Ooh Mbah Danar masih di Jakarta ya?

Aku pikir sudah ada di Eropa..

Tentang perkembangan agama, bisa positif bisa juga negatif...tergantung 
bagaimana bentuk ajarannya dan daya nalar penganutnya. 





  ----- Original Message ----- 
  From: RM Danardono HADINOTO 
  To: [email protected] 
  Sent: Sunday, December 02, 2007 9:00 AM
  Subject: [ppiindia] Re: Perang baru agama



  Sebuah karangan yang menyejukkan mas. Kemarin saya juga sedang 
  bersantay di Oh la la dan mencari buku buku di Gramedia di mal 
  Anggrek. banyak buku agama yang mencerahkan, namun banyak juga yang 
  konyol ya?

  Saya sering luangkan beli buku dalam pelawatan ke Tanah Air akhir 
  akhir ini, juga sebelum pulang ke Vienna, saya ingin bawa beberapa 
  buku untuk dibaca disana disela kegiatan kantor.

  Sempat juga saya menengok gedung Pacific Place yang baru buka, karena 
  teman saya baru buka shop disana. Wah, nyaman sekali. Tetapi ya 
  kontras dengan tempat tempat di jakarta, yang dihuni mbak Salma kita 
  dkk, mudah mudahan Fauzi berhasil mengurangi banjir kali ini..

  Salam akhir minggu

  Danardono

  --- In [email protected], radityo djadjoeri <[EMAIL PROTECTED]> 
  wrote:
  >
  > Silakan, dikomentari..terima kasih. 
  > 
  > Salam,
  > 
  > RD
  > 
  > ------------------------------------------------
  > 
  > Perang Baru Agama
  > 
  > Oleh : Azyumardi Azra
  > 
  > Jika membaca buku-buku semacam karya Sam Harris, The End of Faith; 
  > Richard Harris, The God Delusion; dan Christopher Hitchen, The God 
  is 
  > not Great-How Religion Poisons Everything, agama terlihat segera 
  mati 
  > ditinggalkan para penganutnya. Agama dalam perspektif para penulis 
  ini 
  > tidak lebih dari racun yang membunuh para penganutnya. Buku-buku 
  > antiagama yang rata-rata best-sellers memang menyajikan gambaran 
  yang 
  > serba negatif tentang agama.
  > 
  > Buku-buku tersebut boleh dikatakan sebagai reaksi balik terhadap
  > semakin meluasnya kebangkitan kembali agama. Sudah banyak 
  penelitian dan penerbitan yang mengungkapkan gejala ini. Salah satu 
  yang paling akhir 
  > adalah laporan khusus majalah The Economist, 3-9 November lalu 
  dengan 
  > tajuk 'The New Wars of Religion'.
  > 
  > Laporan The Economist menyimpulkan, agama tidak surut apalagi mati 
  > karena modernisasi dan sekularisasi. Memang, di tengah deru 
  modernisasi
  > dan sekularisasi, agama sering dipandang banyak politisi, birokrat 
  > pemerintahan, dan bahkan akademisi Barat sebagai tidak relevan. 
  Agama 
  > dalam perspektif mereka kian tidak relevan dengan kehidupan publik. 
  > Dalam istilah guru besar dan teolog Universitas Harvard, Harvey 
  Cox, 
  > dalam bukunya yang terkenal The Secular City, agama tidak punya 
  tempat 
  > sama sekali dalam kehidupan kota sekuler.
  > 
  > Tetapi, berbeda dengan pandangan tersebut, sejak 1970-an agama 
  ternyata
  > kembali ke pentas berbagai lapangan kehidupan termasuk politik, 
  sosial,
  > budaya, ekonomi, dan seterusnya. Sekali lagi meminjam istilah Harvey
  > Cox yang terpaksa merevisi teorinya, agama telah kembali ke kota 
  sekuler. 
  > Pada 2005 sekitar 73 persen umat manusia di seluruh dunia memeluk 
  salah
  > satu dari empat agama besar; Kristiani, Islam, Hindu, dan Budha; 
  menurut 
  > prediksi jumlahnya meningkat mencapai sekitar 80 persen pada 2050.
  > 
  > Titik balik kebangkitan agama tersebut menurut Timothy Shah, 
  seorang 
  > ahli pada The Council on Foreign Scholars, New York, adalah Perang 
  Enam
  > Hari antara negara-negara Arab dan Israel pada 1967. Perang ini
  > menandai kekalahan total pan-Arabisme sekuler, yang pada 
  gilirannya memberikan momentum bagi kebangkitan gerakan Islamis 
  radikal yang mengerahkan segenap upaya untuk menumbangkan rezim-rezim 
  sekuler di Dunia Arab; usaha yang sampai sekarang belum banyak 
  berhasil.
  > 
  > Sebaliknya bagi penganut agama Yahudi, kemenangan Israel dalam 
  Perang 
  > 1967 itu merupakan sebuah 'mukjizat' yang menunjukkan adanya campur 
  > tangan Tuhan untuk membantu mereka. Karena itu, menurut mereka, 
  Tuhan 
  > dan agama sama sekali tidak lagi bisa dikesampingkan dalam 
  mempertahankan eksistensi negara Israel. Pandangan dan anggapan 
  > eskatologis ini memberikan momentum bagi kebangkitan kelompok 
  ortodoks, ultra-ortodoks, fundamentalis, dan radikal di kalangan 
  penganut agama Yahudi.
  > 
  > Selanjutnya sejak 1970-an adalah masa-masa kebangkitan agama secara 
  > global. Amerika Serikat memilih Jimmy Carter sebagai Presiden yang 
  > dengan bangga menyatakan dirinya sebagai 'born-again Christian', 
  yang 
  > diikuti Ronald Reagan yang dengan mengutip Perjanjian Baru 
  menyatakan 
  > Amerika sebagai 'sebuah kota di puncak bukit, yang menerangi 
  berbagai 
  > penjuru'. Dan terakhir sekali adalah George W Bush yang memercayai 
  > dirinya tidak lebih daripada sekadar menjalankan berbagai kebijakan 
  > Tuhan melalui dirinya.
  > 
  > Kebangkitan agama tersebut jelas menimbulkan berbagai dampak dan 
  > implikasi pula dalam berbagai aspek kehidupan. Banyak hal positif 
  dalam
  > kebangkitan agama itu; tetapi juga terdapat banyak ekses, yang oleh 
  The
  > Economist disebut sebagai 'perang baru agama'. Sepanjang dua 
  dasawarsa terakhir kian banyak terjadi kekerasan dan perang atas nama 
  agama,
  > sejak dari Nigeria ke Srilanka, Filipina Selatan dan Thailand 
  Selatan; dari 
  > Serbia dan Bosnia terus Chechnya ke Palestina-Israel, Irak dan
  > Afghanistan.
  > 
  > Memang, agama dalam banyak kasus tidak dengan sendirinya menjadi 
  > penyebab dan sumber dari 'perang baru agama' tersebut. Berkat 
  > dialog-dialog antaragama yang kian intens, 'perang baru agama' 
  karena 
  > motif keagamaan sebagian besarnya dapat dicegah. Sebaliknya, apa 
  yang 
  > disebut 'perang baru agama' tersebut lebih bersumber pada masalah 
  > politik dan ekonomi yang tidak pernah terselesaikan. Dan keadaannya 
  > menjadi lebih rumit, rawan, dan eksplosif ketika para politisi 
  dalam 
  > menghadapi pertikaian-pertikaian politik tersebut mencampurbaurkan 
  > kebijakan politiknya dengan semangat keagamaan.
  > 
  > 'Perang baru agama' bisa menjadi sangat eksplosif dan menjerumuskan 
  > masyarakat dunia ke ambang pertumpahan darah yang sulit diakhiri.
  > Karena itulah penciptaan dan pemberdayaan tatanan dunia baru yang 
  lebih 
  > berimbang dan adil menjadi kebutuhan mendesak. Reformasi PBB dan 
  > badan-badan internasional lainnya merupakan agenda dan tanggung 
  jawab 
  > bersama, yang meski sangat sulit mesti diupayakan terus.
  > 
  > http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=315383&kat_id=19
  > 
  > 
  > 
  > 
  > blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com 
  > 
  > 
  > 
  > ---------------------------------
  > Be a better sports nut! Let your teams follow you with Yahoo 
  Mobile. Try it now.
  > 
  > [Non-text portions of this message have been removed]
  >



   


------------------------------------------------------------------------------


  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG Free Edition. 
  Version: 7.5.503 / Virus Database: 269.16.12/1163 - Release Date: 01/12/2007 
12:05


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke