Jawa Post. - Rabu, 07 Nov 2007,
                               
Sudah Tobat, Tetap Diserbu dan Dibakar 

                                BANTEN - Amuk massa terhadap para 
pengikut aliran sesat, agaknya, menjadi gejala yang kian meluas. 
Peristiwa paling gres terjadi di Banten. Beberapa rumah yang 
dianggap menjadi pusat pengajaran aliran sesat di Kampung Encle, 
Desa Surya Bahari, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, diserbu 
massa, dibakar hingga rata dengan tanah. 

                                Peristiwa itu terjadi Senin malam 
lalu, sekitar pukul 21.00. Gara-gara serbuan tersebut, sekitar 48 
orang penghuni rumah itu kabur dan diamankan di Mapolsek Pakuhaji. 

                                Informasi yang dihimpun Radar Banten 
(Grup Jawa Pos) dari tempat kejadian, rumah yang menjadi sasaran 
utama amuk massa tersebut adalah milik Juwata. Pria 40 tahun itu 
dianggap sebagai pimpinan jamaah pengajian Majelis Taklim Nurul 
Yakin yang dianggap sesat itu. 

                                Malam itu, ratusan warga datang 
dalam keadaan emosional. Mereka diperkirakan datang dari luar 
kampung tersebut. "Saat datang menyerbu, di antara mereka membawa 
balok dan batu," cerita Arsaja, 50, warga setempat. 

                                Begitu sampai di rumah Juwata yang 
juga digunakan sebagai tempat pengajian, massa langsung melempari 
rumah tersebut dengan balok dan kayu. Massa meminta para jamaah yang 
ada di dalam rumah segera keluar. 

                                Mendapat serangan tiba-tiba, puluhan 
jamaah lari kocar-kacir untuk menyelamatkan diri. Namun, bukannya 
aksi massa mereda, tindakan brutal massa malah semakin menjadi-jadi. 
Rumah semipermanen yang dihuni Juwata dibakar massa hingga rata 
dengan tanah. Aksi itu baru bisa dihentikan setelah puluhan petugas 
gabungan Polsek Pakuhaji dan Polres Tangerang tiba di lokasi pukul 
21.30. "Setelah melakukan perusakan, massa membubarkan diri," tambah 
Arsaja. 

                                Hingga berita ini diturunkan, 
petugas kepolisian menyelidiki kasus tersebut. Di lokasi kejadian, 
terdapat sejumlah bangkai kendaraan bekas dibakar dan puing-puing 
rumah yang berserakan. Di sekeliling lokasi kejadian, saat ini sudah 
dilingkari garis polisi. 

                                Kasatreskrim Polres Tangerang Ajun 
Komisaris Polisi (AKP) Ade Ary Syam Indradi menyayangkan aksi 
anarkis warga tersebut. Padahal, menurut Ade, Juwata dan jamaahnya 
sebelumnya sudah membuat kesepakatan dengan Majelis Ulama Indonesia 
(MUI) Kabupaten Tangerang, yang intinya bahwa Juwata dan pengikutnya 
akan bertobat dan kembali ke ajaran Islam. "Polisi akan terus 
menyelidiki pihak-pihak yang bertanggung jawab atas peristiwa ini," 
kata Ade. 

                                Soal Juwata yang bertobat itu 
dibenarkan Ketua MUI Kabupaten Tangerang KH Turmudzi. Karena itu, 
dia menyayangkan terjadinya perusakan tersebut. 

                                "Juwata memang sudah bertobat, tidak 
akan mengulangi kegiatannya. Tapi, mengapa mesti ada perusakan," 
kata Turmudzi kemarin

                                Penyelesaian masalah itu, lanjutnya, 
dilakukan Juwata dan pengikutnya saat bertemu dengan MUI Kabupaten 
Tangerang dan FPI (Front Pembela Islam). Pertemuan di Kantor MUI, 
kawasan Citra Raya, Cikupa, Senin siang disaksikan jajaran 
kepolisian di Polsek Pakuhaji.

                                Dalam pertemuan tersebut, Juwata 
membuat surat pernyataan bahwa dia akan menutup tempat pengajian, 
menghentikan segala aktivitas terkait dengan penyebaran ajaran itu, 
dan ikut bersama-sama warga dalam kegiatan pengajian di 
lingkungannya. Surat yang ditandatangani MUI, FPI, dan kepolisian 
itu dikirimkan ke Polres Tangerang saat itu juga.

                               
 Turmudzi membenarkan, ajaran 
kelompok Juwata memang kebanyakan tidak berdasar Alquran dan hadis 
nabi. Misalnya, tentang kewajiban para calon pengikut aliran 
tersebut berpuasa 27 hari dan membaca syahadat ulang sebelum 
bergabung. Selain itu, selama menjalankan puasa, calon pengikutnya 
yang suami-istri dilarang berhubungan badan meskipun malam 
hari. "Juwata juga menafsirkan Alquran berdasar kemauannya sendiri," 
jelasnya.


mediacare
http://www.mediacare.biz


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke