----- Original Message ----- 
  From: Ma'rufin Sudibyo 
  To: Himpunan Astronom Amatir Jakarta ; Jogja Astroclub ; Astronomi Indonesia 
; Rukyat ; Fisika ; Forum Pembaca Kompas ; SMAku dulu 
  Cc: Rovicky Dwi Putrohari ; Thomas Djamaluddin ; Dirmawan ; Awang Harun 
Satyana ; Riyan Triyono ; rachmadresmi ; Riset Hilal ; Budi Sm ; wahyu budi ; 
Arya Bhima ; Mas Irul ; Ayah Abdillah H 
  Sent: Thursday, November 29, 2007 12:58 AM
  Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Kawah Burkcle, al-'Amarah dan Ambruknya Zaman 
Perunggu


  Ketika menggali situs2 pemukiman zaman perunggu di
  Turki dan Palestina, arkeolog Claude Schaeffer (1948)
  menyadari pola kerusakan di situs Troy, Alaca Huyuk,
  Boghazkoy, Alisar, Tarsos, Ugarit, Byblos, Qalaat,
  Hama, Megiddo, Tel Hesi, Beit Mirsim, Beth Shan, Tel
  Brak dan Chagar Bazar mirip dengan pola runtuhan
  bangunan yang dihantam gempa besar. Pada situs yang
  sama pula arkeolog legendaris ini menemukan adanya
  jejak-jejak perubahan iklim, yang menyebabkan
  transformasi penghuninya dan memundurkan kehidupan
  ekonomi tiap situs. Segera pertanyaan itu bergema :
  apa yang menyebabkan semua ini?

  Belasan tahun kemudian (1978) muncul Harvey Weiss,
  juga arkeolog, menggali situs Tell Leilan di
  perbatasan Syria, Turki dan Irak. Situs ini dulunya
  propinsi Akkadia utara yang sangat subur sebelum
  kemudian ditinggalkan orang. Analisis sedimen dengan
  radiocarbon dating menunjukkan sejak 2300 BCE terjadi
  kekeringan dahsyat yang berlangsung selama 300 tahun
  kemudian sehingga situs ini binasa. Belakangan
  kekeringan yang mirip juga ditemukan berimplikasi pada
  kota-kota Mesir Tua (yang mencatat berkurangnya lahan
  pertanian dan meluasnya padang pasir di sekitar 2300
  BCE) dan peradaban Yunani (dimana dari 350 situs
  pemukiman zaman perunggu, 300 diantaranya hancur di
  sekitar 2300 BCE). Apa yang menyebabkan petaka
  regional ini ?

  Heidi Cullen dan Peter de Menocal adalah orang yang
  skeptis dengan persoalan kekeringan regional yang
  dahsyat itu dan menganggapnya sebagai kasus lokal
  saja. Untuk menangkisnya mereka berdua pergi menggali
  di tempat yang tidak umum : dasar Teluk Oman. Di luar
  dugaan, analisis sedimen dengan radiocarbon dating
  menunjukkan di sekitar 2000 ± 100 BCE memang terjadi
  kekeringan yang luar biasa hingga produksi debu
  meningkat 2 - 6 kali lipat di atas normal, tertinggi
  dalam 10.000 tahun terakhir. Kekeringan itu melanda
  seluruh kawasan Jazirah Arabia dan Mesopotamia. Nun
  jauh di benua Amerika, produksi debu juga meningkat 2
  - 3 kali lipat (sebagai dampak kekeringan parah)
  seperti dijumpai di dasar Danau Elk, Minnesota dan
  gletser di Peru. Semuanya berasal dari sekitar 2100 ±
  200 BCE. Sementara di Eropa, kayu-kayu tua menunjukkan
  terjadinya penurunan suhu yang dramatis di sekitar
  2350 BCE. Apa yang menyebabkan bencana global ini ?

  Sementara di selatan, giliran para geolog yang
  dipusingkan oleh keberadaan chevron dunes di
  Madagaskar, India dan Australia Barat. Ini bukit-bukit
  pasir nan aneh, sebab orientasinya tidak searah dengan
  arah angin setempat, ada yang muncul ditempat dimana
  tidak ada pantai didekatnya dan secara keseluruhan
  memiliki butir2 pasir berdiameter > 2 mm, mirip pasir
  gotri di Plengkung Gading, dekat Blambangan. Yang
  mengesankan, bukit-bukit pasir ini terbentuk 4.000 -
  5.00 tahun silam, rentang waktu yang sama dengan
  terjadinya bencana zaman perunggu. Ada dugaan
  bukit-bukit pasir ini dibentuk oleh megatsunami, yakni
  tsunami dengan run-up vertikal (alias tinggi
  gelombang) teramat ekstrim hingga menjangkau > 100 m,
  yang berasal dari sumber titik (point source) seperti
  tanah longsor, erupsi paroksimal vulkan dan tumbukan
  benda langit. Namun apa biang keladi dari megatsunami
  ini dan apakah terkait dengan petaka iklim global
  zaman perunggu, semua serba tak jelas. 

  Petunjuk muncul dari analisis Marie-Agnes Courty pada
  debu-debu Tell Leilan dan sedimen Teluk Oman, yang
  menunjukkan keberadaan dolomit, mikrotektit kalsit dan
  jelaga karbon. Mikrotektit adalah salah satu penanda
  kejadian tumbukan benda langit, sementara jelaga
  karbon yang berlimpah mengindikasikan adanya kebakaran
  berskala sangat besar, jenis kebakaran yang tidak bisa
  dijelaskan oleh erupsi vulkan maupun aktivitas manusia
  iseng. Petunjuk lebih jelas muncul dari bukit-bukit
  pasir aneh itu. Disana ditemukan pecahan meteorit,
  silika impak, fragmen kerak samudera dan impact
  spherules. Semuanya merupakan penanda kejadian
  tumbukan benda langit di samudera, yang menghasilkan
  kawah besar. Impact spherules di India dan Madagaskar
  berdiameter > 200 mikron, menunjukkan bahwa diameter
  kawah tumbukan tersebut > 20 km. 

  Dan akhirnya Abbot dkk (2005) pun berhasil
  mengidentifikasi kawah itu. Kawah Burckle, demikian
  dinamakan, berada di Samudera Hindia pada posisi
  30,865 LS 61,365 BT dengan diameter 29 km. Bertahun
  sebelumnya Sharad Master (2001) mengidentifikasi bahwa
  danau Umm al-Binni (31,150 LU 47,083 BT) di kompleks
  rawa al 'Amarah, titik pertemuan Sungai Efrat dan
  Tigris, memiliki kemiripan dengan ciri-ciri kawah
  tumbukan. Danau berdiameter 3,4 km ini berbentuk
  sirkular, hal yang ganjil diantara danau-danau rawa
  lainnya yang selalu sangat irregular. Stratigrafi
  kompleks rawa al 'Amarah menunjukkan umur danau ini
  maksimum 5.000 tahun, sezaman dengan Kawah Burckle. 

  Kawah Burckle dibentuk oleh meteor berdiameter 2,4 km
  yang jatuh dengan melepaskan energi 250.000 megaton
  TNT. Sebagai pembanding, jika seluruh hululedak nuklir
  yang ada pada saat ini dikumpulkan dan diledakkan
  bersama-sama, total energinya 'hanya' 20.000 megaton
  TNT. Saat kawah terbentuk, ia menyemburkan sedikitnya
  980 kilometer kubik ejecta ke atmosfer. Bandingkan
  dengan erupsi Tambora 1815 yang 'hanya' menyemburkan
  200 kilometer kubik tephra dan itupun sudah dinobatkan
  sebagai letusan terdahsyat dalam sejarah modern,
  dimana debunya sanggup memblokir 25 % cahaya Matahari
  yang tiba di Bumi. Maka ejecta Burckle yang
  bergentayangan di lapisan stratosfer pasca tumbukan
  menciptakan tirai penghalang cahaya Matahari teramat
  tebal hingga memicu perubahan iklim drastis di Bumi,
  yang dimulai dari musim dingin ekstrim. Ejecta berat
  jatuh kembali ke Bumi sembari memanaskan atmosfer
  setempat dan muncullah kebakaran hutan besar-besaran
  yang mengemisikan milyaran ton CO2, yang pada
  gilirannya setelah musim dingin ekstrim selesai justru
  memicu pemanasan global. 

  Megatsunami menjadi dampak langsung tumbukan meteor
  yang tak kalah menggidikkan. Dengan energi sebesar itu
  dan titik tumbuknya berada di laut dalam, pada jarak
  1.000 km dari titik tumbuk, tinggi gelombang tsunami
  masih sebesar 64 meter untuk kondisi laut dalam.
  Sementara pada jarak 20.000 km dari titik tumbuk (atau
  separo keliling Bumi), tinggi gelombang masih 3,2
  meter juga untuk kondisi laut dalam. Untuk
  memperkirakan tingginya gelombang pasang ini ketika
  tiba di pantai, kalikan saja dengan faktor run-up 3
  hingga 40 kali lipat, bergantung profil pantai. Dengan
  semua dampak berskala global ini, tak mengherankan
  jika peradaban zaman perunggu, baik yang berada di
  pesisir maupun di pedalaman, ambruk.

  Kawah Burckle dan kawah (hipotetik) al 'Amarah
  tidaklah sendirian dalam kejadian 4.000 - 5.000 tahun
  silam itu. Tumbukan dalam skala lebih kecil juga
  terjadi di Campo del Cielo (Argentina), Henbury
  (Australia) dan Kaalijarv (Estonia). Rentetan
  kawah-kawah ini mengindikasikan serombongan asteroid
  yang berasal dari asteroid besar yang terpecah belah
  telah jatuh ke Bumi di berbagai tempat. Dan dampak
  gigantiknya sungguh menunjukkan dengan telanjang bahwa
  kita manusia, yang mengaku makhluk cerdas ini, adalah
  demikian kueciiiilllll.

  salam

  Ma'rufin

  __________________________________________________________
  Never miss a thing. Make Yahoo your home page. 
  http://www.yahoo.com/r/hs


   


------------------------------------------------------------------------------


  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG Free Edition. 
  Version: 7.5.503 / Virus Database: 269.16.9/1158 - Release Date: 28/11/2007 
21:11


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke