga patut bersikap demikian pada anak-anak Anda! *** Satrio Arismunandar Producer - News Division, Trans TV, Floor 3 Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790 Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 4026, Fax: 79184558, 79184627 http://satrioarismunandar6.blogspot.com http://satrioarismunandar.multiply.com "If you know how to die, you know how to live..." __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com [Non-text portions of this message have been removed]

