Nasr Hamid Abu Zayd: Hidup Seperti Zaman Nabi Adalah Utopis FRONT ulama Al-Azhar, Mesir, mencap pemikir Islam terkemuka ini murtad. Pemerintah diminta turun tangan: Abu Zayd disuruh bertobat atau--kalau tak mau--ia harus dihukum mati. Pengadilan kasasi juga memerintahkan agar istrinya, Dr. Ebtehal Yunis, bercerai dan membatalkan perkawinannya. Universitas Kairo, tempat dia mengajar sejak 1972, pernah pula didesak agar memecat profesor ahli sastra Arab dan hermeneutika ini lantaran dikhawatirkan meracuni mahasiswa dengan pemikirannya yang sesat. Begitulah nasib buruk yang dialami Abu Zayd di negerinya sendiri--sampai kemudian ia hijrah ke Belanda pada 1995. The Franklin and Eleanor Roosevelt Institute, Juni 2002, menganugerahkan The Freedom of Worship Medal kepada Abu Zayd. Ia dipuji karena pemikirannya yang dinilai berani dan bebas, serta sikapnya yang apresiatif terhadap tradisi falsafah Kristen, modernisme, dan humanisme Eropa. Kedatangannya di Indonesia tiga pekan lalu disambut dengan cara berbeda. Untuk menjadi pembicara dalam seminar hasil kerja sama Departemen Agama dan Universitas Leiden, Belanda, ia ditunggu-tunggu di Yogyakarta, tapi dicekal di Universitas Islam Malang, Jawa Timur. Pemikirannya pun banyak dikecam, meski lebih dari 10 bukunya diterjemahkan di sini dan laris pula. Yang membuat Abu Zayd gusar: pembatalan disampaikan melalui pesan pendek Direktur Pendidikan Tinggi Islam, Abdurrahman Mas'ud, begitu ia tiba di Indonesia. Ini sungguh tidak sopan. Saya akan memperkarakannya di Belanda, karena mereka telah membuang waktu saya, katanya. Ia kini menetap di Belanda bersama istrinya dan menjadi dosen di Utrecht dan Leiden. Abu Zayd terkenal dengan metode hermeneutik, yaitu penafsiran Quran dengan pendekatan linguistik. Metode ini biasa digunakan untuk menginterpretasi Injil dengan menganalisis kondisi pengarangnya. Ini yang menimbulkan penentangan, karena Nasr dinilai memposisikan Muhammad sebagai pengarang, padahal sebagian besar umat Islam menganggap Quran adalah wahyu Tuhan. Menjelang kepulangannya ke Belanda pada akhir bulan lalu itu, pria kelahiran Tantra berumur 64 tahun ini menerima Yudono Yanuar dan Muhammad Nafi dari Tempo untuk wawancara di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, selama 40 menit. Berikut petikannya:
Sejumlah pemuka Islam di Indonesia menuduh Anda sebagai agen orientalis dan liberal . Tuduhan sebagai agen orientalis ini sangat bodoh dan merupakan fitnah. Tapi saya kira setiap orang akan bangga bisa menjadi liberal. Saya akan selalu memperjuangkan kebebasan berpikir, kebebasan berpendapat, dan semua kebebasan yang lain. Pemikiran Anda banyak dibicarakan di sini. Ya, sepertinya begitu. Lebih dari 10 buku saya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, mulai dari Mafhum al-Nash Dirasa fî 'Ulum al-Quran (Konsep Nash: Studi Ilmu Quran) sampai Falsafat at-Takwil: Dirasah fi Tawil al Quran inda Muhyiddin ibn Arabi (Filsafat Hermeneutika: Studi Takwil Quran Menurut Muhyidin Ibn Arabi). Tapi konsep hermeneutik yang Anda kembangkan banyak ditentang di sini. Apakah hadis Nabi bertentangan dengan hermeneutik? Hermeneutik dalam bahasa Arab adalah takwil. Takwil adalah metode yang sangat-sangat Islami untuk memahami Al-Quran. Tidak peduli Anda Sunni, Syiah, atau apa, Anda perlu menginterpretasi Al-Quran. Hermeneutik adalah teori untuk menginterpretasi Al-Quran. Jadi, siapa pun yang mengharamkan hermeneutik, ia keliru, ia tidak memahami hermeneutik. Ia tidak mengetahui sejarah penerjemahan Al-Quran. Bukankah hermeneutik itu hanya relevan sebagai alat bantu untuk menerjemahkan Injil? Katakan pada orang itu bahwa takwil digunakan untuk menerjemahkan Al-Quran, dan hermeneutik adalah takwil. Mereka tidak bisa membedakan antara takwil dan Injil. Saya belajar takwil, tidak ada hubungannya dengan orientalisme. Takwil tidak meminjam apa pun dari Injil. Ada kesamaan antara takwil dan hermeneutik. Takwil konsep klasik, hermeneutik adalah konsep filosofi modern. Tidak ada salahnya bagi intelektual muslim untuk belajar dari filosofi modern. Masih banyak orang yang menutup mata dan pikirannya, dan hidup seperti di abad kedelapan. Saya heran, ada yang menyalahkan hermeneutik. Kalau begitu, silakan (mereka) masuk sekolah lagi. Datang saja ke kelas saya, biar saya ajar. Mungkin karena Al-Quran adalah wahyu dari Allah, jadi tidak perlu interpretasi berupa takwil yang kelewat berani ini . Apakah kita akan minta Tuhan menginterpretasikannya untuk kita. Al-Quran adalah wahyu Allah untuk manusia, dan Tuhan berharap kita mengerti. Bagaimana kita mengerti? Itu tergantung pada pengetahuan manusia. Tidak mungkin saya minta Tuhan datang pada saya atau malakat Jibril mengajari saya. Memang Al-Quran dari Tuhan untuk manusia, dan manusia harus mengerti Al-Quran. Manusia hanya bisa mengerti Al-Quran berdasarkan pengetahuannya, tapi mereka harus mencoba meningkatkan pengetahuannya. Anda tidak akan tahu maksud Tuhan jika Anda tidak berilmu. Anda harus berilmu untuk bisa menjawab tantangan-Nya. Anda harus melakukan yang terbaik. Kelompok Ahlussunnah menafsirkan Al-Quran dikaitkan dengan zaman Rasul, sehingga mereka tidak akan mendukung pembaruan penafsiran. Konsep Ahlussunnah adalah konsep ideologi yang harus diubah. Tidak ada seseorang atau satu kelompok yang mengklaim sunah sebagai milik pribadi. Ini sangat penting. Kelompok yang mengklaim sebagai ahlussunnah yang eksklusif biasanya paling konservatif dan radikal. Mereka ingin membentuk kehidupan masyarakat seperti di zaman Nabi, ini utopis dan tidak pernah bisa terjadi. Itu hanya khayalan orang sakit. Mereka membatasi penafsiran keagamaan untuk memperkuat hegemoni kekuasaan dan melindungi kepentingan politik, ekonomi, dan sosial. Kenapa interpretasi terhadap Al-Quran itu begitu penting? Bagaimana Anda bisa hidup tanpa pengertian. Pengertian adalah kata kunci. Tentu saja Tuhan mempunyai standar sendiri, dan kita tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi Tuhan ingin kita mengerti apa yang Dia katakan, dan Dia mengerti kapasitas kita. Itu sebabnya Dia bicara kepada kita. Jika orang tidak mengerti apa yang Dia maksud, orang bisa menginterpretasikannya berdasarkan kapasitas sebagai manusia, tidak ada kaitannya dengan konservatif atau fundamentalis. Anda penganut paham rasionalis modern, tapi kadang kala mengadopsi post-modernism. Saya tidak melihat yang kontradiktif. Post-modern adalah kritik terhadap konsep yang dikembangkan para filsuf Pencerahan, sebuah konsep yang dekat dan terbatas dalam skop ini. Post-modern tidak antirasionalisme, tapi lebih terbuka pada berbagai hal, termasuk imajinasi, spiritual, dan pengalaman religius. Jadi, tidak ada yang kontradiktif antara rasionalistis dan post-modern. Saya menentang rasionalisme sebagai ideologi sebagaimana post-modernism sebagai ideologi. Anda masih ingin kembali ke Mesir? Tentu. Saya bukan pelarian, saya hanya marah, tapi saya tetap menyimpan Mesir dalam pikiran saya. Saya masih memegang paspor Mesir. Saya tidak ada masalah dengan pemerintah, masyarakat Mesir secara umum menentang keputusan itu. Saya masih mendapat dukungan di Mesir, seperti di Indonesia ini. Bagaimana dengan istri Anda? Ia menolak mengikuti perintah agar bercerai dengan saya. Ia mengatakan lebih tahu tentang saya. Kami tetap hidup bersama di Belanda. Sekarang ia mengajar di sana. Pemerintah tidak menentang kami. Ini hanya karena pengadilan dan politik yang kotor. ***-/** (Majalah TEMPO, 10 Desember 2007) [Non-text portions of this message have been removed]

