Tapi, tak dinyana, sekian lama waktu berlalu, rupanya kepala
kalengnya cepat juga menangkap ilmu. Justru pria beraut manis manja
yang duduk didepannya dan berpenampilan layaknya orang pintar serta
selalu mengangguk-angguk kalau menerima pelajaran, ternyata lemot
bukan main, namanya Kucai.

Kucai sedikit tak beruntung. Kekurangan gizi yang parah ketika kecil
menyebabkan ia menderita myopia alias rabun jauh. Selain itu
pandangan matanya tidak fokus, melenceng sekitar 20derajat. Maka
jika ia memandang lurus ke depan artinya yang ia lihat adalah benda
di samping benda didepan matanya persis demikian sebaliknya,
sehingga saat bicara dengan seseorang ia tidak memandang lawan
bicaranya tapi ia menoleh ke samping. Namun, Kucai adalah orang
paling optimis yang pernah aku jumpai. Kekurangannya secara fisik
tak sedikitpun membuatnya minder. Sebaliknya, ia memiliki
kepribadian populis, oportunitis, bermulut besar, banyak teori, dan
sok tahu.

Kucai memiliki network yang luas. Ia pintar bermain kata-kata. Kalau
hanya perkara perselisihan peneng sepeda dengan aparat desa,
informasi di mana bisa menjual beras jatah PN, atau bagaimana cara
mendapatkan karcis pasar malam separuh harga, serahkan saja padanya,
ia bisa memberi solusi total. Kelemahannya adalah nilai-nilai
ulangannya tidak pernah melampaui angka enam karena ia termasuk
murid yang agak kurang pintar, bodoh yang diperhalus.

Maka jika digabungkan sifat populis, sok tahu, dan oportunitis
dengan otaknya yang lemot – Kucai memiliki semua kualitas untuk
menjadi seorang politisi. Kenyataannya memang begitu. Seperti
kebanyakan politisi jika ia bicara tatapan matanya dan gayanya
sangat meyakinkan walaupun dungunya minta ampun…

Kucai juga bertahun-tahun menjadi ketua kelas kami namun bagi kami
ketua kelas adalah jabatan yang paling tidak menyenangkan. Jabatan
itu menyebalkan antara lain karena harus mengingatkan anggota kelas
agar jangan berisik padahal diri sendiri tak bisa diam. Ini
menyebabkan tak ada dari kami yang ingin menjadi ketua kelas,
apalagi kelas kami ini sudah terkenal susah dikendalikan. Berulang
kali Kucai menolak diangkat kembali menduduki jabatan itu, namun
setiap kali Bu Mus mengingatkan betapa mulianya menjadi seorang
pemimpin, Kucaipun luluh dan dengan terpaksa bersedia menjabat lagi.

Suatu hari dalam pelajaran budi pekerti kemuhamadiyahan, Bu Mus
menjelaskan tentang karakter yang dituntut Islam dari seorang Amir.
Amir dapat berarti seorang pemimpin. Beliau menyitir perkataan
Khalifah Umar bin Khatab.

"Barangsiapa yang kami tunjuk sebagai amir dan telah kami tetapkan
gajinya untuk itu, maka apapun yang ia terima selain gajinya itu
adalah penipuan!"

Rupanya Bu Mus geram dengan korupsi yang merajalela di negeri ini
dan beliau menyambung dengan lantang

"Kata-kata itu mengajarkan arti penting memegang amanah sebagai
pemimpin dan AlQur'an mengingatkan bahwa kepemimpinan seseorang akan
dipertanggungjawabkan nanti akhirat…"

Kami terpesona mendengarnya, namun Kucai gemetar. Mendapati dirinya
sebagi seorang pemimpin kelas ia gamang pada pertanggungjawaban
setelah amti nanti, apalagi sebagai politisi ia menganggap bhw
menajdi ketua kelas itu tidak ada keuntungannya sama sekali. Tidak
adil! Lagi pula ia sudah muak mengurus kami. Kami terkejut karena
serta merta ia ebrdiri dan berdalih secara diplomatis.

"Ibunda Guru, Ibunda mesti tahu bahwa anak-anak kuli ini kelakuannya
seperti setan. Sama sekali tidak bisa disuruh diam, terutama Borek,
kalau tak ada guru ulahnya ibarat pasien rumah sakit jiwa yang buas.
Aku sudah tak tahan, Ibunda. Aku menuntut pemungutan suara yang
demokratis untuk memilih ketua kelas baru. Aku juga tak sanggup
mempertanggungjawabkan kepemimpinanku di pada Masyar nanti, anak-
anak kumal ini yang tak bisa diatur ini hanya akan memberatkan
hisabku!"

Kucai tampak sangat emosional. Tangannya menunjuk-nunjuk ke atas dan
napasnya tersengal setelah menghamburkan unek-unek yang mungkin
telah dipendam bertahun-tahun. Ia menatap Bu Mus dengan mata nanar
tapi pandangannya ke arah gambar RH Oma Irama Hujan Duit.

Kami semua menahan tawa melihat pemandangan itu tapi Kucai sedang
sangat serius, kami tak ingin melukai hatinya.

Bu Mus juga terkejut. Tak pernah sebelumnya beliau menerima
tanggapan selugas itu dari muridnya, tapi beliau maklum pada beban
yang dipikul Kucai. Beliau ingin bersikap seimbang maka beliau
segera menyuruh kami menuliskan nama ketua kelas baru yang kami
inginkan di selembar kertas, melipatnya, dan menyerahkannya kepada
beliau. Kami menulis pilhan kami dengan bersungguh-sungguh saling
merahsiakan pilihan itu denganketat.

Kucai senang sekali. Wajahnya berseri-seri. Ia merasa telah
mendapatkan keadilan dan menganggap bahwa bebannya sebagi ketua
kelas akan segera berakhir.

Suasana menjadi tegang menunggu detik-detik penghitungan suara. Kami
gugup mengantisipasi siapa yang akan menjadi ketua kelas baru.

Sembilan gulungan kertas telah berada dalam genggaman Bu Mus. Beliau
sendiri kelihatan gugup. Beliau membuka gulungan pertama.


"Borek!" teriak Bu Mus

Borek pucat dan Kucai melonjak girang. Terang-terangan ia
menunjukkan bahwa ia sendiri yang telah memilih Borek, kawan
sebangkunya yang ia anggap pasien rumah sakit jiwa yang buas. Bu Mus
melanjutkan.

"Kucai!"

Kali ini Borek yang melonjak dan Kucai terdiam. Kertas ketiga.

"Kucai!"

Kucai tersenyum pahit. Kertas keempat

"Kucai!", Kertas kelima.

"Kucai!". Kucai pucat pasi. Demikian seterusnya sampai kertas
kesembilan. Kucai terpuruk. Ia jengkel sekali kepada Borek yang
tubuhnya menggigil menahan tawa. Ia memandang Borek dengan tajam
tapi matanya mengawasi Trapani.

Karena Harun tidak bisa menulis maka jumlah kertas hanya sembilan
tapi Bu Mus tetap menghargai hak asasi politiknya. Ketika Bu Mus
mengalihkan pandangan kepada Harun, Harun mengeluarkan senyum khas
dengan gigi-gigi panjangnya dan berteriak pasti.

"Kucai!"

Kucai terkulai lemas. Hari ini kami mendapat pelajaran penting
tentang demokrasi, yaitu bahwa ternyata prinsip-prinsipnya tidak
efektif untuk suksesi jabatan kering. Bu Mus menghampirinya dengan
lembut sambil tersenyum jenaka.

"Memegang amanah sebagai pemimpin memang berat tapi jangan khawatir
banyak orang yang akan mendoakan. Tidakkah Ananda sering mendengar
di berbagai upacara, petugas sering mengucap doa: Ya Allah
lindugilah para pemimpin kami? Jarang sekali kita mendengar doa: Ya
Allah lindungilah anak-anak buah kami…"







Kirim email ke