eramuslim.  Film Dokumenter Tayangkan Trauma Mantan Prajurit Israel Siksa Warga 
Palestina  Jumat, 16 Nov 07 15:40 WIB
   
  Minggu ini, sebuah stasiun televisi di Israel akan menayangkan sebuah film 
dokumenter yang menampilkan cerita tentang trauma enam mantan prajurit 
perempuan Israel karena menyaksikan atau terlibat dalam penyiksaan-penyiksaan 
yang dilakukan militer Israel terhadap rakyat Palestina.
   
  Dalam film tersebut, salah seorang mantan prajurit sengaja berfoto-foto 
sambil menggosok-gosok mayat seorang warga Palestina. Prajurit lainnya, 
menelanjangi seorang laki-laki Palestina kemudian memukuli laki-laki itu. 
Seorang prajurit lagi menolong rekan-rekannya yang sedang menyiksa seorang 
remaja Palestina.
   
  Film berjudul "To See If I'm Smiling" sengaja memberikan kesempatan bagi enam 
perempuan mantan prajurit Israel itu untuk mengungkapkan kenangan-kenangan yang 
tak kan pernah hilang, saat menjalankan kewajibannya sebagai prajurit militer.
   
  Setelah bertahun-tahun mengubur pengalaman masa lalu yang buruk, mereka 
akhirnya mau bicara dalam film yang membeberkan sisi gelap selama 40 tahun 
Israel menjajah bangsa Palestina. Para mantan prajurit itu juga mengungkapkan 
apa dampak dari perlakukan buruk Israel itu dari generasi ke generasi, baik 
baik laki-laki maupun perempuan.
   
  "Sangat mudah untuk menyelesaikan tugas kemiliteran dan mencoba untuk tidak 
memikirkannya lagi. Tapi perempuan-perempuan ini menceritakan pengalaman 
pribadi mereka-yang tidak selalu indah-untuk menunjukkan pada semua orang apa 
yang sedang terjadi, " kata Tamar Yarom, sutrada film "To See If I'm Smiling." 
   
  Semua mantan prajurit kecuali satu orang, yang tampil dalam film tersebut, 
terpaksa bertugas sebagai tentara karena aturan wajib militer yang berlaku di 
Israel. Mereka bertugas pada saat meletusnya gerakan Intifadah tahun 2000. 
Mereka menceritakan bagaimana mereka harus menyesuaikan diri dengan situasi 
kemiliteran yang keras.
   
  Seorang perempuan yang bertugas sebagai paramedis mengungkapkan, dia bertugas 
menggosok mayat-mayat warga Palestina untuk menyembunyikan bekas-bekas 
penyiksaan tentara Israel. "Saya pikir saya akan bisa melupakan semua itu, tapi 
tidak bisa, " tuturnya sambil mengusap air matanya.
   
  Lewat film ini, sang sutradara, Tamar Yarom berharap Israel-negara di mana 
militer menjadi inti identitas nasionalnya-mau melakukan pencarian jati diri 
dan mendorong prajurit-prajurit Israel lainnya yang mengalami trauma untuk 
berani bicara tentang tindak kekerasan yang mereka lakukan atau pernah mereka 
saksikan.
   
  "Negara ini sedang dalam kondisi koma. Dengan semua serangan dan bom, kita 
mati rasa, " kata Yarom.
   
  "Orang-orang berpikir bahwa kita sedang perang untuk bertahan hidup, dan akan 
lebih baik jika tidak mengkritik para prajurit karena merekalah yang melindungi 
kita, " sambungnya.
   
  Yarom berharap filmnya akan memicu daya kritis baik dari kelompok kiri-yang 
selama ini bersimpati pada para prajurit Israel, maupun kelompok kanan-kelompok 
yang kerap mengecap militer Israel.
   
  Menurut Yarom, pengalaman pribadinya lah yang mendorongnya membuat film, yang 
diperkirakan akan menjadi kontroversi itu. Yarom pernah bertugas sebagai 
prajurit cadangan saat pecah pertikaian Israel-Palestina tahun 1980-an. Dia 
melihat seorang warga Palestina yang menjadi korban penyiksaan militer Israel, 
tapi ia tidak bisa berbuat sesuatu. 
   
  Selama hampir dua dekade Yarom masih tidak mampu menghapus kenangan buruk 
itu. Ia masih ingat dengan jelas wajah korban yang berlumuran darah, dengan 
leher terkulai.
   
  "Gambar seperti ini akan melekat pada diri Anda selamanya. Selama masa tugas 
saya, saya melepaskan diri sendiri dari bayangan itu. Dan ketika Anda teringat 
lagi, rasanya sangat sakit, " tukas Yarom. (ln/al-arby)

 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke