Surat Dari Montmartre:

NOVEL "SAMAN" EDISI PERANCIS, DILUNCURKAN 
DI KOPERASI RESTORAN  INDONESIA PARIS
04 Desember 2007 


"TIGA M" DAN PENJELASANNYA. 



Dalam Forum Peluncuran,  ketika menjawab pertanyaan dari hadirin, Ayu Utami 
mengetengahkan hal baru -- paling tidak, baru saya dengar perumusannya malam 
ini  secara langsung. Hal baru yang saya maksudkan itu adalah hal-hal yang 
disebutnya sebagai "Tiga M", yaitu: "masculinism, military, and modernity". 
"Tiga M" ini  disebut oleh Ayu Utami sebagai "my enemies" [musuh-musuhku]. 
Novel baru yang sekarang sedang ia rancangkan penulisannya justru berangkat 
dari  topik "Tiga M" ini. 


Dilemparkannya perumusan "Tiga M",  saya lihat menunjukkan bahwa dalam 
bersastra senantiasa merenung. Berpikir. Membaca. Terutama membaca kehidupan 
dan keadaan masyarakat di mana ia hidup. Masalah ini, saya baca bahwa Ayu 
Utami, mendapatkan ilham bersastra tidak sebagai sesuatu yang turun dari 
langit, tetapi langsung dari kehidupan yang ia hidupi. Sikap ini memperlihatkan 
bahwa Ayu Utami sudah mencapai tingkat bersastra sadar dalam berkarya. Tidak 
sibuk dengan diri sendiri. Tidak  hanya berangkat dari getaran emosi. Emosi 
yang menggetarkan jiwa dan pikirnya, justru bermula dari damparan gelombang 
permasalahan yang dialami dan dilihatnya. Ia tidak asing dan tidak mau 
mengasingkan diri dari kehidupan.  Kalau pengamatan saya benar, maka tidak 
jarang di Indonesia kita dapatkan adanya orang yang hidup di Indonesia tapi 
sesungguhnya asing dari Indonesia.  Acuh tak acuh pada Indonesia. Hidup di 
suatu tempat, tidak menjamin dan bukan jaminan bahwa kita mengenal tempat itu, 
jika kita tidak berusaha keras membaca dan mengenalnya. Tapi benar dengan 
berada di tempat jika kita bisa membaca dan mengenal tempat itu, kita bisa 
merasakan greget permasalahan dalam pikir dan emosi. Kita mendapatkan roh dan 
apinya. Roh dan api masalah, kukira sangat penting. Dan penulis yang berpikir 
akan mampu, jika menggunakan istilah umum dikenal, penulis mampu menawarkan 
sesuatu alternatif jalan keluar. Tawaran usulan ini, tidak berarti ia adalah 
seorang yang jenius, tapi lebih karena ia rajin dan mampu membaca, mengenal 
lebih dahulu keadaan. Keterasingan diri, antara lain karena sibuk dengan diri 
sendiri, kiranya, bisa menjadi penyandung kita untuk membaca dan mengenal 
kehidupan, masyarakat dan juga diri sendiri. Menjadikan penulis  sebagai 
sastrawan "anak raja", alias "pangeran" jika menggunakan istilah penyair 
Perancis Paul Elouard. Ketika Ayu Utami mengetengahkan perumusan "Tiga M", saya 
menduga bahwa Ayu sudah sampai di tingkat bersastra sadar dan meninggalkan fase 
bersastra instingtif sehingga dengan sampainya ia pada tingkat bersastra sadar 
ini, dari Ayu sebagai penulis, kiranya kita bisa bisa banyak berharap untuk 
membantu kita  sebagai pembaca membaca kehidupan dan masyarakat serta 
memelihara harapan melanjutkan perjalanan menuju hari-hari yang jauh dalam 
usaha memanusiawikan diri, kehidupan dan masyarakat -- suatu usaha yang seperti 
kalimat tak punya titik, seperti laut pencarian yang tak berpantai.  Tingkat 
bersastra sadar  adalah suatu tingkat yang tidak indahkan selebritas, nama dan 
hal-hal narsistik, karena tingkat ini lebih memperhitungkan masalah besar, 
ketimbang hal-hal yang mengasingkan diri kita dari kehidupan dan berasyik ria 
dengan diri sendiri yang memang digiurkan oleh era globalisasi kapitalisme.


Hanya saja setelah mendengar istilah-istilah "Tiga M" dan "enemies" [kata yang 
bagi saya melukiskan keadaan masyarakat, menunjukkan kontradiksi pokok 
masyarakat kita hari ini], saya masih memerlukan penjelasan lebih jauh dan 
tidak saya dapatkan keterangan rincinya melalui forum peluncuran. Saya 
memerlukan penjelasan lebih lanjut tentang  apa yang dimaksudkan dengan 
"masculinism, military and modernity" sehingga oleh Ayu Utami dipandang sebagai 
 her "enemies". Tidakkah kata-kata ini merupakan suatu perumusan konsep serta 
analisa masyarakat kita sekarang, dan saya tidak ingin serta tidak adil apabila 
saya memahami konsep dan analisa masyarakat Ayu Utami berdasarkan pemahaman 
saya.


Dalam menanggap rumusan "Tiga M", hadirin bulé, memang sempat meneyeletuk: 
"Jadi Anda tidak mengkategorikan Muslim dalam "Tiga M"?". Dengan tegas Ayu 
menjawab "tidak" walau pun memang "kami" [maksudnya: Komunitas Utan Kayu" 
--JJK], mengalami gangguan dari kelompok-kelompok Islam ekstrim ["Islam ekstrim 
adalah istilah saya -- JJK]. Hal ini pun pernah dikemukan oleh Ayu Utami ketika 
berbicara di Forum Sastra yang diselenggarakan oleh Lembaga Persahabatan 
Perancis-Indonesia di Gedung Senat Perancis, Oktober 2006.  Ayu memang 
mengkritik ekstrimisme, tapi sejauh yang saya pahami ia tidak pernah menyebut 
"Islam ekstrim" [banyak istilah lagi digunakan oleh banyak penulis untuk maksud 
serupa] sebagai musuh. Barangkali saya keliru, dan saya kira tentang hal ini 
pun akan ada baiknya  jika Ayu Utami berkenan meluruskan tangkapan saya yang 
keliru. 


Saya mengharapkan penjelasan-penjelasan ini, karena saya masih memandang kata 
sebagai wadah konsep dan konsep berdampak  pada sikap dan tindakan. Kata-kata 
itu sudah diucapkan di depan publik. Ditambah lagi, saya kira, kata, bagi 
seorang sastrawan, mempunyai makna khusus. Kata sangat berarti karena penulis 
bekerja dengan kata. Harapan ini saya tuliskan secara terbuka, karena saya tak 
mempunyai banyak kesempatan bertemu Ayu. Ia pernah mencariku di Koperasi 
Restoran Indonesia, tapi ketika itu saya tidak ada. Maaf. Tadinya saya 
berharap, ia masih berada di Paris pada acara "Debat dan Membaca Sastra 
Indonesia: Siapa-siapa Sastrawan Indonesia Hari Ini" pada 14 Desember 2007 di 
L'Institut Neérlandais-- suatu acara yang diselenggarakan  oleh Lembaga 
Persahabatan Perancis-Indonesia.  Pada tanggal itu, Ayu Utami sudah 
meninggalkan Paris. 


Pertanyaan seminar "Pasar Malam" tanggal 14 Desember 2007 ini: "Qui sont les 
écrivains indonésiens d'aujourd'hui" [Siapa-siapa gerangan para penulis 
Indonesia Sekarang?], jika kurenung ulang, sungguh merupakan suatu pertanyaan 
menarik , baik dilihat dari nasional , maupun internasional. Juga yang disebut 
"sastra" dan "sastrawan". Pertanyaan ini menyimpan makna yang mendasar secara 
teoritis dan hasil bacaan atas situasi sastra negeri kita. Melalui surat ini,  
pertanyaan tersebut saya sampaikan kepada semua.



Paris, Desember 2007.
-----------------------------
JJ. Kusni, pekerja biasa Koperasi Restoran Indonesia Paris.



[Berlanjut...]


Keterangan Foto:
Foto terlampir memperlihatkan wajah kulit mula novel Saman edisi bahasa 
Perancis karya Ayu Utami yang diluncurkan   di Koperasi Restoran Indonesia 
Paris, 04 Desember 2007 malam. Terlampir juga foto diri Ayu Utami. [Dok. JJK. 
Foto Lembaga Persahabatan Perancis-Indonesia Pasar Malam", Paris].




 

 Roman SAman, Edite par flammarion, ET traduit  en français par Elizabeth 
Inandiak (membre de Pasar Malam).
Saman sera en librairie le 18 janvier 2008.
Sebastien Fumaroli, attaché de presse chez Flammarion, sera présent.[Roman 
SAman, Diedit oleh Flammarion, dan Diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis oleh 
elisabeth inandiak [anggota pasar malam] akan beredar di tokobuku-TOKOBUKU 
prancis tangan 18 januari 2008. 

                                             


Ayu Utami


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke