Awal Abad 12, Umat Islam Telah "Dibaptis" Si Petrus  Sabtu, 1 Des 07 05:23 WIB
   
  Sejak diturunkan oleh Allah Swt sebagai petunjuk dan rahmat bagi alam, 
Al-Qur’an telah ditentang kebenarannya oleh kaum kuffar dan musyrikin Quraisy 
Makah. Mereka tidak hanya mencaci wahyu Allah itu, tapi juga menudingnya 
sebagai cerita-cerita kuno atau asathir al-awwalin (QS. Al-Qalam: 15). Mereka 
juga menuduh Al-Qur’an adalah bikinan Nabi Saw.
   
  Ketika Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya hijrah ke Madinah, cercaan 
terhadap Al-Qur’an juga terus berlanjut. Orang-orang kafir, kelompok Kristen, 
dan Yahudi seia-sekata menolak dan meragukan kebenaran ayat-ayat-Nya (QS 
Al-Baqarah: 23). Hal ini dapat dimaklumi, karena di antara tujuan kedatangan 
Al-Qur’an adalah merevisi dan meluruskan penyimpangan akidah dan pandangan 
hidup mereka.
   
  Penentangan dan penolakan rupanya berlanjut terus pasca wafatnya Rasulullah 
Saw. Adalah Leo III, Kaisar Bizantium (717-741) yang berkata: “Mengenai 
kepunyaanmu (Al-Qur’an), kamu telah memberikan contoh-contoh yang salah, dan 
orang tahu, di antaranya, bahwa al-Hajjaj, kamu menyebutnya sebagai Gubernur 
Persia, menyuruh orang-orang untuk menghimpun buku-buku kuno, yang ia ganti 
dengan yang lain yang dikarangnya sendiri, menurut seleranya, dan yang ia 
propagandakan di mana-mana dalam bangsamu. ” (Adnin Armas, Metodologi Bibel 
dalam Studi Al-Qur’an, 2004)
   
  Kalimat itu disampaikan Leo III sebagai jawaban atas surat yang dikirim 
khalifah ‘Umar bin Abdul ‘Aziz. Dalam surat balasan Leo III itu menunjukkan ia 
menuduh Al-Qur’an sebagai kitab yang dikarang sendiri oleh manusia sebagaimana 
kitab Injil.
   
  Banyak ahli sejarah dan perbandingan agama menyebutkan, Injil ditulis dan 
disusun bukan pada Nabi Isa ‘alaihi al-salam (as), tapi ia dikerjakan setelah 
200 tahun nabi Isa wafat. Itupun dengan berbagai versi dari para pendeta 
Kristen. Ada yang menyebut 65 sampai 73 penulis, tapi yang disepakati hanya 
empat, yakni, tulisan Matius Dia adalah salah satu kelompok Hawariyyun.
  Lalu ada tulisan Markus. Karya Markus merupakan Injil terpendek. Ia mengenal 
nabi Isa as melalui Batres di akhir masa hidupnya. Ia juga sering bersama 
Barnabas. Selain itu ada tulisan Lukas. Sumbangan tulisan Lukas dalam Injil 
lebih banyak dipengaruhi budaya Yunani. Mengenai hal ini dapat dimaklumi, 
karena Lukas hidup dan besar di Antokiah, Turki, dekat dengan Yunani. (Dr. 
Ahmad al-Samhrani, Al-Bayan fi Muqaranah al-Adyan, 2001).
   
  Dari penelitiannya itu, al-Sahmarani menyimpulkan, wajar saja bila dalam 
Injil terjadi berbagai macam penyimpangan dan kekeliruan. Dalam bukunya yang 
terbaru, The Biografical of Bibel (2007), Karen Amstrong, menjelaskan, revisi 
dan kritik terhadap Injil itu terus berlanjut, dan yang paling serius dimulai 
oleh Baruch Spinoza.
   
  Kendati demikian, kalangan Kristen tetap keras kepala atas kekeliruan 
kitabnya itu. Setelah 23 tahun, datang lagi penghujat Al-Qur’an. Dialah 
Johannes al-Dimasyqi. Ia menuduh Islam sebagai salah satu sekte bid’ah. 
   
  ”Muhammad menulis banyak cerita bodoh, yang setiap satu darinya, ia lengkap 
sebelumnya dengan judul. Misalnya, diskurusu tentang wanita, di mana ia jelas 
melegalisir seseorang untuk memiliki empat isteri dan serubu selir jika 
sanggup, sebanyak yang ia mampu menjaga mereka di samping empat isteri, ” tuduh 
Johannes. (Adnin Armas, Metodologi Bibel). 

Penghinaan Johannes tidak berhenti di situ. Masih banyak lagi. Langkah 
selanjutnya juga dilakukan ’Abdul Masih al-Kindi (873). Menurutnya, setelah 
Nabi Saw wafat, Al-Qur’an telah dirubah oleh Abdullah bin Salam bin Ka’ab. 
Pendapat ini tentu gegabah. Sebab, bagi peminat kajian tafsir Al-Qur’an dan 
al-Hadits, nama Abdullah bin Salam tidak pernah disebut-sebut sebagai orang 
yang dekat dengan Nabi saw.
   
  Proyek ”Baptisasi” 

Memasuki abad ke-10, penentang Al-Qur’an semakin bertambah dengan berbagai cara 
dan bentuknya. Kali ini muncul nama Petrus Venerebalis (1094-1154). Ia adalah 
Kepala Biara Cluny di Perancis. Melalui dana yang besar, ia menugaskan sejumlah 
orang dalam sebuah tim penerjemahan Al-Qur’an. 
   
  Usaha penerjemahan oleh Robert Ketton dalam bahasa Latin ini dinilai 
berhasil, kendati banyak penyimpangan di dalamnya. Jeriuh payah Ketton inilah 
yang kemudian dijadikan rujukan penerjemahan ke bahasa Italia, Jerman, dan 
Belanda.
   
  Selama 600 tahun kemudian, terjemahan Ketton itu dijadikan sumber rujukan 
para misionaris, pendeta, pastor dan lainnya untuk menghujat Al-Qur’an. Mereka 
antara lain, Martin Luther (1483-1546) dan Hugo Grotius (1583-1645).
  Sampai di sini, niat Petrus dianggap telah berhasil. Sebab, sejak awal motif 
Petrus membuat membentuk tim penerjemahan Al-Qur’an adalah untuk membaptis 
pemahaman kaum muslimin terhadap Al-Qur’an.
   
  Dan sekitar 200-300 tahun kemudian, usaha Petrus itu betul-betul berhasil. 
Sudah ratusan sarjana Muslim yang dicetak (disekolahkan dan didik) oleh Barat 
menjadi pengikut mereka. Kini mereka menjadi penyebar dan penentang Al-Qur’an 
sebagaimana para kafir Quraisy, kaum Kristen dan Yahudi.
   
  Di antara mereka sudah tidak lagi percaya pada hukum waris yang diatur secara 
rinci dalam Al-Qur’an. Mereka juga menghalalkan pernikahan sesama jenis. Dan 
mereka juga menyamakan semua agama. Wa Allah a’lam bi al-shawab. (dina)

 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke