POLiTiSiANA

Departemen Kesesatan

OLEH ADHIE M MASSARDI

NAMANYA Abdul Salam, seperti nama jenius kelahiran Pakistan yang pada 1979 
tampil
sebagai Muslim pertama peraih Hadiah Nobel Fisika. Aliasnya yang Ahmad
Mossadeq, mengingatkan kita pada PM Iran yang pada 1953 dikudeta Reza Pahlevi
dengan bantuan intel Inggris dan Amerika. Jaringannya disebut Al Qiyadah, mirip
Al Qaedah pimpinan Osama Bin Laden yang bikin Amerika gemetar. 

Tapi sepakterjang Mossadeq kita juga hebat. Membuat anak muda Indonesia
mati angin. Bayangkan, di tengah kampanye "minta peluang memimpin", orang Depok
63 tahun itu menyatakan diri sebagai Rasul, sebagai Nabi. Umatnya ribuan,
tersebar di mana-mana. 

Ini bukan saja mencerminkan anak-anak muda kalah langkah dibanding orang
tua, juga mengesankan mereka sibuk urusan kekuasaan, duniawi, dan lokal pula.
Lha kalau Rasul atau Nabi kan internasional lagi ukhrawi. Untung saja Majelis 
Ulama Indonesia lekas menghentikan
langkah Pak Mossadeq dengan menyatakan Al Qiyadah sesat. Sehingga selamatlah 
wajah
kaum muda kita. 

Aliran (agama) yang menyebal dari main
stream, dan karena itu jadi tampak beda, lalu dicap sesat, bukan barang
baru, bukan pula monopoli Islam. Pada Kristen, Hindu maupun Budha, ada juga
aliran model Al Qiyadah. Cuma karena non-Islam tak punya lembaga macam MUI,
kesesatan pada agama lain nyaris tak terdengar. Biasanya mereka (non-Islam)
lebih senang menggunakan jasa Kejagung untuk melabeli "sesat" pada aliran yang
menyempal.

Persoalannya, yang sesat di negeri ini kelewat banyak. Krisis kepemimpinan
membuka peluang siapa saja untuk jadi "nabi" atau "juru selamat". Mereka
bermain di tengah rakyat yang hidup susah dan tak punya celah untuk keluar dari
kemiskinan, yang merindukan harapan, hanya sekedar harapan. 

Makanya, DPR perlu berunding dengan pemerintah untuk segera membuat lembaga
penyelamat rakyat dari penipuan para nabi dan rasul palsu. Namanya: Departemen
Kesesatan. Agar tidak mubazir, departemen ini jangan hanya menyisir aliran
agama sesat, tapi juga institusi atau partai politik sesat.

Departemen Kesesatan akan sangat bermanfaat untuk menyelamatkan rakyat dari
partai-partai politik sesat, yang lebih jahat dari aliran (agama) sesat. Nah, 
untuk
menentukan partai politik itu sesat atau sehat, Menteri Kesesatan dan staf ahli
meneliti platform parpol dan
sepakterjangnya selama ini. 

Misalnya, PDIP kan platformnya "membela wong cilik", atau "memperjuangkan
kepentingan rakyat di bidang ekonomi, sosial, dan budaya secara demokratis",
seperti ditulis di AD/ART-nya. Kalau kenyataannya tidak seperti itu, Menkesat
harus mengumumkan kepada publik kalau ini parpol sesat. 

Jangan takut juga untuk bilang Partai Golkar parpol sesat kalau ternyata
tidak "menyerap, menampung,
menyalurkan dan memperjuangkan aspirasi rakyat serta meningkatkan kesadaran
politik rakyat dan menyiapkan kader-kader dengan memperhatikan kesetaraan
gender..." seperti dinyatakan pada
pasal 9 (huruf e) AD/ART-nya.

Begitulah.
Semua parpol peserta pemilu 2004 dibedah platformnya,
AD/ART-nya. Kalau tidak cocok dengan perilaku parpol, baik di legislatif maupun
eksekutif: itu parpol sesat. Maka rakyat pun selamat. 

mediacare
http://www.mediacare.biz


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke