http://www.antara.co.id/arc/2007/12/7/generasi-baru-abad-ke-21-generasi-platinum/

*Generasi Baru Abad ke-21, Generasi Platinum*

Oleh Yuri Alfrin Aladdin

Jakarta (ANTARA News) - Ketika masyarakat masih terpana dengan kehadiran
generasi Y (Milenium), mereka tidak menyadari akan munculnya sebuah calon
generasi baru yang lahir pada abad ke-21 yang lebih canggih dari generasi Y.
Merekalah Generasi Platinum, yang lahir sesudah tahun 2000.

Seperti apakah ciri-ciri, kesukaan, sikap, aspirasi mereka? Faktor-faktor
dan kejadian-kejadian apa saja yang membentuk kepercayaan dan tingkah laku
mereka?

Psikolog dari Universitas Paramadina, Alzena Masykouri, kepada ANTARA News
mengatakan bahwa generasi itu lahir di masa keterbukaan teknologi,
keterbukaan cara berpikir, keterbukaan berperilaku, serta ketersediaan
sarana pendidikan yang jauh lebih baik dibandingkan dengan generasi-generasi
sebelumnya.

"Penamaan sebagai Generasi Platinum oleh para pakar dunia sebetulnya cuma
istilah saja, untuk membedakan generasi ini dari sebelumnya. Platinum
sendiri mengacu pada sesuatu yang mewah dan elegan," kata dia.

Dikatakannya, pada awalnya, hidup generasi yang disebut Baby Boomers.
Generasi itu merupakan kelompok masyarakat yang hidup setelah Perang Dunia
II yaitu antara 1946 dan 1964. Generasi ini diberi nama Baby Boomers karena
pada rentang waktu generasi ini hidup, terjadi peningkatan jumlah kelahiran
di seluruh dunia.

Anak-anak yang terlahir di generasi ini merupakan golongan masyarakat yang
mulai mengenal televisi dengan beragam acara yang berbeda-beda, seperti
Perang Vietnam, pembunuhan John F Kennedy, Martin Luther King Jr, dan Robert
F. Kennedy. Golongan masyarakat ini mengenal musik, sebagian besar adalah
Rock n Roll, sebagai cara untuk mengekpresikan identitas generasi mereka.

Selanjutnya, lahir Generasi X yang lahir antara tahun 1965 hingga 1980.
Anak-anak yang lahir pada generasi ini tumbuh dengan video games dan MTV,
dan menghabiskan masa remajanya di tahun 80-an.

Anak-anak remaja generasi X memiliki ciri-ciri, kurang optimistis terhadap
masa depan, sinis, skeptis, tidak lagi menghormati nilai-nilai dan lembaga
tradisional, serta tidak memiliki rasa hormat kepada orang tua mereka.

Di awal 90-an, media menampilkan Generasi X secara fisik sebagai generasi
yang senang memakai kemeja flannel, suka menyendiri, banyak tindikan di
tubuh, dan lebih memilih bekerja di restoran.

Generasi Y, atau yang lebih dikenal sebagai Generasi Millennium, tumbuh
seiring dengan banyak kejadian yang mengubah dunia, di antaranya
berkembangnya komunikasi massa, serta internet.

Terminologi Generasi Y diberikan kepada anak-anak yang lahir dari tahun 1981
- 1995. Anak-anak remaja yang lahir pada generasi ini harus merasakan
tingginya biaya pendidikan dibandingkan generasi sebelumnya.

Generasi ini cenderung menuntut, tidak sabar, serta buruk dalam
berkomunikasi dengan sesama. Survei yang pernah dilakukan menunjukkan bahwa
generasi ini memiliki kemampuan mengeja dan bahasa yang buruk.

Generasi Y yang telah bekerja menunjukkan sikap yang cuek dan senantiasa
bertentangan dengan peraturan kantor. Namun, generasi ini boleh dipuji untuk
energi dan semangat bekerjanya yang luar biasa.

Apakah generasi berhenti sampai di sini? Bagaimana dengan anak-anak yang
lahir sesudahnya, yang lahir dengan segala ketersediaan sarana serta
kemajuan teknologi?

"Ya, inilah anak-anak Generasi Platinum. Generasi Platinum adalah
terminologi yang diberikan kepada anak-anak yang lahir pada tahun 2000 ke
atas atau awal abad ke-21," kata dia.

Menurut Masykouri, jika diamati anak-anak kelahiran tahun 2000 memiliki
karakter unik yang lebih ekspresif dan eksploratif selaras dengan arah
perkembangan zaman.

Bila diamati, kata dia, anak-anak Generasi Platinum memiliki kemampuan yang
tinggi dalam mengakses dan mengakomodir informasi sehingga mereka memiliki
kesempatan lebih banyak dan terbuka untuk mengembangkan dirinya. Kelak,
mereka pun dapat menggunakan potensinya untuk bertahan hidup. Bahkan juga
menjadi manusia yang berkualitas dan produktif.

Generasi sebelumnya memang sudah memiliki tingkat literasi teknologi yang
tinggi, namun mereka hanya sebatas sebagai pengguna saja. Generasi Platinum
adalah golongan yang memiliki orientasi sekaligus kemampuan berkarya
sehingga dapat berperan sebagai produsen, kreator, ataupun inisiator.

"Sesungguhnya ini tidak hanya untuk aspek teknologi saja, tetapi juga dalam
setiap aspek kehidupan," kata dia.

Namun, kata Masykouri, jika ditelaah anak yang lahir pada abad ke-21 adalah
hasil `produksi` orang tua (lahir di tahun 70-an), yaitu generasi yang sudah
memiliki keinginan untuk mengoptimalkan potensinya. Orang tua mereka adalah
umumnya orang-orang yang berpendidikan tinggi.

Alhasil, kemunculan generasi yang berbeda tak lepas dari pengaruh
orangtuanya yang memiliki pandangan terbuka, dan lebih mudah menerima
perubahan, terutama teknologi.

Sementara itu, Ketua Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Indonesia (UI) Dr.
Paulus Wirutomo mengatakan bahwa pemisahan generasi tidak bisa dipakemkan
karena meliputi banyak aspek seperti kondisi sosial, ekonomi, termasuk
informasi.

Namun, perkembangan generasi bisa saja terjadi jika terjadi fenomena sosial
yang mewabah artinya tidak dilihat dari lingkup yang kecil.

"Karakter manusia di setiap generasi tidak berbeda jauh karena manusia
dibekali dengan kemampuan adaptasti. Namun ada perkembangan generasi. Yang
membedakan individu di setiap generasi ialah `life skills` yang dimiliki,"
kata Paulus Wirutomo.

Hal senada dikemukakan sosiolog dari UI Drs Johannes Frederik Warouw MA. Dia
mengatakan bahwa wajar terjadinya generasi pada setiap zaman akibat nilai
baru dan nilai lama atau modifikasi kedua nilai itu.

Setiap generasi, kata dia, pasti memiliki karakteristik manusia yang berbeda
karena mereka selalu berhadapan dengan pandangan yang berbeda pula.

"Perkembangan itu wajar, tetapi keberadaannya perlu diawasi berkaitan dengan
nilai. Karena, bila tidak diawasi bisa jadi malah menghancurkan nilai-nilai
yang sudah ada," katanya menambahkan. (*)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke