Rabu, 14 November 2007
O P I N I No. 5749

SINAR HARAPAN 

Bengawan Mati Laren-Pringgoboyo-Lamongan

Oleh
Viddy AD Daery 

Beberapa waktu lalu, tim gabungan yang diawaki
orang-orang dari Universitas Negeri Malang,
Universitas Sebelas Maret Solo, dan anggota Pangkalan
Marinir Surabaya, memetakan dan meneliti Bengawan
Solo, dari hulu (sekitar Waduk Gajah Mungkur Wonogiri
Jawa Tengah) sampai di Muara Ujung Pangkah. 

Bengawan Solo dan Sungai Brantas, dua sungai penting
yang pernah menjadi urat nadi kejayaan sejarah Jawa
masa lalu. Dua sungai itu adalah sarana transportasi
perdagangan, perhubungan antarwilayah, sumber
kehidupan, dan bahkan lokasi beberapa peperangan
perebutan kekuasaan.

Daerah aliran Bengawan Solo sudah mengalami kerusakan
berat, berupa pendangkalan akibat lereng-lereng
tepiannya digunduli dari pertahanan pohon-pohon
berakar kuat dan diganti menjadi ladang-ladang
tegalan. Pabrik-pabrik di sepanjang tepian Bengawan
Solo meracuni air dengan limbah buangannya yang
langsung ke bengawan tanpa diproses. 

Tim banyak menemukan perubahan dahsyat, misalnya
mantan sungai Bengawan Solo lama di Banyubiru, Jawa
Tengah, yang pernah menjadi ajang Joko Tingkir
menggembleng ilmu, kini telah menjadi tempat
pembuangan sampah. Di Cepu, di desa Ngloram, tim
menemukan bekas keraton Wura-Wari yang pernah
memerangi Raja Airlangga, kini berubah menjadi daerah
pekuburan.

Di Bungah, Gresik, tim menemukan situs pelabuhan kuno
Jaratan yang banyak disebut oleh para pedagang
Portugis dan Belanda, di alur bekas Bengawan Solo kuno
sebelum disudet ke Ujung Pangkah. Tetapi tim melupakan
situs Laren-Pringgoboyo yang juga penting, apalagi ada
situs sudetan (floodway) yang merupakan "tindesan" di
Bengawan kuno juga.

Saya kebetulan lahir dan besar di sebuah desa kuno
zaman Majapahit di tepi Bengawan Solo, yakni
Laren-Pringgoboyo, yang disebut-sebut oleh beberapa
prasasti dan naskah kuno "Negarakertagama". Saya masih
ingat,sewaktu kecil air Bengawan sangat jernih,
terutama waktu musim kemarau, sehingga kebeningan air
yang biru ditimpa cahaya matahari Agustus bagai kaca
dan permata lazuardi. Karena itulah, perayaan-perayaan
dan lomba sempena 17 Agustusan selalu dipusatkan di
telatah pasir di tepi Bengawan Solo.

Teatrikal 

Daerah itu, menurut beberapa prasasti, memang salah
satu pelabuhan "babagan" atau "penyeberangan" utama
Majapahit karena dilalui pelintasan utama delanggung
(berasal dari kata dalan gung atau jalan raya) yang
dibangun di zaman Gajah Mada-Hayam Wuruk. 
Dan memang di Pringgoboyo ada situs "mBawan Mati" atau
bekas aliran Bengawan Solo yang kini mengering, dan di
dekat situs itu pada tahun 1976 pernah ditemukan
peninggalan batu bata dan kendhi pertola , yang
menandakan bekas-bekas bangunan pos tambangan
(penarikan retribusi) dari perahu yang singgah. 

Nama Desa Laren, dimungkinkan dari "Leren", atau
tempat beristirahat setelah lelah berlayar menyusuri
"delanggung" atau naik perahu semalaman, karena Laren
di masa itu adalah tempat untuk menikmati tamasya alam
yang indah dari Bengawan Solo. 
Di pagi hari sering ada "parade" perahu penjala ikan
yang datang berombongan, bisa sampai 50 perahu.
Apabila sudah ada komando teriakan dari pemimpinnya,
secara berurutan si penjala melempar jala dari perahu
masing-masing, sehingga sangat teatrikal.

Tetapi semua itu kini tak ada lagi, karena ikan sudah
jarang ditemukan di Bengawan Solo, akibat limbah racun
dari pabrik dan juga pencari ikan yang jahat yang
memakai dinamit. Laren memang desa persinggahan,
karena di tepi Bengawan Solo ada Pasar Nggubeh yang
dulu sangat ramai. Orang-orang dari desa sekitar Laren
sudah banyak yang datang pada sore hari sebelumnya,
karena mereka sudah bisa berbelanja buah-buahan yang
baru datang dari perahu-perahu yang berlabuh. 
Tetapi kini pasar Laren sepi, justru ketika jalan raya
beraspal sudah dibangun di daerah itu di tahun
1980-an, dan sebuah jembatan melintang di atas sungai
sejak 1990-an. Maka para pedagang terbuka pilihannya
ke pasar lain, yakni Pasar Sekaran yang buka setiap
hari, sementara pasar Laren yang tradisional hanya
buka di hari pasaran (sekali dalam sepekan/5 hari).

Saya masih ingat,di zaman saya kecil ada "Tim Joko
Tingkir" yang memakai rakit bambu ditumpuk-tumpuk dan
ada rumah-rumahannya di tengah, dengan hiasan
bendera-bendera kertas, singgah berlabuh di Laren.
Sekitar tahun 80-an juga ada "Tim ITS" yang singgah
berlabuh di Laren dari perjalanannya menyusuri
Bengawan Solo.

Sudah Ada Sejak Singosari

Tetapi Bengawan Solo kini mengalami perubahan yang
positif. Di Lamongan, diadakan "sudetan
Gendong-Sedayu", yang menyudet aliran Bengawan Solo
dari sebelah barat desa Laren kearah utara sampai
muara Sungai Sedayu. Dengan dibangunnya sudetan ini,
debit air Bengawan Solo bisa diatur, dan Lamongan
utara tak lagi terkena banjir tahunan seperti yang
terjadi di masa lalu.

Kalau kita membaca kitab-kitab kuno atau yang ditulis
oleh pengelana China, sudetan itu sebenarnya adalah
situs Bengawan Solo kuno, yang sudah ada sejak zaman
Singosari (sebelum Majapahit), atau tersurat pada
prasasti Karang Bogem. Menurut kitab kuno "Pararaton",
pasukan Singosari disuruh Kertanegara mengadakan
perjalanan "Pamalayu" atau menyerang Jambi-Palembang
pada 1275 M melalui Bengawan Solo terus "mbejudul" ke
laut di pelabuhan Sedayu.

Utusan Kubhilai Khan, Ike Mise yang bermaksud
memerangi Kerta-negara (tetapi sudah terjadi suksesi
dan beralih ke awal kerajaan Majapahit), juga masuk
lewat Pelabuhan Sedayu lalu menyusuri sungai ke
pedalaman menuju Keraton. 

Pasukan yang masuk melalui Sungai dipimpin Shih Pi.
Ike Mise memimpin pasukan yang lewat darat. Jadi,
disini terdapat aliran sungai dari Sedayu ke pedalaman
(Bengawan Solo). Kelihatannya sungai itu mengering dan
menjadi hutan, namanya hutan Lengor.

Pemerintah Belanda pernah hendak menyudet situs
Bengawan yang mengering itu di tahun 1817, tetapi
gagal. Proyek kemudian dipindah ke Muara Ujung
Pangkah. Untuk itu, dibangun kota baru Sedayu Kutho,
untuk mengawasi administrasi proyek sudetan Bengawan
Solo-Ujung Pangkah. Nama pelabuhan Sedayu yang lama
lalu disebut Sedayu Lawas. 

Bupati Lamongan, H. Masfuk, melanjutkan usaha Belanda
yang gagal itu di tahun 2000-an. Ia juga membangun
beberapa bendungan "barrage" untuk memasok air minum
dan irigasi, sehingga orang akan sulit lagi berlayar
menyusuri Bengawan Solo seperti dulu.
Perubahan yang bertujuan untuk kesejahteraan rakyat
tentu sangat bagus, namun perubahan dengan sekaligus
menghancurkan ekosistem sungai patut disesalkan dan
harus dihentikan. Kelestarian dan keseimbangan
ekosistem menyangkut kesejahteraan yang berkelanjutan,
sampai ke masa depan.

Penulis adalah budayawan, direktur sebuah production
house.

Copyright © Sinar Harapan 2003 

mediacare
http://www.mediacare.biz


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke