Catatan Perjalanan:
KEMBALI KE PARIS 1. Waktu masih berada di Indonesia sampai pertengahan November 2007, teman-teman saya di Paris sibuk menyiapkan acara ulta seperempat abad usia gantungan hidup kami di ibukota Perancis: Koperasi Resoran Indonesia [SCOP FRATERNITE RESTAURANT INDONESIA]. Saya mengikuti persiapan mereka melalui dialog internet, melalui mana, saya juga mengikuti perkembangan situasi politik di negeri yang bermurah hati menampung saya dan teman-teman selama beberapa dasawarsa sebagai suaka politik. Pemogokan menantang politik pemerintah Sarkozy/Fillon tengah berlangsung sengit. Teman-teman menjadi cemas. Apakah acara peringatan ulta bisa berhasil oleh lumpuhnya pengangkutan publik. Tapi persiapan demi persiapan tetap saja berlangsung tanpa mengindahkan keadaan politik yang menghangat. Terbayang jelas pada saya, bahwa dengan tenaga minim, pekerjaan di Koperasi menumpuk, sehingga kurang satu tenaga saja akan terasa dampaknya pada semua anggota. Jika diturut-turut, tanpa kendali, yang ingin kulakukan di Indonesia, memang tak akan usai juga. Dalam keadaan ini saya tidak membatalkan niat untuk memperpanjang waktu tinggal, lalu menunda banyak acara lainnya yang niscayanya kuhadiri. Kembali ke Paris sesuai jadwal, merupakan keniscayaan jika saya tidak mau dipandang "saénak déwé" atau egois. Dengan ini, saya meminta maaf besar kepada semua teman dan pihak, yang tentu merasa dikecewakan karena pembatalan kedatangan serta rencana. Saling hubungan antar kenyataan satu dengan kenyataan lain, memaksa saya harus memilih yang terpokok dari yang pokok-pokok sebagaimana halnya seorang komandan Armé atau Divisi dengan mengatup bibir mengendalikan emosi saat mengambil keputusan dalam disposisi pasukan-pasukannya, lebih-lebih pada saat pengunduran pasukan induk atau pasukan tertentu. Kembali saya menyaksikan dan merasakan bahwa hidup adalah sebagai suatu medan tarung dan memilih. Kembali saya merasakan ganasnya kehidupan yang tidak berbelaskasihan. Saya pun merasa niscaya menghitung kenyataan sebagai kenyataan, kadang tanpa mesti mengucurkan airmata harus sanggup dikalahkan oleh kenyataan, sebelum kembali mengalahkannya atau mengendalikannya. Memilih berarti berhitung, melihat yang pokok dan tidak pokok, melihat saling hubungan unsur-unsur yang ada di hadapan mata. Berhitung artinya sanggup menerima resiko sebagaimana ujar pepatah tetua: "menepuk air di dulang, memercik ke muka sendiri" atau jika menggunakan kata-kata arif Tiongkok Kuno: "yang menabur badai akan menuai badai". Saya pun kemudian memilih kembali ke Paris sesuai jadwal, walau pun pekerjaan di Indonesia jauh dari usai, dengan membawa kesan perjalanan bahwa Indonesia masih merupakan negeri di mana kita tetap bisa berharap. 2. Eva Air, maskapai Taiwan, yang bekerjasama dengan Air France, kembali membawaku pergi dan kembali. Sejak membeli tiket Eva Air di Paris, saya tidak bisa melepaskan kenangan betapa pada zaman Pemerintahan Soekarno, Taiwan dan Israel, merupakan negeri-negeri terlarang untuk diinjak oleh anak negeri bernama Indonesia. Sekarang untuk kesekian kalinya aku menggunakan pesawat Taiwan dan mendarat di bandara Taipei. "Wolak-waliké" zamankah ini? Ya, jika kata "wolak-waliké" ini berarti perkembangan keadaan atau hal-ikhwal, berarti hal-ikhwal itu tidak statis. Keadaan selalu berkembang dan perkembangan sajalah yang langgeng. Sejarah adalah perkembangan juga adanya, di samping sekaligus merupakan kancah tarung penafisran antar berbagai kepentingan, terutama kepentingan politik dan ekonomi. Sepanjang perjalanan menggunakan Eva Air, saya seperti membaca ulang sejarah dengan mata kenangan yang menua dan terus menua, mengingat-ingat ulang segala peristiwa dengan kepala yang berambut putih tak obah seorang kakek. Di tengahnya saya melihat betapa di hari ini, sejarah diputar-balik seakan-akan awan, gunung, laut, sungai , dan alam tidak merekam kenyataan senyatanya. Di tengah-tengahnya, saya menyaksikan betapa kita suka secara sengaja menjadi lupa dan menguburkan ingatan ujud dari ketakutan pada kenyataan dan diri sendiri. Padahal, lupa dan takut adalah sahabat yang "bertelunjuk lurus kelingking berkait" , yang mengatakan "inggih tapi tidak inggih", ramah mengantar kita ke jurang petaka bahkan ke kematian yang tanpa makna. "Wolak-waliké" zaman dalam pengertian di atas juga yang saya saksikan di Indonesia, negeri, kepada siapa saya selalu merasa mempunyai hutang moral yang patut kubayar. "Wolak-waliké" zaman ini menagih adaptasi diri dan jika kita bisa belajar, barangkali membantu kita makin dewasa bukan hanya secara usia. "Wolak-waliké" zaman dalam pengertian di atas juga kusaksikan dalam dunia sastra. Tanpa mampu belajar dari "wolak-waliké" zaman ini barangkali kita akan jadi "orang asing", "l'etranger, jika menggunakan istilah Albert Camus, di negeri sendiri dan bahkan kehidupan. Menjadi "orang asing" di negeri sendiri, sekali pun hidup di tempat, dalam perjalanan kali ini pun , kusaksikan masih di Indonesia. Apakah hal begini pun bisa disebut "absurditas" , jika kembali menggunakan ungkapan Albert Camus? Saya hanya mengkhawatiri, jangan-jangan "keasingan diri" dan "absurditas" di samping "kekosongan" jika menggunakan istilah Alain Tourain, sosiolog terkemuka Perancis, masih merupakan ciri dominan tanahair kita. Tapi "kekosongan" diselimuti dengan bungkus tebal dan indah bernama "nampang" dan "jual koyok". Memandang para pramugari yang muda-muda, cantik, bermata sipit, berkulit kuning, ramah dan berbicara paling tidak dalam dua- tiga bahasa, berseragam hijau, yang muncul di benak saya adalah masalah identitas. Warna seragam itu, saya baca sebagai usaha menunjukkan diri mereka kepada para penumpang berbagai bangsa:"Inilah aku putera-puteri Taiwan". Saya juga melihat bahwa identitas, merupakan bahasa untuk berdialog dengan budaya bangsa-bangsa lain, ujud bahwa memang kebudayaan itu beragam, tapi kemanusiaan itu satu" seperti yang dikatakan oleh Paul Ricoeur alm., filosof terkemuka Perancis, atau jika menggunakan istilah manusia Dayak dengan segala tafsirannya: "Utus Itah". Dari sini saya melihat bahwa jika kita berbicara tentang globalisasi, maka yang saya pertanyakan: tidakkah ada baiknya kita membedakan antara globalisasi sebagai tingkat baru perkembangan kapitalisme, dan globalisasi manusiawi [alter mondialisme] seperti yang tersirat dari pertemuan internasional Porto Alegre yang bersemboyan "Dunia dan manusia tidak diperjual-belikan". Melihat rute penerbangan, wilayah-wilayah negeri yang dilalui Eva Air di peta terpampang di ,tivi pesawat, saya melihat saling tenggang, adanya "semangat take and give" atau toleransi pada negeri-negeri yang dilalui. Keadaan ini mengingatkan saya ketika akan ke Republik Rakyat Tiongkok, pesawat Dakota Garuda Indonesian Airways [GIA] yang membawaku harus menghindari udara Viêt Nam Selatan yang diduduki Amerika Serikat. Padahal GIA yang membawaku adalah pesawat sipil. Barangkali keadaan ini pun terjadi karena sesuai keadaan zaman juga sebabnya. Apalagi dikenal umum bahwa dalam perang Viêt Nam, Indonesia Soekarno menyokong kuat rakyat Viêt Nam. Sampai ke desa-desa terpencil Viêt Nam, lagu-lagu Indonesia sangat dikenal dan nama Indonesia Soekarno dikenal dan diucapkan dengan penuh hormat sebagai sahabat mereka. Zaman itu adalah zaman yang disebut "Perang Dingin" yang dibimbing oleh ide tertentu:"Sahabatmu adalah musuhku, musuhmu adalah kawanku.". Tragedi September 1965 yang berdampak sampai sekarang merupakan salah satu buah dari "Perang Dingin" menjelang kekalahan Amerika Serikat dalam perang Viêt Nam. [ Inilah kukira subyektivisme tak kepalang itu sehingga menimbulkan korban tak tanggung-tanggung pula. Subyektivisme yang membuat kita tak segan menjungkirbalikkan kenyataan, membuat mata hati dan pikir kita rabun]. Dampak Tragedi September 1965 yang berlangsung sampai sekarang, membuatku merenung dan bertanya: Apakah angkatan sekarang, bukannya angkatan luka tapi cemas dan kurang keberanian -- secara umum -- menahan pahit getirnya luka, sehingga mencari macam-macam bentuk pelarian untuk melupakan sakitnya luka. Saya katakan secara umum karena ada memang segelintir kecil orang-orang seperti di Syarikat Indonesia bersekretariat pusat di Yogyakarta, yang mùencoba realitis. Menghadapi kenyataan sebagaimana adanya kenyataan tanpa keluh-kesah dan lari. [Lari adalah ujud dari budaya takut yang pernah mendominasi negeri paling tidak selama tiga dasawarsa!]. Dari segi ini, apakah berkembangnya sastra wangi, sastra sms, dan sejenisnya, di samping karena peran uang dari globalisasi kapitalisme, bukannya merupakan perujudan dari pelarian angkatan luka juga adanya? Suatu pertanyaan. Di Republik Rakyat Tiongkok, seusai Revolusi Besar Kebudayaan Proletar tahun 66an, lahir "sastra luka". Tapi adakah sastra sejenis demikian lahir di Indonesia? Kalau tidak ada, dan justru munculnya jenis sastra lain yang asing dari permasalahan masyarakat , lalu apakah arti gejala ini? Agaknya sastra kita masih berhutang pada sejarah bangsanya dan dikejar oleh sejarah oleh kelalaian membayar hutang. Narsisme, agaknya, tidak bakal mampu dan bukan jalan keluar bagi pembayaran hutang ini. Eva Air-ku melaju ke Barat, mendarat tepat waktu di bandara Paris: Charles de Gaulle [CDG]. Udara terasa benar dingin dan kian mendingin ketika melampaui Timur Tengah, memasuki Eropa Timur dan Eropa Barat. Musim dingin menyambutku di Paris. Musim dingin yang akrab menemaniku selama terpental menjadi pengembara secara fisik di negeri-negeri jauh berbagai benua. Tapi justru kembara fisik ini jugalah yang kemudian membuat jiwaku menjadi pinisi bernama pertanyaan, yang tak punya tepian berlabuh serta tak punya sampai. Menjadi Sysiphus nama lain dari jawaban akhir, yang tak pernah mencapai puncak pendakian, tapi kemudian kembali mendaki dan terus mendaki. Puncak bukanlah suatu kepastian. Bahkan tak pernah kulihat ada ketika saya harus kembali mendaki di bawah suasana baru yang tak henti berkembang dan berganti. Satu-satunya kepastian adalah kematian. Atau barangkali, kematian memang puncak atau titik-sampai bagi pelayaran pinisi?! Dan kau tahu, berapa banyak sudah teman-temanku yang sampai pada puncak atau titik-sampai ini di negeri suaka mereka, tanpa bisa mendapatkan lagi kewarganegaraan Republik Indonesia mereka. Sejak di Indonesia, dan kemudian ketika tiba di Paris, saya membaca berita duka demi berita duka begini secara beruntun. Meninggalnya Djondi Siregar di Jerman, teman dekatku sejak bertahun-tahun, yang kuketahui waktu berada di Indonesia, membuatku sempat sangat goncang. Saya hanya bisa menundukkan kepala mengucapkan adieu, dengan memberikan setangkai mawar merah imajiner kepada mereka . Duka dan derita merupakan sisi lain dari mata uang bernama kehidupan, bagian dari pelayaran pinisi. Karenanya saya melihat bahwa "kematian" bukan hanya "semakin akrab" seperti yang dikatakan oleh penyair Soebagio Sastrowardojo alm. tetapi membayangi langkah di tiap tapak. Mengapa mesti ditakuti dan amat dipikiri. Saya sendiri tak pernah menggubrisinya apalagi meliriknya. Saya hanya gubris pada pelayaran pinisi dan kegalauan laut serta gelombang yang menerpa haluan, paralel dengan ucapan Ho Chi Minh dalam antologi puisi penjaranya: "bulan memancing syair tunggu sampai besok aku sibuk dengan urusan perang" Hidup adalah suatu "peperangan", suatu medan laga, dalam usaha memberikan makna pada eksistensi singkat diri. Eksistensi ada dan berarti bukankah karena kita mampu memberikan makna padanya, "membangun monumen untuknya", ujar Cie Lan, pendidik dari Klaten, syohibnya Kang Seto. Menguji dan menempa kemampuan serta kesungguhan cinta. Sebuah wilayah di mana "kita menarung badai", jika menggunakan istilah May Teo, penulis Indonesia-Singapura yang produktif dan yang bukunya dalam waktu dekat akan diterbitkan oleh Penerbit Ultimus Bandung. Ruang dan waktu yang menguji kadar kita sebagai "Utus Panarung" tempat kita hidup dengan misi sebagai "Anak Enggang, Putera-puteri Naga" [rengan tingang nyanak jata], ujar manusia Dayak. Inti semua pertanyaan dan pernyataan di atas, kukira, terletak pada pertanyaan : "Quo Vadis hidupmu? Kau apakan dan bagaimanakan hidupmu? Karyamu?". Chairil Anwar yang meninggal sebelum mencapai usia 30 tahun, menjawab: "sekali berarti sudah itu mati". Terimakasih Chairil, terimakasih dari seorang jompo, ompong dan ubanan, kelasi sebuah pinisi tak berdermaga di perjalanan tak punya sampai. Paris bukan dermaga, bukan kampung, bukan rumahku, tapi sekedar tempat bertenda walau pun hari ini saya harus kembali ke tebing Seine sungai yang membelahnya. Saya masih seperti dahulu: "rengan tingang nyanak jata" bersayapkan cinta atau mimpi. Dan kau, berapa gerangan usiamu sekarang? Bagaimana jawabanmu? Mau ke mana? **** Paris, November 2007 ----------------------------- JJ. Kusni [Berlanjut....] [Non-text portions of this message have been removed]

