Baju Taqwa Pertama
  Oleh : Mochammad Moealliem 
   
  Baju yang selama ini kita pakai tentu fungsinya sebagai penutup aurat serta 
untuk menambah keindahan kita, sebagaimana pepatah jawa, ajining diri soko ati, 
ajining rogo soko busono nilai diri berkat hati, nilai tampang dari busana. 
Meskipun yang menjadi trend akhir-akhir ini pakaian berkurang dari fungsi untuk 
menutup aurat dan mengalami penyempitan fungsi hanya sekedar menjadi hiasan, 
penulis jadi teringat pakaian zaman masa kerajaan Nusantara, hanya orang-orang 
tertentu yang bisa memakai baju yang mampu menutupi sebagian besar tubuhnya.
   
  Penulis katakan hiasan sebab pakaian itu tak cukup untuk membentengi tubuh 
dari serangan udara yang menusuk-nusuk dikulit bahkan tembus tulang, bahkan tak 
mampu membendung pandangan mata liar yang begitu tajam. Mungkin hal demikian 
terhitung wajar bagi korban lumpur yang rumahnya tenggelam beserta isinya, 
korban banjir yang arus air membawa kabur harta bendanya, atau bahkan 
korban-korban arus kebudayaan yang begitu bengis.
   
  Begitulah kelebihan bumi kita ini, pakaian apa saja modelnya alam tetap 
bersahabat dengan kita, kecuali di daerah dekat kutub, suatu saat berpakaian 
tebal, saat yang lain begitu tipis. Seperti halnya di Mesir saat saya menulis 
ini, udara begitu sejuk yang berlebihan, ditopang kecepatan udara yang 
berlarian begitu cepatnya, mengakibatkan rambut porak-poranda dari aturan, 
serta hidung yang mirip lapindo, dengan lumpurnya yang terjadi karena 
kedinginan.
   
  Berbeda dengan di Mars atau di bulan, tentunya pakaian yang diperlukan oleh 
astronot agak berbeda, dan biasanya sebelum pergi perlu latihan dulu, sebagai 
bagian adaptasi lingkungan yang sangat berbeda dan tentunya lebih tidak enak 
daripada di bumi, bagaimana tidak, sebab disana belum ada penjual makanan, 
minuman, bahkan begitu gersang tanpa tumbuhan.
   
  Kalau saja diantara para pembaca ada yang jadi astronot, tentu akan menjalani 
pelatihan khusus, mulai yang paling kecil hingga yang paling besar, cara 
berkomunikasi, cara menyelesaikan misi, cara kembali ke bumi dan berbagai 
pendidikan yang disesuaikan dengan tujuan sang pengirim. Dan tentunya astronot 
akan dimanjakan dengan berbagai kebutuhan dan kenikmatan yang tanpa perlu 
bekerja.
   
  Adam pun ternyata menjalani pelatihan khusus sebelum berangkat ke bumi, sebab 
dia astronot pertama, sementara bumi sudah pernah dihuni makhluk yang buas, 
bengis dan sadis yang selalu bertengkar dan menumpahkan darah diantara 
sesamanya, hukum rimba yang berlaku berakibat para penguasa bumi waktu itu 
menjadi sombong dan menentang aturan yang semestinya.
   
  Hingga akhirnya Allah berkata pada para malaikat, "Akan Kuciptakan pengganti 
di bumi", sementara malaikat belum pernah tahu seperti apa khalifah itu, atau 
jangan-jangan sama saja dengan makhluk yang ada selama ini, maka dengan sopan 
malaikat menanyakan "Adakah hendak Engkau ciptakan di bumi makhluk  pengrusak 
dan penumpah darah?" namun ternyata manusia dirahasiakan kelebihannya, dan 
dikatakan pada malaikat "Aku lebih tahu tentang apa yang kalian tidak ketahui".
   
  Setelah Adam menjalani pendidikan secara khusus, akhirnya diresmikanlah 
astronot bumi dihadapan makhluk-makhluk yang lain. Karena makhluk baru yang 
punya kelebihan dibanding makhluk yang lain, maka tak heran kalau manusia 
sebenarnya dimanja oleh Sang Pencipta. Apa jadinya kalau makhluk yang sudah 
kawakan harus memberi hormat kepada makhluk yang baru? apalagi tahu bahan baku 
pembuatannya, tentunya akan marah, iri, hasud dan berbagai sikap yang lain.
   
  Kalau digambar dalam urusan negara atau kerajaan, anggap saja orang baru yang 
punya kelebihan khusus, dan dengan hormat menggusur posisi orang lama, pembaca 
bisa bayangkan bagaimana rasanya. Kalau kurang jelas bisa digambarkan juga 
dalam masalah cinta, misalkan penulis suka sama seseorang, terus orang itu 
ternyata mlete dan sombong dengan rasa cinta yang penulis berikan, tentunya 
penulis kesal banget walau tetap sayang, akhirnya penulis mendatangkan kekasih 
yang baru yang punya kelebihan dibanding yang pertama, apa kira-kira yang 
terjadi?
   
  Lalu penulis bilang pada yang awal, hormatlah kamu padanya, mungkin jawabnya 
"huch...cih, sori lah kalau aku harus menghormat padanya, aku lebih baik dari 
anak desa kekasih barumu ini" karena sikap demikian maka tak heran jika penulis 
berkata "keluarlah kamu dari istanaku ini" kemudian aku persilahkan kekasih 
kedua ini menghuni istana, dan penulis pesan "nikmatilah istana ini, kalau 
butuh apa-apa tinggal minta pada pelayan, tapi jangan kamu sentuh pohon ini, 
dan ingat orang yang tadi adalah musuhmu".
   
  Pembaca bisa bayangkan, apa yang akan dilakukan orang pertama bukan? 
Bagaimana caranya orang kedua ini terusir juga dari istana. Begitu mungkin 
gambaran Adam sebelum turun kebumi, meski sebenarnya itu sudah dalam skenario 
Sang Pencipta, hanya saja Allah memberikan alasan yang bagus agar Adam mau 
turun ke bumi, sebab pada kali sebelumnya Allah berbincang dengan malaikat 
bahwa hendak mencipta khalifah untuk bumi.
   
  Sebagaimana anak kecil yang sedang disapih agar lepas dari tetek ibunya, atau 
mugkin agar turun dari gendongan ibunya, biasanya dipancing dengan sesuatu yang 
menarik dari mainan, makanan, atau teman bermain, bahkan terkadang puting susu 
ibunya dikasih buah mahoni yang pahit, agar kalau anak itu menyusu akan 
merasakan pahitnya, akhirnya nggak mau nyusu lagi, demikianlah tata cara yang 
lembut untuk menyapih si kecil dari ketergantungannya.
   
  Dan setelah tersapih dari ASI, si kecil terus mengalami penyapihan, agar mau 
sekolah dan tidak terus didekat ibunya, hingga mungkin harus sekolah yang jauh 
dari ibunya, bahkan keluar negeri, tentunya dia akan kangen dan ingin kembali 
kepangkuan kasih sayang ibunya, setelah misi yang diemban telah 
disempurnakannya.
   
  Begitu pula ketika Adam merindukan kembali, konon Adam menangis berhari-hari 
untuk adaptasi di pondoknya, eh maksudnya di bumi, Apalagi Adam menjadi santri 
pertama di bumi, hari-hari pertama penuh dengan tangis, seperti hari-hari para 
santri baru dipondoknya, atau hari-hari mahasiswa baru di Mesir, wuih begitu 
susahnya adaptasi dengan suasana yang berbeda.
   
  Sebagai santri baru, mahasiswa baru dan makhluk bumi yang baru, tentu membawa 
bekal dari rumah masing-masing, dari makanan, jajan, pakaian, kamus, dan 
lain-lain. Begitu pula Adam ketika turun kebumi, dibekali dengan bermacam-macam 
benih tumbuhan, buah-buahan, sekaligus diajari cara pengembangbiakan, meskipun 
kalau minta kiriman terus tetap bisa, tapi mandiri itu ada nilainya. Hingga 
akhirnya mereka  bisa membuat pakaian sendiri meskipun tak sebaik pakaian yang 
dibawa dari rumah. Apalagi mahasiswa Mesir, tentu pakaian yang dari Indonesia 
lebih indah daripada beli di Mesir, diantara pakaian yang tidak ada di Mesir 
adalah baju taqwa. Dan baju taqwa pula yang paling indah sejak Adam membawanya 
dari surga, sebagai bekal untuk mondok di bumi.
   
  Maka tak heran jika kita disuruh memakai baju terindah itu ketika kita hendak 
pulang kepangkuan kasih sayang Sang Esa, dengan pesan "Hai anak Adam , 
sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup 'auratmu dan 
pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa  itulah yang paling baik. Yang 
demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan 
mereka selalu ingat".QS.7:16
   
  Jika astronot Mars ingin selamat ketika kembali ke bumi maka harus menjaga 
pakaiannya tetap mampu melindunginya, begitu pula Astronot bumi, jika ingin 
selamat ketika kembali ke asalnya, maka pakailah pakaian itu ketika sedang 
menjalankan misi di bumi untuk menjaga jiwa kita dari berbagai bahaya yang tak 
terkira. 
   
  Alliem
  Cairo, Ahad 09 Desember 2007
  Baju Astronot Bumi Adalah Taqwa


  Mochammad Moealliem
  http://www.muallimku.tk  or  http://www.muallimku.blogspot.com 
  Ingin gabung di komunitas sahabat lintas batas? Klik aja
  http://tech.groups.yahoo.com/group/kang_guru/ 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke