Pengakuan seorang teman:

dialog saya dengan berbagai kalangan 
setidaknya membuka wawasan baru buat saya. saya baca di sana sini 
tentang bagaimana hadist-hadist dikumpulkan. termasuk bagaimana 
quran dibukukan. 

banyak informasi yang berbeda dengan yang saya terima secara klasik 
di madrasah atau pengajian-pengajian. lebih make sense, makanya saya 
terima. 

lalu, salah satu puncaknya, beberapa waktu lalu saya membaca buku 
kisah-kisah para nabi yang ditulis oleh ibnu katsir. bab-bab tentang 
penciptaan adam, atau penciptaan manusia membuat kening saya 
berkerut. benar-benar bertolak belakang dengan apa yang saya pahami 
dari sains.

ibnu katsir memang banyak mengutip sumber-sumber israiliyat. tapi 
itulah. pemahaman kita tentang quran memang tidak mungkin dipisahkan 
dari sumber-sumber israiliyat. tanpa frame israiliyat, quran itu 
nyaris ndak akan mungkin dipahami (oleh masyarakat arab ketika quran 
diturunkan).

akhirnya saya sampai pada kesimpulan bahwa agama memang benar-benar 
dogma. ada konflik besar ketika saya mencoba memparalelkan agama 
dengan logika saya. pilihannya, saya harus hidup di dua alam: dogma 
dan logika. dan itu nyaris ndak mungkin buat saya.


mediacare
http://www.mediacare.biz


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke