Essay - DESEMBER, BULAN "PEMBAKARAN" UANG RAKYAT Oleh Satrio Arismunandar
Bulan Desember tidak selalu berkonotasi dengan religiositas (peringatan Natal) atau persiapan menyambut kemeriahan malam Tahun Baru. Namun, tanpa banyak gembar-gembor (karena sudah berlangsung rutin setiap tahun dan dianggap biasa), Desember faktanya adalah bulan "pembakaran" uang rakyat. "Pembakaran?" Yang saya maksud tentu bukanlah membakar uang kertas dengan korek api. Tetapi, menyia-nyiakan uang rakyat, sisa anggaran pemerintah daerah dan pemerintah pusat, dari berbagai departemen dan instansi, untuk kegiatan dan aktivitas yang diada-adakan, tidak produktif, pemborosan, dan tidak penting. Ini adalah praktik yang rutin dilakukan setiap menjelang tutup buku, pada akhir tahun. Seorang teman yang sering mengurus audit perusahaan bercerita, bahkan ada kepala seksi sebuah instansi yang disuruh atasannya untuk main golf di Sumatra, sekadar untuk menghabiskan sisa anggaran! Dan saya yakin, bukan satu instansi saja yang melakukan ini. Bayangkan! Milyaran rupiah uang rakyat dihambur-hamburkan untuk hal-hal yang mubazir. Praktik "pembakaran" uang rakyat yang "lebih lazim" adalah mengadakan berbagai konferensi, rapat, seminar, dengan topik-topik yang tidak penting dan tidak bermanfaat. Tujuannya sama: menghabiskan anggaran. Ironinya, banyak departemen dan lembaga selalu mengatakan "kekurangan anggaran." Juga, tak ada anggaran yang dialokasikan secara memadai untuk menyantuni orang miskin, anak yatim piatu, pendidikan, dan kesehatan rakyat. Namun, di ujung tahun, sisa anggaran yang ada tidak diberikan kepada rakyat yang betul-betul membutuhkan, tetapi malah "dibakar." Sungguh suatu kedzoliman yang amat besar terhadap rakyat. Kedzoliman ini menjadi luar biasa, justru karena dianggap hal yang biasa. Pertanyaannya, bisakah milyaran rupiah sisa anggaran --yang tak habis terpakai itu-- diserahkan atau dibagikan ke rakyat miskin yang kelaparan, anak-anak yang putus sekolah karena tak punya biaya, rakyat yang sakit bertahun-tahun karena tak punya akses kesehatan, dan sebagainya? Jawabnya: birokrasi pengelolaan keuangan --seperti diatur oleh Departemen Keuangan RI kita -- tidak membolehkan penyerahan uang ke rakyat miskin yang membutuhkan, seperti itu. Tetapi, lembaga yang sama justru membolehkan, mengesahkan, atau tutup mata terhadap praktik pembakaran uang rakyat besar-besaran di semua instansi dan tingkatan! Tidak heran, jika negeri ini selalu dirundung kemalangan. Karena hati nurani kita dan para birokrat sudah membatu, tidak lagi peka terhadap penderitaan rakyat. Mengorbankan kepentingan rakyat kecil adalah ritual rutin, yang kita lakukan secara institusional setiap tahun! Satrio Arismunandar Producer - News Division, Trans TV, Floor 3 Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790 Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 4026, Fax: 79184558, 79184627 http://satrioarismunandar6.blogspot.com http://satrioarismunandar.multiply.com "If you know how to die, you know how to live..." ____________________________________________________________________________________ Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search. http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping [Non-text portions of this message have been removed]

