Thanks cross-checknya! Oh iya bicara ttg indonesia baru kata kuncinya adalah 
"tdk terjebak dgn BLIND FANATISM", baik pd agama, suku, atau bentuk 
primordialisme apapun. Setiap agama mempunyai sendi-sendi nilai dan berpijak 
pada moralitas yang universal. Tetapi bila di break-down memang ada spesific 
values yg seringkali berbeda antar agama satu dengan yang lain. Perbedaan itu 
natural, bahkan itulah ciri hukum alam yang heterogen. Namun kadangkala, 
eksposisi ajaran agama seringkali diurai berbeda-beda oleh penganutnya. 
Berbagai aliran agama (sekte, mahzab, denominasi) merupakan fenomena dari cara 
meng-eksposisi ajaran itu sendiri. Istilah-istilah yang berhubungan dengan 
implementasi ajaran yang diurai berbeda-beda itu melahirkan persepsi sosiologis 
terhadap apa yg disebut dgn fundamentalisme, moderat, dsbnya.

Sebenarnya, agama itu dalam konteks "religion interesting" mempunyai 
dua aspek: aspek ajaran (religion core) atau aspek fenomena (religion 
phenomenon). Keduanya seringkali tdk berkorelasi, contohnya: tidak ada dalam 
ajaran islam konsep tentang terorisme, tetapi justru muncul fenomena tentang 
islam terorisme. Disinilah problem kita saat ini? Kristennya George Bush 
identik dgn perang, Islamnya Imam Samodra identik dgn vandalisme, Suku 
Hindustan bersikap separatis, dll. 

Saya hanya menyimpulkan sebatas yang saya mampu, bahwa agama masih belum 
menjadi kebutuhan banyak orang. Agama bisa didekati dengan dua motivasi, agama 
sebagai kebutuhan (need) atau keinginan (want). Kalau agama itu merupakan 
kebutuhan, disitulah spiritualitas muncul, dan agama menjadi life-style bagi 
pemeluknya. Tetapi ketika agama dijadikan keinginan, maka seluruh aktivitas 
keagaman itu menjadi kewajiban (obligation), dan apabila agama itu tidak 
memuaskan dirinya, maka muncullah eskapisme (pelarian). Banyak sekarang terjadi 
orang beragama karena keinginan, naik haji karena ingin dilihat supaya tampak 
agamis, atau karena faktor lingkungan yang mengharuskan berangkat haji.

Jadi, sekarang ini banyak orang beragama lebih bersifat eksoteris, sekedar 
trend, atau untuk menyesuaikan dengan lingkungan. Indikatornya jelas, 
kesemarakan agama terjadi dimana-mana, baik di masjid, gereja, pura dll, tetapi 
justru korupsi, kriminalitas, perselingkuhan, juga semakin marak!

radityo djadjoeri wrote: 
> Mas Mowo, berikut klarifikasi dari pihak ESQ        Klarifikasi dari 
> Yudhistira ANM Massardi Sebagai "orang dalam" ESQ, dan barusan saya cek ke 
> Ary Ginanjar, ditegaskan di sini bahwa Ary Ginanjar sama sekali tidak pernah 
> menyebarkan SMS semacam itu. Jadi, SMS tersebut adalah sebuah FITNAH yang 
> ditujukan untuk mendiskreditkan Ary Ginanjar dan ESQ-nya. Selain itu, tentu 
> saja untuk menimbulkan "ketegangan" antaragama. Saya sangat sedih melihat 
> kenyataan bahwa masih banyak manusia Indonesia yang bermental rendahan dan 
> terus melakukan upaya adu-domba. Ayo kita bersama-sama bangun sebuah 
> Indonesia Baru yang bermartabat! Salam sejahtera untuk semua. Yudhistira ANM 
> Massardi Pemimpin Redaksi Majalah
>  alumni ESQ, NEBULA  Mowo Purwito Rahardjo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:  Sms 
> semacam itu wajar dan normal, krn ini menyangkut fairplay di bid misi. Sangat 
> beda dakwah islam dgn kristenisasi. Perintah mengkristenkan org lain itu 
> adalah amanat skriptural (amanat kitab suci), maka tdk heran kalo misi 
> kristen menghalalkan segala cara utk MEMURTADKAN (proselytizing) org lain, 
> krn ayat utk berbuat licik juga dijadikan pedoman (matius 10:16, HARUS CERDIK 
> SEPERTI ULAR). Kalo dulu kristenisasi menumpang pd kolonialisme, skrg segala 
> lini bisa ditempuh. Jadi apa yg di-sms-kan ari ginanjar merupakan protest 
> reaction atas misi licik mrk. Lain halnya dgn islam, tdk utk MENG-AGAMA-KAN 
> umat lain. Tugas misionaris islam hanya berdakwah dan mensyiarkan kebenaran 
> islam. Islam tdk ngotot memaksa org dgn berbagai bujuk rayu utk pindah agama, 
> Al-Quran
>  jelas menyatakan LAA IKRAAHA FII DIIN (tdk ada paksan dlm beragama) radityo 
> djadjoeri wrote: > 13 December, 2007 Program TV yang bikin Ary Ginanjar panik 
> > ary ginanjar, esq training > Ary Ginanjar sebar SMS terkait acara TV 
> bertajuk "My Hope Indonesia". Apa perlu bereaksi seperti itu? Kenapa harus 
> ketakutan? Apa yang harus ditakuti? Kristenisasi? Toh, tayangan televisi yang 
> menyebarkan dakwah Islam selama ini porsinya lebih banyak. Malah dari pagi 
> buta hingga malam penuh doa, baju koko dan jilbab...... > Ini salah satu 
> bukti bahwa program ESQ bukan menyejukkan, tapi malah mencetak umat yang 
> berpikiran picik dan penuh curiga... > Berikut masukan dari milis PKS: > 
> From: Cahyo Budi > E-mail: [EMAIL PROTECTED] com > Berikut adalah SMS dari 
> Ary Ginanjar (ESQ): > Mohon bisa waspada dan diteruskan kepada yang lain. > 
> Assalamu'alaikum Wr.Wb > Waspadai misi gereja (kristenisasi) di televisi pada 
> tgl
>  15 Des 07 jam 16.30-17.30 serentak di RCTI, TransTV, TVRI dengan judul "MY 
> HOPE INDONESIA" yang diganti menjadi SEBUAH PENANTIAN". Di India pernah 
> diputar dengan judul yang sama dan berhasil menghipnotis jutaan penduduknya. 
> > Sebarkan ke teman-teman muslim. Jangan sampai kita terlena dengan acara 
> itu. > Wassalamu'alaikum Wr.Wb > CahyoBudiSantoso > ------------ --------- 
> --------- --- > Never miss a thing. Make Yahoo your homepage. > [Non-text 
> portions of this message have been removed] >  
> __________________________________________________________ Sent from Yahoo! 
> Mail - a smarter inbox http://uk.mail.yahoo.com blog: 
> http://artculture-indonesia.blogspot.com       
>       Looking for last minute shopping deals?  
> Find them fast with Yahoo! Search.



      __________________________________________________________
Sent from Yahoo! Mail - a smarter inbox http://uk.mail.yahoo.com

Kirim email ke