Main-main dengan Angka                  

[siapa 10 Cerpenis yang punya HITS terbesar selama
lima tahun terakhir di www.sriti.com ?]

Sebelum mendiami dunia website formal, Sriti.com lebih
duluan masuk kedunia website "gratisan”. Sekitar tiga
tahun berjalan, kami lintang pukang, menguntit
segelintir koran yang sadar menuangkan cerpennya di
official website-nya. Sambil terus menantikan
"kesadaran” koran-koran lain melengkapi cerpen di
websitenya, kami terus bergerilya membeli koran dalam
bentuk cetak, mengetik ulang, membaca ulang, lalu
menguploadnya di laci website "gratisan” kami .

Tepat di Agustus tahun 2002 kami memberanikan diri
untuk pindah ke rumah baru kami, website "bayaran"
dengan harapan mudah dikenal dan mampu menampung lebih
banyak cerpen sebagai entry-nya. Jadi sudah tujuh
tahun kami merasakan betapa lemahnya tangan kami
ini...

Mengelola website kearsipan macam Sriti.com bukan
perkara target pengumpulan sebanyak-banyaknya cerpen
sebagai kekayaan entry-nya. Serangan bandwidth yang
selalu mendudu, lalu terjangan kapasitas yang tak
sanggup menampung jumlah entry yang semakin
menggunung. Obyektif nya kami menyimpan sebagian
cerpen dalam bentuk off line, supaya gunung itu tidak
meletus berbarengan gunung Merapi nantinya. Sekarang,
Anda mungkin akan lebih rileks dengan keberadaan kami
yang cenderung stabil. Tapi, apa boleh buat, lebih
dari setengah jumlah cerpen yang ada, tidak kami
online kan, supaya gerutuan orang sedikit terkikis,
dan kami tetap menjadi salah satu dari segelintir
website sastra yang masih terus mengudara hingga
sampai saat ini.

Menyimpan gunung besar data cerpen dalam bentuk off
line pun bukan jalan keluar yang selalu tepat. Belasan
email masuk, mempertanyakan kenapa ada yang kurang,
kenapa tidak lengkap, kenapa begini-begini-begini.

Beruntung kami mempunyai rekan seperti Bre Redana.
Berkatnyalah kami kerap mendapatkan suntikan
pandangan, energi dan perhatiannya yang luarbiasa.
Support yang tidak bisa dibilang kecil selama
perjalanan tujuh tahun ini. Dengannyalah, kami
bertukar pikiran, atau lebih tepatnya berbagi
kesusahan yang memang belum ada jalan keluarnya.

Sambil terus tiarap, kami menyebar sikap positif.
Berharap bisa sedikit-sedikit memberesi ribuan cerpen
yang masih terbungkus rapat dalam laci kerja kami di
rumah.

***

Selama tiga tahun terakhir, kami cukup rajin
mengadakan survey pembaca kami. Tidak terlalu mudah
meraba keinginan pembaca kami. Konten saja tidak lagi
cukup memuaskan selera mereka. Ada empat kali survey
selama tiga tahun terakhir, yang hasilnya sangat
berharga untuk pembenahan Sriti.com di masa medatang.
Selama itu pula kami terus mencerap sejumlah masukan,
kritik, dan keinginan pembaca kami.

Salah satu poin terpenting adalah bagaimana
menghadirkan "cerpen” sebagai sosok yang mandiri dalam
website kami. Perwajahan telah kami rubah, lebih segar
pastinya, sesuai selera memang belum tentu. Kami sadar
tidak akan pernah bisa merengkuh seluruh selera
pembaca kami. Baru dua pekan berjalan, kami sontak
mendapatkan beraneka tanggapan. Jika dalam perwajahan
yang terdahulu, kami menampilkan deretan entry sebagai
bentuk bagan frontal yang memperlihatkan "Judul
Cerpen”, "Nama Pengarang” "Nama Media” dan "Jumlah
Hits”. Kecuali judul cerpen, semua entry data kami
sembunyikan di bagian dalam.

Tujuannya tak lain adalah ingin menampilkan apa yang
diinginkan pembaca pada umumnya berdasarkan hasil
survey kami. Menjadikan cerpen sebagai bagian
terpenting, bukan penulisnya bukan medianya, bukan
juga dipengaruhi hits dari cerpen yang duluan meroket.

Sebagai tambahan, kami tampilkan sejumlah kata/kalimat
tiap cerpennya sebagai pemancing daya serap sastra
diawal perjumpaan pembaca saat berpapasan dengan judul
cerpen sebagai entry-nya.

***

Beberapa bulan lalu, kami sempat menayangkan banner
hasil survey pembaca kami menyambut hari jadi yang
ke-tujuh tahun. Masih segar bagaimana nama Puthut EA
menjadi kejutan diantara ratusan cerpenis yang namanya
ada dalam Sriti.com. Sembari menunggu hasil wawancari
kami dengan Puthut, kami punya sejumlah data yang
masih bisa menggambarkan bagaimana sebuah cerpen masih
layak dibincangkan.

Saat melongok mesin data kami, terdapat satu poin yang
bisa kami bagikan di sini. Kami main-main dengan
angka. Selama tujuh tahun, kami melihat ada
kecenderungan beberapa cerpenis mempunyai hits
pengunjung yang besar. Bisa jadi namanya yang begitu
populis, bisa jadi faktor selera, mungkin soal mutu
cerpennya? (Ah, kami memang tidak berada di wilayah
kajian kritis semacam itu). Bisa jadi faktor subyektif
(di mana si pengarang atau fans-nya meng-klik sebanyak
mungkin). Semua sebab bisa jadi alasan. Yang jelas,
output angka hits menjadi patokan di sini.

Maka keluarlah daftar sepuluh nama cerpenis yang
jumlah hitsnya dianggap terbesar. Jumlah hits total
selama tujuh tahun terakhir bagi rata-rata dengan
jumlah cerpennya. Anda bisa melihat selama tujuh tahun
ini nama Djenar Maesa Ayu menjadi paling mengkilat di
antara ratusan cerpenis lainnya. Bahkan rata-rata dari
hits per-cerpennya bisa sangat mengejutkan: 805 hits!
Yang cukup mengejutkan adalah jika saja cerpen Djenar
dimuat di Sriti.com, selalu diiringi surat pembaca
yang cukup "membludak”. Bisa dipastikan lebih dari
sepuluh surat pembaca dari pelosok daerah dan
mancanegara yang masuk.

Nah, pembaca budiman, nikmatilah wajah baru kami
sambil melihat-lihat daftar "10 Besar” cerpenis yang
cerpennya paling besar rata-rata hitsnya selama tujuh
tahun terakhir. Ilmu statistika memang tak kerap jujur
dengan data di lapang. Yang jangan dilupakan, kami
sedang bermain dengan angka, soal sepuluh cerpenis
yang terpilih, Anda lah yang dulu bermain-main selera
dengan cerpen mereka. Sebuah perayaan cerpen sastra
dalam bentuk yang berbeda... *** 


[siapa 10 Cerpenis yang punya HITS terbesar selama
lima tahun terakhir di www.sriti.com ?   klik:
http://sriti.com/article_angka.php ]


www.sriti.com
Chusnato, Taofik Hidayat, Sjaiful Masri, dan Anggoro
Gunawan


Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke