Departemen Agama RI, Islam Liberal, dan Pelecehan Qur’an  Jumat, 23 Nov 07 
19:33 WIB
   
  Nasr Hamid Abu Zayd, intelektual Mesir yang divonis murtad di negerinya, 
telah ditolak kehadirannya oleh umat Islam Riau. Penolakan itu dilakukan MUI 
Riau bersama sejumlah Ormas Islam lainnya. Semula, pihak Direktorat Pendidikan 
Tinggi Departemen Agama memang menjadwalkan akan menghadirkan murtadin Abu Zayd 
dalam acara Annual Conference on Islamic Studies (ACIS) in Indonesia VII, yang 
secara resmi telah dibuka Menteri Agama, H. Maftuh Basuni, pada Rabu malam 
(21/11) di hotel Syahid Pekan Baru.
   
  Dalam pidato sambutan pembukaan ACIS VII, Direktur Pendidikan Tinggi Islam 
Depag RI, Prof. Dr. Abdurrahman Mas'ud, MA, menjelaskan bahwa Abu Zayd tidak 
bisa datang karena satu hal. Namun katanya, Abu Zayd berjanji akan hadir pada 
acara International Seminar di UNISMA Malang, 26 November minggu depan.
   
  Nasr Hamid Abu Zayd adalah tokoh liberal yang pendapat-pendapatnya sangat 
ekstrim dan norak, sehingga dia divonis murtad oleh Mahkamah Mesir. Dia lalu 
kabur ke Leiden University. Dari sanalah, dengan dukungan dana dari jaringan 
Zionisme, dia mulai mendidik beberapa dosen UIN/IAIN. Beberapa muridnya sudah 
kembali ke Indonesia dan menduduki posisi-posisi penting di UIN/IAIN. 
   
  Di Indonesia, para liberalis di kampus-kampus UIN/IAIN menganggap murtadin 
Abu Zayd sebagai rujukan utama. Dalam hasil penelitiannya terhadap perkembangan 
paham-paham keagamaan Liberal di sekitar kampus UIN Yogyakarta, Litbang 
Departemen Agama menulis, "Al-Quran bukan lagi dianggap sebagai wahyu suci dari 
Allah SWT kepada Muhammad saw, melainkan merupakan produk budaya (muntaj 
tsaqafi) sebagaimana yang digulirkan oleh Nasr Hamid Abu Zaid. Metode tafsir 
yang digunakan adalah hermeneutika, karena metode tafsir konvensional dianggap 
sudah tidak sesuai dengan zaman.
   
  Amin Abdullah mengatakan bahwa sebagian tafsir dan ilmu penafsiran yang 
diwarisi umat Islam selama ini dianggap telah melanggengkan status quo dan 
menyebabkan umat Islam secara moral, politik, dan budaya. Hermeneutika kini 
sudah menjadi kurikulum resmi di UIN/IAIN/STAIN seluruh Indonesia" (Lebih 
lengkap tentang kekeliruan pemikiran Abu Zayd bisa dilihat dalam buku 
"Al-Qur'an Dihujat", karya Henri Shalahuddin, MA (GIP, Jakarta:Jakarta: Mei 
2007).
   
  MUI Riau bersama MUI pusat saat ini telah menghimpun data-data pelecehan dan 
penghujatan al-Quran di lingkungan UIN/IAIN. Bahkan, di IAIN Surabaya, pernah 
seorang dosen secara sengaja menginjak lafaz Allah yang ditulisnya sendiri. Ia 
ingin membuktikan bahwa al-Quran bukanlah kitab suci, tetapi merupakan hasil 
budaya manusia. Kata dosen tersebut, "Sebagai budaya, posisi Al-Quran tidak 
berbeda dengan rumput. " (Majalah GATRA, 7 Juni 2006). 
  Karena itulah, MUI Riau sangat berkeberatan dengan kehadiran orang-orang 
seperti Abu Zayd dan antek-anteknya yang menjadi pelayan dari kepentingan 
Zionisme.
   
  Dalam acara ACIS VII ini, sekali pun Abu Zayd tidak datang, tetapi buku karya 
murid kesayangannya, yaitu Dr. M. Nur Kholis Setiawan (dosen UIN Yogyakarta, 
disertasinya diterbitkan dengan judul "Al-Quran Kitab Sastra Terbesar") yang 
berjudul "Orientalisme, Al-Qur'an dan Hadis", telah diproyekkan untuk dibagikan 
kepada semua peserta ACIS VII. Ini sungguh-sungguh buku yang tidak bermutu, 
bahkan merusak. Akan jauh lebih baik membagikan buku Nasruddin Hoja yang mampu 
menghibur ketimbang buku tersebut. 
   
  Adalah sangat aneh, sosok Abu Zayd yang terang-terangan menghujat al-Quran 
dan juga menjelek-jelekkan Imam Syafii dalam berbagai karyanya justru 
dipromosikan pemikirannya oleh Departemen Agama RI. Lebih aneh lagi, pihak 
panitia ACIS sama sekali tidak menghadirkan pembicara yang mampu mengkritik 
pemikiran Abu Zayd. Padahal, dalam semboyannya ditulis, "ACIS: Barometer 
Perkembangan Studi KeIslaman di Indonesia." Adakah hal ini mengindikasikan 
Depag dan Panitia ACIS telah kemasukan kacung-kacung Zionis yang kita kenal 
dengan sebutan kaum liberalis?
   
  MUI Riau menganggap panitia ACIS memiliki agenda tersembunyi, karena selain 
mengundang murtadin bernama Abu Zayd yang jelas-jelas memusuhi Islam, panitia 
juga mengundang para orientalis Barat dan orang non-Muslim seperti Prof. Mark 
Woodward, Ph. D., Prof. Ron Lukens Bull, Ph. D., dan, Prof. Peter Suwarno, Ph. 
D yang diundang untuk berbicara tentang Islam. Prof. 
  Peter Suwarno, Ph. D yang saat ini menjabat sebagai associate director of the 
School of International Letter and Cultures at Arizona State University USA, di 
awal presentasinya mengatakan bahwa dia bukan ahli agama dan tidak tahu banyak 
tentang Islam. Hanya saja, dia memang dekat dengan Prof. Abdurrahman Mas'ud 
yang sering berkunjung ke Arizona. Peter menamatkan S1-nya di Universitas 
Kristen Satya Wacana Salatiga.
   
  Inilah para pembicara yang akan dijadikan rujukan dalam acara yang memiliki 
semboyan "BAROMETER STUDI ISLAM DI INDONESIA." Ini sungguh-sungguh tidak lucu 
dan sangat mencurigakan! Mengapa tidak sekalian saja mengundang Ehud Olmert, 
Salman Rushdie, atau Bush?
   
  Selain daftar pembicara, yang sangat mencurigakan lagi adalah tema-tema besar 
yang diusung ternyata adalah apa yang menjadi tema-tema besar kaum liberalis, 
antara lain:
   
  <!--[if! SupportLists]-->· <!--[endif]-->Formalization of Syariah as the Real 
Enemy of Democracy (Formalisasi Syariah sebagai Musuh Nyata Demokrasi)
  <!--[if! SupportLists]-->· <!--[endif]-->Ranjau Formalisasi Syariat
  <!--[if! SupportLists]-->· <!--[endif]-->Mendamaikan Syariat Islam dengan 
demokrasi Pancasila
  <!--[if! SupportLists]-->· <!--[endif]-->Pancasila dalam kepungan formalisasi 
Syari'ah Islam.
  <!--[if! SupportLists]-->· <!--[endif]-->Menolak Poligami: ditinjau dari 
berbagai pendekatan
  <!--[if! SupportLists]-->· <!--[endif]-->Pembaharuan Hukum Islam dalam 
konteks keindonesiaan merupakan suatu keharusan
   
  Jauh Panggang Dari Api
   
  Ditilik dari tujuannya, sesungguhnya ACIS merupakan acara yang bertujuan 
mulia karena mengusung tema utama, "Konstribusi ilmu-ilmu keIslaman dalam 
menyelesaikan masalah-masalah kemanusiaan pada millenium ketiga." Dalam 
pelaksanaannya, tema utama tersebut dirinci dalam lima bidang yang mencakup: 
Islam, politik dan ekonomi global; Islam dan masalah hak asasi manusia (HAM); 
Islam dan masalah pendidikan global; Islam dan hegemoni budaya global; serta 
Islam dan masalah kesehatan, lingkungan dan perkembangan IPTEK. 
   
  Menurut logika sehat, seharusnyalah panitia ACIS dan Depag menghadirkan para 
pakar, ulama-ulama Islam, bukan para murtadin, orientalis, dan kacung-kacung 
Zionis. Ada apa ini?
   
  MUI sendiri sudah mengeluarkan fatwa no. 7/MUNAS/MUI/II/2005 yang 
mengharamkan penyebaran paham liberal di Indonesia. Jika ingin jualan liberal, 
seharusnya jangan sekali-kali mengatasnamakan Islam. Namun jika hal seperti ini 
dibiarkan saja, jangan salahkan umat Islam jika suatu waktu umat akan bertindak 
sendiri. Atau jangan-jangan benar kata Gus Dur dulu, “Bubarkan saja Depag!” 
(Lili Nur Aulia/Rz)

 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke