SETELAH SEPEREMPAT ABAD [2]
Oleh JJ. Kusni* Semangat tarung ini muncul setelah para anggota menyadari akan arti koperasi,mengerti bagaimana cara kerja berkoperasi, lalu merasa diri mereka memiliki dan bagian dari koperasi. Apalagi ketika mereka merasa bahwa di negeri orang, hidup mereka tergantung dari majumundurnya usaha produktif bersama ini. Semangat tarung hanyalah salah satu ujud kongkret dari kesadaran anggota. [Jika demikian, apakah koperasi merupakan bentuk usaha produkltif yang kadaluwarsa dan tidak tanggap zaman? Orba dan prakteknya yang barangkali mencemarkan nama koperasi]. Sebagai ilustrasi di sini saya ingin bercerita sedikit tentang sikap Kadeg, asal Bali, dan Yuyus, anak kampung Tanggerang, lulusan S1 sebuah universitas di Jakarta dan sekarang sedang melanjutkan pelajarannya di Paris di bidang komputer. Kalau pulang ke Bali, tanpa keengganan dan keluhan sedikit pun, Kadeg selalu saja membawa sesuatu untuk restoran. Membawa gapura besar dari triplek, topeng-topeng Bali dan sebagainya untuk Restoran. Padahal dengan membawa barang-barang yang memakan ruang serta tidak ringan ini di pesawat terbang, berarti ia harus mengurangi barang-barang pribadi yang mesti dibawa. Apabila teman-teman lain yang tinggal di banlieu [pinggiran kota] terpaksa pulang mengejar kereta malam terakhir, Kadeg lah yang dengan tenang menyelesaikan semua pekerjaan tersisa dan menumpuk sampai tuntas. Apabila tamu-tamu sudah tidak ketanganan oleh teman-teman yang sedang servis, dia pun bisa dipanggil sewaktuwaktu dan ia dengan sigap membantu tanpa memperdulikan rasa lelahnya. Padahal saat dipanggil membantu, jam kerjanya sudah rampung. Tenaga Kadeg, apalagi dia satu-satunya anggota Koperasi yang tinggal tak jauh dari Restoran, menjadi lebih banyak lagi diperlukan oleh Koperasi pada saat-saat berlangsungnya pemogokan besar-besaran seperti sekarang yang hampir melumpuhkan transpor umum. Dari Kadeg dituntut semangat yang disebut "bertempur terus-menerus tanpa mengenal lelah". Dan saya sungguh mengagumi serta menghargai semangat anak muda dari Bali ini yang tanpa keluh-kesah melaksanakan hal demikian penuh kesadaran dan tanggungjawab. Ia merupakan salah sseorang tenaga teras Koperasi yang sekarang hanya berjumlah 9 orang. Jumlah ini mewajibkan kami untuk bekerja sesuai prinsip "administrasi sederhana tapi efektif atau bermutu". Dengan demikian, semua tenaga, kemampuan dan kebolehan saling isi, diperlukan dan sangat dihitung. [Apakah administrasi di negeri kita sekarang sudah melaksanakan prinsip ini?! Di banyak tempat, sering kusaksikan para pegawai negeri main catur dan ongkang-ongkang kaki. Posisi dijadikan sumber penghasilan memperkaya diri.] Semangat serupa juga terdapat pada Yuyus, Marko [tekhnisi Koperasi] dan yang lain-lain. Tanpa mengabaikan semangat tarung teman-teman lain, pada kesempatan ini saya ingin mengangkat sikap Yuyus. Ia tinggal di luar kota dan juga merupakan tenaga teras. Pada saat-saat pemogokan besar seperti sekarang, ia tidak bisa pulang ke rumah dan terpaksa bermalam di restoran. Sedangkan esoknya ia harus sekolah. Sementara, Didien, [biasa dipanggil Bu Didien oleh anggota-anggota muda koperasi dan yang menganggapnya sebagai ibu mereka sendiri], salah seorang penanggungjawab Koperasi, karena tinggal di kota Paris, sering pulang jalan kaki. Paris yang kota memang masih terjangkau dengan jalan kaki walau pun cukup melelahkan apalagi setelah kerja keras ditambah sengatan dingin musim yang ganas. Bu Didien tidak mau sering-sering menggunakan taksi agar menghemat uang Koperasi. Kadeg, Yuyus, Bu Didien termasuk angkatan penerus yang menjadi tenaga pokok sekarang di Koperasi. Sedangkan Bung Umar Said, walau pun fisiknya digerogoti usia dan penyakit, saban datang ke Restoran senantiasa saja ingin melakukan sesuatu membantu teman-teman yang sedang bekerja. Sehabis makan, tidak pernah ia selalu mencuci piringnya sendiri. Teman-teman saja yang tidak mau Bung Umar melakukan hal itu dan membantu. Kalau Bung Umar ngotot, ia sering ditegur: "Sudahlah Bung, sudahlah Pak, Bung/Bapak hanya mengganggu kami saja. Bung/Pak Umar ngomong saja dengan tamu-tamu". Baru dengan teguran demikian, Bung Umar undur. Kesanggupan melakukan hal-hal di atas, saya kira hanya mungkin jika memiliki semangat tarung yang lumayan. Dan semangat tarung ini lahir dari kesadaran. Di dunia kemiliteran, semangat tarung, saya kira, memang merupakan salah satu faktor penting bagi pasukan yang sedang bertempur. Kecanggihan peralatan, tidak menjadi jaminan kemenangan tempur karena yang menentukan seperti umum diketahui adalah "man behind the gun". Manusia yang bertarung. Apakah saya keliru membandingkan bahwa para anggota Koperasi Restoran Indonesia Paris adalah satu pasukan, adalah satu tim yang utuh? Dalam bekerja, tak ada yang membuat garis batas kaku bahwa "kau di dapur, aku di servis tamu". Semua berpatokan: "tamu itu raja", "tamu itu memberikan kita penghasilan karena itu harus dilayani cepat, sopan dan rapi, sebaik mungkin".Semua berpatokan bahwa "kita sedang mewakili Indonesia", saling tegur langsung atas dasar prinsip ini, apalagi sekarang, semua anggota Koperasi adalah orang-orang Indonesia. Tak ada pekerja dari Madagaskar, Mungthai, Korea, Chili, Perancis, Afrika, Malaysia, dan lain-lain.... Semangat tarung adalah salah satu jiwa Koperasi, tapi dan tidakkah memang bahwa hidup pun sesungguhnya adalah suatu medan pertarungan yang ganas tak berbelas kasihan yang tak memerlukan rataptangis untuk menghadapinya? "Mati lebih gampang daripada hidup" , ujar Louis Aragon, si penyair Perancis. Lalu? Jika kematian adalah yang paling pasti dalam kehidupan maka mengapa tidak kita berkata dan bersikap bersama Chairil Anwar: "sekali berarti sudah itu mati" atau sebelum mati "membangun monumen kasihsayang pada manusia" jika menggunakan kata-kata Cie Lan bersama Kang Seto, temanku yang sekarang mengasuh anak-anak sejak balita di Klaten? "Esok bangsa ada di tangan anak-anak", ujar Cie Lan -- tokoh perempuan perkasa yang bangkit dari keterpurukan sejak usia 12 tahun. Membangun "monumen", tanda manusia memang kalah tapi juga tak terkalahkan seperti keuletan Sysiphus. Tanda harapan adalah matahari tak rontok sekali pun diliput awan. "Hidup adalah menerjang badai" [Against the Wind], jika menggunakan ungkapan May Teo dalam novelnya yang segera diterbitkan oleh Penerbit Ultimus Bandung, penulis Indonesia-Singapura. Koperasi Restoran Indonesia adalah ujud jerihpayah mandi keringat dan airmata segelintir kecil putera-puteri Indonesia dalam "menerjang badai" juga adanya dengan semangat tarung "Rukmanda" yang dikisahkan oleh A.S. Dharta alm.[Lihat:Antologi puisi: "Rangsang Detik"]. Ah, barangkali saja. Hanya apakah yang kita akan dapatkan tanpa bertarung? Apakah yang kita akan perolehi, jika hidup asal hidup tanpa memaknai arti kehidupan? Hidup asal hidup apakah bukan kematian selagi hidup? Hidup adalah sebuah filter yang menyaring kadar kita. Koperasi Restoran Indonesia Paris, barangkali, memang sebuah monumen kolektif putera-puteri negeri yang tersingkir dan dipinggirkan di mana tercatat sejarah bangsa dan negeri, duka, derita serta harapan yang bak matahari yang masih terus difilter sebab "daya tahan seekor kuda diuji dalam perjalanan jauh", ujar pepatah Tiongkok Kuno. Seperempat abad belum bisa dikatakan sudah menghitung apa-apa di dunia yang penuh teka-teki tak pernah usai ditebak.*** Paris, November 2007 ---------------------------- JJ. Kusni *JJ. Kusni, salah seorang pendiri Koperasi Restoran Indonesia di Paris. [Bersambung.....] Keterangan foto: Yuyus sedang membakar sate dengan penuh semangat, mengejar pesanan pelanggan. [Dokumentasi JJK. Foto oleh Jelitheng].. [Non-text portions of this message have been removed]

