http://www.antara.co.id/arc/2007/11/9/potensi-ekspor-gaplek-indonesia-ke-china-mencapai-us150-juta/

*Potensi Ekspor Gaplek Indonesia ke China Mencapai US$150 juta*

Jakarta (ANTARA News) - Peluang ekspor gaplek ke China bisa mencapai 150
juta dolar AS (sekitar Rp 1,365 triliun) per tahun, namun pasar yang sangat
besar itu hanya dimanfaatkan Indonesia tidak lebih dari 14 persen atau
senilai 21 juta dolar AS (sekitar Rp 191,1 miliar).

Padahal kebutuhan gaplek di negara tirai bambu itu mencapai lima juta ton
per tahun, yang sekitar 70 persennya dipasok oleh Thailand, kata seorang
pelaku usaha dari China, Liang Guo Tao, kepada pers di Jakarta, Jumat.

Liang datang ke Indonesia untuk menjajaki berbagai kemungkinan bisnis dengan
pengusaha Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan biofuel, baik dari sisi
mesinnya atau pun bahan baku.

Bersama dengan mitra bisnisnya di Indonesia, Benny Kusbini, Liang mengatakan
bahwa gaplek akan dijadikan etanol di China. China selama beberapa tahun ini
sudah mulai mengurangi konsumsi minyak bumi yang semakin langka dan mahal.
Etanol sudah dijadikan sebagai campuran BBM di 16 provinsi di China.

Bukan hanya China yang melirik potensi etanol di Indonesia, bahkan beberapa
negara asing, lanjutnya, juga sudah mulai menjajaki kemungkinan pembukaan
pabrik etanol di Indonesia, termasuk penyediaan bahan bakunya yaitu tanaman
singkong.

"Saya sedikit terlambat datang ke Indonesia, negara lain sudah melirik
potensi gaplek dan singkong di sini sejak delapan tahun lalu," katanya.

Indonesia merupakan salah satu dari empat produsen singkong terbesar di
dunia, setelah Nigeria, Brazil dan Thailand, dengan tingkat produksi
mencapai 20 juta ton dari produksi dunia 220 juta ton.

Sementara itu, Benny Kusbini yang juga Presiden Direktur PT Mitra Globalindo
Agribisnis mengatakan, dari kebutuhan China sebesar lima juta ton gaplek per
tahun, negara itu sudah menyatakan kesediaannya untuk menampung sekitar satu
juta ton gaplek.

Pasar gaplek yang demikian besar itu, menurut Benny, seharusnya direspon
pemerintah pusat dan daerah karena akan memberi dampak bergulir yang besar
kepada masyarakat.

Jika Indonesia bisa memasok gaplek sebesar itu, katanya, maka ada omset
sebesar 150 juta dolar AS yang berasal dari harga gaplek di China yang
mencapai 150 dolar AS per ton.

"Nilai itu jika dirupiahkan bisa mencapai Rp1,3 triliun per tahun. Itu akan
memberi pengaruh besar bagi masyarakat, karena ada penyerapan tenaga kerja
yang besar," kata Benny yang juga salah seorang pengurus Dewan Koperasi
Indonesia.

Infrastruktur dan layanan publik lainnya juga bisa bergerak jika pemerintah
bisa memanfaatkan potensi pasar yang demikian besar. Belum lagi jika ada
dorongan dari pemerintah agar pengembangan etanol berbasis singkong
digalakkan.

Potensi etanol, menurut dia, juga demikian besar karena harganya bisa
mencapai 750 dolar AS per ton. "Potensi kita untuk etanol bisa mencapai dua
miliat dolar AS ke China," katanya.

China juga menawarkan mesin-mesin untuk pembuatan etanol yang bisa dibeli
pengusaha Indonesia dengan dukungan pinjaman berbunga lunak enam persen per
tahun dari pemerintah China selama 10 tahun.

"Pengusaha Indonesia cukup menyediakan dana sebesar 20 persen dari harga
mesin, dan sisanya bisa dipinjam dari China," katanya dan menambahkan
investasi untuk pabrik etanol berikut mesinnya dengan kapasitas 50 ribu ton
per bulan sekitar 25 juta dolar AS. (*)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke