Mbah Tempo, Bukankah Ivan Haris sudah bergabung di Tempo lagi? Menurut data yang aku pegang, dia kini berkiprah di ANTV.
Alangkah baiknya, bila Anda posting saja artikel tentang Amran Nasution di milis ini. salam, mod ----- Original Message ----- From: Mbah Tempo To: [EMAIL PROTECTED] Sent: Thursday, December 06, 2007 12:33 PM Subject: Re: [mediacare] Tanggapan dari Ulil - Re: "Duel" Ulil vs Amran Nasution yaaah, penjahat koq jadi ahli agama. untuk bukti kejahatannya Amran Nasution ketika masih di Kisaran sana, pernah dimuat pada majalah Tempo. untuk detailnya (edisi dan halaman) dapat menghubungi Ivan Haris Hp. 0811985446.atau langsung saja datang ke perpustakaan Tempo --- mediacare <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Berikut tanggapan Ulil atas artikel Amran > sebagaimana disampaikan Ulil ke > beberapa milis.. > > ---------------------------------------------------------- > ----- > > Salam, > > Di bawah ini adalah surat elektronik (surel) saya > yang ditanggapi oleh Amran > Nasution. Saya tidak tahu apakah surel saya dimuat > di Hidayatullah atau > tidak, tapi saya mengirimnya ke tiga milis, sehingga > dugaan saya beberapa orang sudah membacanya. > > Saya belum sempat membuat tanggapan balik untuk Sdr. > Amran saat ini, karena masih sibuk menggarap paper > kelas. Mungkin akhir minggu ini saya baru bisa > menulis tanggapan. > > Ulil > > ====== > > Salam, > > Seseorang mengirimkan sebuah artikel yang ditulis > oleh Amran Nasution, bekas > wartawan Tempo dan Gatra, tentang aliran sesat di > Indonesia. Artikel ini > dimuat oleh Majalah Hidayatullah edisi November 23. > Artikel itu saya kirim > dalam surat terpisah. > > Secara keseluruhan, artikel Amran ini memperlihatkan > cara berpikir yang > sangat rancu. Ada tiga hal yang ingin saya kemukakan > terhadap artikel ini: > > (1) Sdr. Amran menyebut sejarah kelam Eropa > berkenaan dengan persekusi agama > yang dilakukan oleh gereja Katolik. Menurut dia, > sikap agama Katolik > terhadap sekte-sekte yang menyimpang lebih kejam. > Dia lalu mengatakan bahwa > fatwa mati yang dikeluarkan oleh Ayatullah Khomeini > terhadap Salman Rushdie > adalah sesuatu yang sudah dikenal dalam sejarah > Eropa. > > Argumen ini tentu amat menggelikan. Sejarah kelam > gereja Katolik justru > menjadi pemantik lahirnya reformasi besar-besaran > dalam agama itu dan > akhirnya melahirkan agama Protestan. Sejarah kelam > ini pula yang melahirkan > sejumlah traktak filsafat politik penting mengenai > pentingnya toleransi > agama seperti yang ditulis oleh John Locke, John > Stuart Mill, atau Roger > William (di Amerika). > > Eropa belajar dari sejarah kelam itu hingga > sekarang. > > Hasilnya tentu bukan main: lahirnya negara sekuler > yang melindungi kebebasan > beragama. Atau tepatnya: > > melindungi agama dari intervensi negara (versi Roger > William), dan > melindungi negara dari intervensi agama (versi > Thomas Jefferson). Kedua > intervensi itu sangat buruk akibatnya baik bagi > agama atau negara sendiri. > > Saat ini, di seluruh negeri Eropa dan Amerika (juga > Kanada dan Australia) > nyaris "mustahil", sekali lagi nyaris mustahil, kita > jumpai kasus sebuah > sekte diberangus atau dirusak propertinya karena > membawa ajaran yang > menyimpang. > > Semua sekte, aliran, mazhab, dan keyakinan bisa > berkembang bebas di > negeri-negeri barat. Di Amerika Serikat, misalnya, > ada sebuah sekte besar > dalam agama Kristen bernama Mormon yang jelas dari > sudut ortodoksi Kristen > bisa dianggap menyimpang jauh. Tetapi agama ini > berkembang bebas, terutama > di negara bagian Utah. > > Bahkan salah satu pengikutnya, yaitu Mitt Romney, > pernah menjadi gubernur > dua periode di negara bagian Massachusetts. Romney > saat ini malah ikut > menjadi calon presiden Amerika dari Partai Republik. > > Sejarah kelam Eropa ini mestinya menjadi pelajaran > bagi siapapun. Yang > menyedihkan, umat Islam, sekurang-kurangnya seperti > kita lihat di Indonesia > saat ini, pelan-pelan justru sedang mengulang > sejarah "buruk" itu. Pada saat > umat Katolik dan Kristen sudah mulai meninggalkan > sejarah > "sesat-menyesatkan" itu, sekarang malah umat Islam > mulai belajar mengulangi > kembali. > > Tentu ini amat menyedihkan. Lebih menyedihkan lagi > bahwa hal ini terjadi > pada agama yang selalu membanggakan diri dengan ayat > "la ikraha fi al-din", > tidak ada paksaan dalam agama. Sikap yang selalu > "dilantunkan" oleh Depag > dan MUI bahwa Jamaah Ahamadiyah harus kembali ke > jalan yang benar, yakni > mengikuti ajaran Islam "mainsream", misalnya, adalah > jelas bentuk dari > pemaksaan keyakinan, dan jelas pula berlawanan > dengan ayat yang selalu > dibanggakan oleh umat Islam itu. > > Sudah tentu, kalangan "ortodoks" Islam akan > mengatakan bahwa kebebasan > beragama seperti dikemukakan oleh ayat itu tidak > berlaku "seenaknya" saja. > Tafsiran ortodoks inilah yang dipakai sebagai salah > satu argumen oleh Sdr. > Amran. Mengenai ini, saya akan menanggapi dalam poin > kedua berikut ini. > > (2) Sdr. Amran mengemukakan sesuatu yang menarik. > Saya akan kutip pernyataan > dia selengkapnya: > > <<Kalau Moshaddeg membuat agama baru yang tak dia > kaitkan dengan Islam, > apakah namanya Progresif, Liberal, atau Neocon, lalu > dia susun ajarannya > sesuka hati, pasti tak ada yang keberatan, apalagi > membuat fatwa. Paling dia > dianggap gila, atau orang salah jalan yang harus > didakwahi. Sebenarnya, > keberatan, protes, atau marah, ketika agama yang dia > muliakan dihina, bukan > monopoli ummat Islam, apalagi ummat Islam > Indonesia.>> > > Pandangan Amran ini, saya duga, merupakan cara > berpikir standar kalangan > Islam konservatif di Indonesia. Ada "kerancuan" > dalam cara berpikir seperti > > ini: > > (a) Kita tak bisa mencegah siapapun untuk > mengemukakan tafsiran atas agama > Islam, termasuk mengubah syahdat, jumlah rakaat > salat, dsb. Saya sendiri > jelas tak setuju dengan tindakan seperti ini. > Kalangan ortodoks bisa > mengeluarkan "fatwa" bahwa tindakan semacam itu > adalah salah dari sudut > pandang ajaran Islam "mainstream". Kalangan ulama > berhak pula memberikan > peringatan kepada umat agar hati-hati terhadap > ajaran seperti ini. > > Tetapi MUI atau siapapun tidak berhak melarang > "sekte" seperti itu, atau memaksa mereka kembali > kepada ajaran yang menurut MUI benar. Hak sekte > tersebut untuk berkeyakinan seperti itu tak bisa > dicegah, karena dilindungi oleh konstitusi. > Kata-kata yang selalu saya ingat dari Roger > Williams, seorang pejuang gigih kebebasan beragama > di Amerika, adalah > "iman yang dipaksakan akan terasa "bau" di hidung > Tuhan". > > Masyarakat tidak bisa dicegah untuk memeluk > keyakinan apapun, asal keyakinan > itu tidak menimbulkan kerusakan fisik yang melanggar > hukum sipil yang ada. > Inilah prinsip kebebasa beragama yang menurut saya > konsisten dengan > deklarasi Qur'an, "la ikraha fil al-din". > > (b) Kalau kita mau sedikit menoleh sejarah ke > belakang, pernyataan Amran ini > juga amat janggal. > > Dilihat dari kaca mata Kristen, jelas agama Islam > yang dibawa oleh Nabi > Muhammad saat itu melakukan "tampering" atau > mencomot dari ajaran Kristen > "dengan seenaknya" (memakai istilah Adr. Amran) dan > mengubahnya === message truncated === __________________________________________________________ Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search. http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping ------------------------------------------------------------------------------ No virus found in this incoming message. Checked by AVG Free Edition. Version: 7.5.503 / Virus Database: 269.16.15/1173 - Release Date: 05/12/2007 21:29 [Non-text portions of this message have been removed]

