Assalammu' alaikum wr wb,
 
Saya membaca makalah sdr. Muchammad Muallim ttg Mengenal Methodologi 
Penafsiran. Saya bukan ahli tafsir Al-Quranu al-Karim, hanya saya berusaha 
memahami wahyu Al-Quran dengan menggunakan suatu methodologi tafsir yang yang 
telah ada di dalam wahyu itu sendiri. Methodologi ini ternyata belum pernah 
disentuh ataupun dilaksanakan oleh para mufasirun zaman terdahulu maupun 
kontemporer. Padahal methodologi tafsir ini diletakkan secara tegas dan jelas 
di dalam firman-firman ilahi secara definitif (selesai).
 
Methodologi yang saya kemukakan di atas adalah methodologi tafsir yang 
menempatkan al-Tauhidulloh sebagai mercusuar, Allahu Ahad sebagai basis teguh 
yang menjadi acuan methodologi penafsiran dan kemampuan intelegensi manusia 
sebagai frame of reference.
 
Di dalam firman-firman Allah swt banyak dijelaskan tentang keberadaan apa yang 
sudah dikenal sebagai ayat-ayat al-Kauniyah selain ayat-ayat Quraniyah. 
Ayat-ayat al-Kauniyah diwahyukan kepada alam semesta seisinya, termasuk di 
dalam diri manusia sendiri. Dan ayat-ayat Quraniyah diwahyukan kepada 
rasululloh Muhammad saw. Di dalam ayat-ayat Quraniyah banyak sekali anjuran dan 
seruan kepada manusia supaya membaca ayat-ayat Kauniyah, apabila manusia tidak 
faham akan apa yang diwahyukan dalam model ayat-ayat Quraniyah. Dari informasi 
di atas maka di atas dasar sumber wahyu yang Ahad dan bimbingan mercusuar 
al-Tauhidulloh dan mempergunakan kemampuan intelegensi yang terbatas telah 
ditetapkan suatu hukum dalam menafsirkan firman-firman Allah swt oleh Allah swt 
sendiri. Yaitu hukum penafsiran firman-firman ilahiyah sebagai HUKUM 
KEMANUNGGALAN (KEUTUHAN, KESATUAN) TAFSIR AYAT KAUNI DENGAN TAFSIR AYAT QURANI 
(vice versa).
 
Dari penetapan hukum tafsir firman ilahiyah tersebut di atas maka bagi para ' 
ulama Muslimin yang hendak menafsirkan firman-firman ilahiyah sedekat-dekatnya 
dengan yang dikehendaki oleh Allah swt tidak cukup hanya dengan menggunakan 
ilmu-ilmu tafsir yang diwariskan oleh generasi mufasirun masa lampau dan 
kontemporer. Agar lebih dekat sedekat-dekatnya penafsiran kita diperlukan oleh 
para penafsir penguasaan ilmu-ilmu pengetahuan manusia yang telah disimpulkan, 
dalam konteks sementara, dari membaca ayat-ayat Kauniyah yang kini kita kenal 
dengan istilah Eropa dan Amerika sebagai Science. Jadi bagi kita kaum Muslimin 
MUTLAQ harus dapat menguasai science, jika kita ingin dengan benar melaksanakan 
Al-Dinu al-Islam. Sebab kita hanya akan dapat secara baik Islaman kepada Allah 
swt apabila kita faham benar-benar akan firman-NYA.
 
Yang harus kita waspadai dengan kesadaran Tauhidulloh Qurani wa al-Kauniyah 
adalah  science yang disusun di Barat, yang dahulunya berasal dari para ' ulama 
Muslimin, disimpulkan di dalam kerangka acuan (frame of reference) tradisi 
budaya dan theology Judeo-Christian yang memangkas science dari asal 
kelahirannya, yaitu "KUN, FAYAKUN". Artinya science telah dipisahkan dari akar 
ideologi Ketuhanan Yang Maha Esa. Dengan terpotongnya science dari sumbernya 
menyebabkan science menjadi benda mati semacam barang dagangan yang diproduksi 
dipabrik-pabrik keilmuan. Hal ini adalah fatal bagi masyarakat manusia sendiri, 
sebab pelaksana penerapan science tidak dibimbing oleh al-Ahlaqu al-Karimah. 
Dan realitas masyarakat Barat yang gemerlap itu penuh menanggung dosa 
kemanusiaan dan kehidupan di bumi. Dewasa ini manusia modern sedang 
mempersiapkan kehancurannya sendiri sebagaimana yang pernah dilakukan oleh 
bangsa 'Aad, Tsamud, Mesir, Aztek, Han, Asyir dll dalam zaman
 yang telah silam.
 
Kita sebagai generasi Muslimin yang melek huruf dan melek ilmu pengetahuan 
harus sanggup belajar dari kesalahan dan kegagalan para ' ulama dan mufasirin 
Al-Quran masa lampau yang telah menafsirkan firman ilahi dengan mempergunakan 
peralatan kalam (theoloy), falsafah (philosophy), balaghoh (filology) dan fiqh 
(jusiology) dengan frame of reference tradisi budaya masyarakat masa lampau. 
Sehingga pada zaman kini kita warisi Al-Dinu al-Islam sebagai suatu kepercayaan 
mati (religion) yang tidak boleh dimengerti secara rasional, logis dan 
dialektis Islami. Secara ekonomi-politik kaum Muslimin kembali diperbudak kaum 
kafirin seperti masa rasululloh Muhammad saw bangkit menegakkan harkat 
kemanusian yang sejati. 
 
 
Wa bi Allahi taufiq wa al-hidayah 
Wassalam,
A.M

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke