Surat Dari Montmartre:


NOVEL "SAMAN" EDISI PERANCIS, DILUNCURKAN 
DI KOPERASI RESTORAN  INDONESIA PARIS

Pertanyaan & Pernyataan



Setelah makan malam, diskusi pun dibuka oleh Dr. Etienne Naveau dari Lembaga 
Persahabatan Perancis-Indonesia "Pasar Malam", selaku moderator. 


Kekuatan "Pasar Malam" yang menonjol, selain terletak pada kemampuan lobbi, 
juga kemampuannya menghimpun semua, paling tidak sebagian besar  tenaga 
ahli/pakar dan atau pun orang-orang yang tertarik pada masalah Indonesia. 
Dengan kemampuan ini, maka kegiatan-kegiatan "Pasar Malam" selalu mempunyai 
gaung yang diperhatikan oleh berbagai pihak, termasuk penyelenggara negara dan 
dunia kebudayaan Perancis dan Belanda.


Sesungguhnya, saya pribadi merasa cukup tercengang mengetahui hadirin yang 
hadir di peluncuran novel "Saman", sebagian besar bisa berbahasa Indonesia 
dengan lancar, bahkan sangat lancar dan menangkap nuansa-nuansa kata yang 
diucapkan. Sehingga dalam diskusi peluncuran ini, tiga bahasa telah digunakan: 
Perancis, Inggris dan bahasa Indonesia. Mengetahui keadaan begini, akhirnya Ayu 
Utami berdialog dengan menggunakan bahasa-bahasa Inggris dan Indonesia  yang 
membuat ia kian santai.  Melalui beberapa kegiatan yang minim kuikuti di skala 
internasionall, saya berkesan bahwa untuk "go international", agaknya sastrawan 
memang diperlukan mempunyai penguasaan bahasa, baik bahasa ibu mau pun bahasa 
asing. Jika hanya bersandar pada penterjemahan langsung, sering kudapatkan, 
sang penterjemah atau yang diharapkan menjadi penterjemah, tidak menangkap 
nuansa istilah yang digunakan pembicara sehingga dampak baliknya menjadi kurang 
tajam.  Sedangkan, istilah, kata berperan mengungkapkan pikir dan rasa yang 
ingin diungkapkan pembicara. Terjemahan tanggung karena penguasaan bahasa yang 
tanggung, sering dan bisa  mengkhianati penulis dan pembicara. Dalam hubungan 
ini, saya mengagui alm. Prof. Dr. Denys Lombard yang menguasai dengan baik 
berbagai bahasa asing, seperti Viêt Nam, Tionghoa, Indonesia, Arab, Inggris, 
dan lain-lain....  sehingga beliau bisa membaca langsung sumber-sumber acuan 
dari bahasa aslinya tanpa kekhawatiran dikhinati terjemahan. Berdasarkan 
keadaan begini, maka ketika menjadi guru kecil di sebuah universitas di 
Indonesia, saya selalu menganjurkan kepada para pendengar saya agar kalau  mau 
menjadi imuwan serius, paling tidak diharapkan menguasai dua-tiga bahasa asing. 
Kukira sastrawan pun tidak ada buruknya jika mempunyai kemampuan begini 
sehingga lingkup pandangannya bisa makin lebar dan jauh dengan acuan yang kaya. 
Lebih-lebih di era sekarang. Insting dan bakat, tidak bakal memadai untuk 
menjadi sastrawan di dunia yang makin  menjadi sebuah "desa kecil". Belajar dan 
belajar, membanding dan membanding,  dengan memperluas acuan akan sangat 
berguna dalam usaha meningkatkan kadar diri. Belajar dan membanding tanpa 
henti, jadinya barangkali merupakan suatu keniscayaan bagi sastrawan.  Mencari 
pengakuan dengan gaya narsistik, jadinya bukan sesuatu yang utama. Bahkan 
menggelikan yang kadang membuat kita menahan ketawa demi sopan santun. 
Entahlah! Mungkin saya keliru. Saya sedang berbicara tentang harapan baik saya 
belaka  sebagai seorang pencinta sastra-seni dan negeri berdasarkan potensi 
yang kita miliki , tentang esok sastra negeri kita. 


Kadar diri sebagai penulis dan orang, akan gampang diditeksi dari kata-kata, 
tulisan  dan pembicaraan kita. Kata tidak berdusta pada diri kita sendiri 
sebagai pengucap.


Pada saat peluncuran novel "Saman" edisi bahasa Perancis, malam itu, diskusi 
berlangsung di dua tempat. Di meja-meja antar hadirin dan di forum peluncuran.  
Kalau saya bandingkan maka diskusi di meja-meja, jauh lebih intensif 
dibandingkan di forum peluncuran. Di meja-meja dilakukan diskusi jauh lebih 
mendalam. Dikemukakan apresiasi masing-masing atas masalah yang diajukan Ayu 
Utami dalam novel "Saman"nya.


Salah satu pertanyaan yang dilontarkan oleh  hadirin ke forum peluncuran, 
kongkretnya dari seorang pemandu pariwisata yang sangat fasih berbahasa 
Indonesia,  berbunyi kurang-lebih:  "Novel 'Saman' di Indonesia telah 
diterbitkan dalam oplag 100.000 eksemplar.  Dibandingkan dengan jumlah penduduk 
negeri yang 220 juta, tentu saja jumlah eksemplar ini tidak berarti. Yang ingin 
saya tanyakan dengan eksemplar demikian dan selebritas Anda sekarang, apakah 
karya-karya Anda menjangkau penduduk pedesaan  yang luas dan bagaimana 
pengaruhnya?"


Reaksi pertama dalam hati saya ketika mendengar pertanyaan ini: "Apakah 
pertanyaan ini tidak salah perumusan?". Tapi dalam renungan cepat,  saya 
melihat bahwa arah pertanyaannya berintikan: Untuk siapa sastrawan berkarya? 
Untuk diri sendiri, untuk mencari popularitas dan menjadi selebritis, dan 
hal-hal yang bersifat narsis ataukah untuk memenangkan suatu ide? Dengan 
renungan cepat begini, akhirnya saya mendapatkan pertanyaan pemandu pariwisata 
ini merupakan sebuah  pertanyaan tajam walau pun jawabannya tentu bersegi luas 
dan banyak. Malangnya, karena sambil melayani para tamu  dan diskusi meja,   
saya tidak mendengar jelas bagaimana pandangan dan sikap Ayu Utami menjaawab 
pertanyaan ini. Hanya saja pertanyaan ini, agaknya terjawab oleh pertanyaan 
dari seorang mantan pilot perempuan Perancis yang ketika non aktif dari dunia 
dirgantara, beralih ke dunia sastra Indonesia: "Apakah Anda tidak mengalami 
kesulitan dari penyelenggara Negara Orba ketika "Saman" diterbitkan?" 
Pertanyaan yang dijawab sendiri oleh penanya dan hadirin yang lain bahwa 
"Saman" terbit menjelang beberapa saat sebelum Jenderal Soeharto turun 
panggung. "Saman" terbit di saat yang oleh orang Perancis disebut sebagai "la 
période de grace" [periode berkah].  Jawaban pertanyaan dengan pertanyaan 
seperti ini memperlihatkan bahwa Ayu sebenarnya menyentuh banyak hal-hal tabu 
dalam masyarakat Indonesia periode Orba, termasuk masalah-masalah kekuasaan 
politik di tahun-tahun masakre. Artinya, sebagai novelis, Ayu mempunyai suatu 
keberpihakan manusiawi [engagement social] dan melakukan keberpihakan itu 
secara sadar. Yang sempat terdengar padaku bahwa dalam menyentuh berbagai soal 
kemasyarakatan dalam novel tersebut, Ayu Utami menyatakan ia memang "tidak 
fokus, tapi itulah keunikan cara narasi saya. Yang mungkin beda dari 
penulis-penulis lain". Melalui pernyataan begini, saya melihat bahwa Ayu Utami 
sebagai penulis berusaha selalu sadar akan apa yang ia tulis, membanding dan 
bertanya serta menanyai diri.


Kesadaran sebagai penulis yang berkomitmen manusiawi, terkesan pada saya 
melalui diskusi peluncuran "Saman" malam ini, ada pada Ayu Utami. Komitmen 
manusiawi ini tentu saja bisa diungkapkan dengan berbagai cara sastrawi dan 
artistik serta tidak harus dengan suatu slogan yang bicara singkat dan 
langsung.  Slogan dan karya artistik , walau pun ada tautannya, tapi boleh jadi 
mempunyai cara ungkap berbeda. Keberpihakan sosial penulis seperti yang 
diangkat malam ini, apakah sudah menjadi masalah kadaluwarsa di dunia sastra 
Indonesia ataukah masih merupakan sesuatu yang patut dipertanyakan dan menanyai 
para sastrawan-seniman?  Masing-masing bisa menjawab jujur pertanyaan ini  pada 
diri sendiri. Entah kalau pada diri sendiri pun kita layak berdusta karena 
didorong oleh keadaan negeri dan bangsa yang  didominasi oleh dusta serta lupa 
seperti sekarang, sehingga lupa dan dusta pada diri sendiri merupakan sesuatu 
yang digemari. Sejarah kelahiran sastra-seni serta hubungannya dengan kehidupan 
pun menjadi tidak diindahkan. Dilupakan. Dari pertemuan peluncuran "Saman" yang 
oleh "Pasar Malam" disebut sebagai "Spécial  Saman", saya tidak melihat Ayu 
Utami menggolongkan diri sebagai seorang pelupa dan narsis." 

Pertanyaan dan pernyataan argumentatif, berlanjut sampai larut malam. Ya, orang 
Perancis memang suka berdebat.  Debat ide yang terbuka tanpa wasangka seperti 
tertuang dalam ungkapan keseharian: "Oui, mais....[Ya, tapi...] sehingga jika 
mereka berbicara, kalimat mereka berakhir pada koma.


Paris, Desember 2007.
-----------------------------
JJ. Kusni, pekerja Koperasi Restoran Indonesia Paris.



[Berlanjut...]


Keterangan Foto:
Foto terlalampir melukiskan suasana peluncuran novel "Saman" karya Ayu Utami  
di Koperasi Restoran Indonesia Paris, 04 Desember 2007 malam. [Dok. & foto  
JJK].


IMG_3437.JPG



IMG_3438.JPG



IMG_3439.JPG



IMG_3440.JPG



IMG_3441.JPG






----------------------------------------------------------------------------
    Yahoo! Movies - Search movie info and celeb profiles and photos.
    IMG_3438.JPG



    IMG_3439.JPG



    IMG_3440.JPG



    IMG_3441.JPG



  IMG_3438.JPG



  IMG_3439.JPG



  IMG_3440.JPG



  IMG_3441.JPG







--------------------------------------------------------------------------------

Real people. Real questions. Real answers. Share what you know. 


--------------------------------------------------------------------------------






--------------------------------------------------------------------------------






--------------------------------------------------------------------------------






--------------------------------------------------------------------------------






--------------------------------------------------------------------------------




  ----------


IMG_3438.JPG



  ----------


IMG_3439.JPG



  ----------


IMG_3440.JPG



  ----------


IMG_3441.JPG




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke