Meneruskan Email

________________________________

KRONOLOGI PENUTUPAN GEREJA DAMAI KRISTUS PAROKI KAMPUNG DURI &
PERUSAKKAN RUMAH PENDETA DI TANGERANG

Date: 24 Nov 2007 17:58


 
Hari Senin, Tgl 19 November 2007

Pihak kelurahan mengundang Pastor dan pengurus gereja, meminta
klarifikasi mengenai isuue yang beredar di massyarakat bahwa akan ada
pembangunan gereja Damai. Dalam undangan kami diminta untuk membawa
surat Izin mendirikan Bangunan dan surat keterangan tidak sengketa.

Menanggapi undangan tersebut :

Pada hari senin, 19 nov 2007 jam 13.00 Pihak gereja yang diwakili
beberapa pengurus dewan dan tokoh umat menjelaskan kepada pihak
kelurahan, bahwa :

Sesuai dengan IMB yang diperoleh, pihak gereja akan mendirikan rumah
tinggal, BUKAN gedung gereja.

Pihak kelurahan ( Sekretaris kelurahan, trantib, Bimas, Babinsa)
menerima penjelasan tersebut dan tidak mempermasalahkan hal ini lagi.
Mereka mempersilahkan kegiatan pembangunan yang direncanakan berjalan

Hari Rabu, tgl 21 November 2007

Pihak kelurahan dan polsek memanggil pengurus gereja secara lisan.

Pertemuan di kelurahan tersebut dihadiri oleh Bpk. Abdul Chalik - Lurah
duri selatan, pengurus Gereja ( Bpk. Anton Corebima dan Bpk. Frans
Susanto) Bimas kelurahan Duri Selatan, Intel dari Polres ( Bpk. Charles
) & Kapolsek Metro Tambora

Pertemuan tersebut memberitahukan kepada pengurus Gereja, bahwa akan ada
orasi damai kepada Gereja Damai, dengan tuntutan :

- Pembangunan gereja terselubung dihentikan
- Penggunaan aula yayasan Bunda Hati Kudus menyalahi SK gubernur tahun
1998.
- Informasi kedatangan uskup dan peletakan batu pertama pembangunan
gedung gereja

Menanggapi tuntutan tersebut, kami menjelaskan dan dicapai kesepakatan
bahwa
:
- Peletakan batu pertama ditiadakan, dan kegiatan pembangunan rumah
tinggal ditunda s/d setelah hari natal 25 Desember 2007.


- Kegiatan yang berbau pesta dan mengundang sorotan masyarakat
disederhanakan.
- Tidak ada kunjungan uskup Hari kamis, tgl 22 November 2007

Jam 14.00 pihak gereja diundang oleh pihak kecamatan.

Pertemuan ini dihadiri oleh wakil dari pengurus Gereja ( Bpk. Anton
Corebima, Bpk. Frans Sutanto ), Camat Tambora Bpk. Yanto Sattiar, Bimas
Duri Selatan (Bpk Agus), Babinsa (Bpk. Samsudin, P2B Kecamatan, Danramil
dan Kapolsek.

Dalam pertemuan tersebut, sekali lagi pihak kecamatan menginformasikan
bahwa akan ada orasi damai dengan tuntutan seperti tersebut diatas.
Sekali lagi pihak gereja dimintai penjelasan mengenai hal tersebut, dan
akhirnya pihak gereja menjelaskan, bahwa :

- Pembangunan yang direncanakan adalah untuk rumah tinggal bukan gedung
gereja
- Mengenai penggunaan aula serba guna sejak tahun 1968 sudah digunakan
sebagai tempat ibadah, karena tidak ada lagi sarana lain yang dapat
digunakan / disediakan oleh pemerintah.

Pada akhirnya pertemuan tersebut memutuskan bahwa pembangunan rumah
tinggal ditunda sementara sampai suasana kondusif. Mengenai acara
peletakan batu pertama ditiadakan.

Setelah pertemuan di kecamatan, pihak gereja diundang oleh Bpk. Kompol
Yacob Dedi Karyawan Sik - Kapolsek Metro Tambora untuk menghadiri
pertemuan di kantor Polsek Tambora.

Pertemuan dihadiri oleh pengurus gereja ( Bpk. Anton Corebima, Bpk.
Frans ) dan Bpk. Kompol Yacob Dedi Karyawan Sik. Dalam pertemuan ini
Kapolsek memberi pesan agar berpikir dan bertindak cerdas demi
kepentingan umat.

Pada jam 24.00 WIB pihak kepolisian ( Kasat intel Polres Jakarta Barat,
Bpk. Charles Situmorang, Bpk. Limbong dkk) Bpk Agus - Bimas Duri
Selatan, Bpk. Samsudin - Babinsa Duri Selatan datang ke pastoran memberi
kabar bahwa orasi damai esok hari pasti akan berlangsung dan memonitor
perkembangan wilayah.

Hari Jumat, tgl 23 November 2007

Sejak pagi hari, pihak kepolisian sudah mengirim aparat untuk
berjaga-jaga di kompleks sekolah / gereja Damai. Sekitar jam 12.00,
Pihak kepolisian memberikan surat ijin tertulis tentang akan adanya
orasi damai. 

 

Sekitar jam 13.00 setelah sholat jumat, sekitar 75 orang berjalan dari
mesjid Al Maulana menuju Gereja Damai sambil membawa poster, dan
berteriak-teriak ALLAHU AKBAR.

Sesampai di depan pintu gerbang sekolah mereka ber-orasi, dengan
tuntutan :

- SK Gubernus Sutiyoso mengenai peruntukan aula serba guna ditaati
- Menghentikan segala kegiatan ibadah yang selama ini berlangsung. 

 

Setelah melakukan orasi, pihak para demonstran mengirim utusan untuk
berbicara
kepada pengurus gereja.sekitar 15 orang memasuki Pastoran sebagai
perwakilan

Sekitar jam 14.00 pertemuan di Pastoran dimulai

Pihak demonstran diwakili oleh H. Thoni , H. Komaruddin , H. Muharol,
Ustad Sidiq (FPI), Ustad Subandi, Uztad Ucuk Saefudin, Akbar Syah Alam,
Fuad Satibi dan rombongan yang mengenakan sorban putih.

Dari unsur pemerintah dihadiri oleh Bapak Drs. Yanto Satyar MM - camat
Tambora, wakil camat Tambora, Bpk. Abdul Chalik - Lurah Duri Selatan dan
beberapa pengurus kelurahan.

Dari unsur kepolisian : 

Kombes Pol Dr. Iza Fadri Sik, SH, MH - Kapolres Jakarta Barat, 

Bpk. Kompol Yacob Dedy Karyawan Sik - Kapolsek Metro Tambora, 

Kasat Intel Polres Jakarta Barat, Bpk. Charles Sitomorang (Intel Polres
Jakarta Barat), Bapak Limbong (Intel Polsek Tambora), 

Bpk. Samsyudin (Babinsa Duri Selatan), 

Bpk. Agus (Bimas Duri Selatan) dan puluhan polisi yang berjaga di luar.

Dari pihak Gereja : 

Romo Matius Widyolestari, MSC (Pastor Paroki), 
Romo Jus Mawengkang, MSC (Komisi JPIC MSC Indonesia), 

Bapak Anton Corebima (Ketua Panitia Pembangunan Gereja), 

Bapak Ignatius Rudy Pratikno SH (FKUB DKI) dan pengurus Dewan Paroki
lainnya.

Suasana sangat menegangkan dan mencekam karena dari pihak para pendemo
yang menamakan diri sebagai Forum Kerjasama Masjid - Musholla dan Majlis
Ta'lim sekelurahan Duri Selatan. Kemudian mereka mengajukan pernyataan
yang intinya meminta supaya kegiatan peribadatan dihentikan dan ditutup
untuk selamanya. 

 

Mereka memaksa kami untuk menerima, menandatangani, menyetujui
pernyataan sikap 
tersebut, dengan ancaman apabila tidak ditandatangani dan ibadat tidak
dihentikan, mereka akan memberlakukan Hukum Rimba, dan tidak bertanggung
jawab bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. 

 

Mereka juga memaksa kami untuk menurunkan atribut-atribut keagamaan yang
berada di tempat yang kami gunakan untuk menjalankan ibadat. Kami
menolak menandatangani pernyataan sikap tersebut ataupun menurunkan
atribut-atribut keagamaan kami. Apabila hendak menghentikan kegiatan
peribadatan kami, kami minta agar secara resmi Bapak Walikotamadya
Jakarta Barat memberikan surat penghentian kepada kami.


Penolakan kami ini disaksikan pula oleh Kapolres Jakarta Barat, Kapolsek
Metro Tambora, Camat Tambora dan Lurah Duri Selatan. Akhirnya mereka
meninggalkan kami Pastoran dengan pesan apabila tetap menjalankan
ibadat, mereka tidak akan bertanggungjawab.

Sepeninggal mereka beberapa saat kemudian kami menerima surat dari Camat
Tambora yang memutuskan untuk menghentikan kegiatan gereja.

Kampung Duri - Damai Kristus, 23 November 2007 jam 21:30

Rm. M. Widyolestari MSC - Kampung Duri

 

= = =

 

 

Tadi sore seorang kawan dari Surabaya mengirim SMS kepada saya dengan
pertanyaan apakah saya juga melihat siaran televisi swasta Trans TV yang
menyiarkan tentang serangan terhadap rumah seorang Pendeta di Tangerang
.

Langsung saya mengecek berita itu dari kawan-kawan dan akhirnya mendapat
dari seorang kawan alamat lengkap dari rumah Pendeta yang diserang di
Tangerang . dibawah ini saya akan memberikan alamat rumah Pendeta yang
diserang itu .

Setelah tanya sana-sini akhirnya saya memperoleh nama dan nomor HP Bapak
Pdt.Bedali Hulu yang berasal dari Gereja Kristen Baptist Jakarta (GKBJ)
. Bapak Pdt sendiri adalah asli dari Pulau Nias tapi sudah lama menetap
di Jakarta dan Tangerang .

Sekitar jam 10 malam tadi saya sempat berbicara dengan Bapak Pendeta
Bedali Hulu . Beliau mengatakan bahwa rumahnya diserang massa pada hari
Rabu tanggal 21 November jam 8 malam . Pada saat ini beliau terpaksa
mengungsi kerumah teman bersama keluarganya.

Kita semua sangat sedih atas kejadian ini dan mendesak pemerintah untuk
bertindak tegas terhadap para perusuh yang selalu main hakim sendiri dan
menyerang gereja atau rumah pendeta dinegara Pancasila ini.

Marilah kita doakan Pendeta Bedali Hulu dan keluarganya untuk selalu
tabah menerima cobaan ini.

Alamat rumah Pendeta yang diserang ialah : 
Kompleks Permata Jaya, Blok B 33, No. 30, RT 09/RW06, Desa Pisangan
Jaya, Kecamatan Sepatan, Kabupaten Tangerang, Banten

HP Pdt.Bedali Hulu 0813 1690 6180 beliau bersedia menerima telpon anda.

  



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke