pengalaman hidup pak trikoyo patut dibaca oleh para pemerhati sejarah 
indonesia, inilah kesaksian "anak digul" yg juga pernah mengalami siksaan 
sebagai tapol pulau buru.
   
  salam, heri latief
  amsterdam, 13/12/2007

  From: "Trikoyo" [EMAIL PROTECTED]
Subject: 25. CERDIG 121307- MBAH MANGUN GUGUR MEMBAWACITA-CITANYAR.doc
Date: Thu, 13 Dec 2007 00:57:54 +0700

      
            CERDIG 122307. (Cerita Digul)   
  MBAH MANGUN GUGUR MEMBAWA CITA-CITANYA.
  - Oom Pontjo Pangrawit  yang hebat.
   
  Oleh : Tri Ramidjo
   
  Aku tidak tahu siapa mbah Mangun. Aku hanya mendengar cerita ibuku. Nama 
lengkap mbah Mangun adalah Mangun Atmodjo. Konon  menurut cerita ibuku mbah 
Mangun ini adalah keturunan ningrat. Keturunan darah biru. Apakah benar 
darahnya biru aku tak tahu, sebab kata ayahku mbah Mangun ini juga suka 
menyanyikan lagu “Darah Rakyat” dan tentunya darah rakyat berwarna merah dan 
tidak biru.
   
  Aku pernah bertanya kepada ayahku, apa cirri-ciri khas keturunan ningrat itu 
dan ayahku menjelaskan, bahwa di tanah Jawa keturunan ningrat itu, di depan 
namanya selalu diberi embel- embel Raden Mas atau Raden ( RM atau R ) yang 
menurut cerita ayahku keturunan ningrat atau keturunan raja-raja Jawa adalah 
keturunan-keturunan orang-orang  yang kerjanya ongkang-ongkang, makan enak, 
rumah bagus, isteri lebih dari satu – yah, pokoknya keturunan penindas.
   
  Ketika kutanyakan mengapa raja-raja dan keturunannya  disebut penindas ayahku 
menjelaskan, bahwa yang namanya raja  tidak pernah mengerjaan sesuatu  dengan 
menggunakan tenaganya sendiri tapi semua apa saja yang diinginkannya  
dikerjakan oleh orang lain, oleh hamba-hambanya.  Sampai-sampai mau mengenakan 
pakaian pun hamba-hambanya yang memakaikan. Apa tidak keterlaluan menindasnya  
terhadap orang lain.
   
  Aku berfikr dan berfikir. Pantas ayahku tak suka disebut  Den Dar atau Raden 
Dardiri. Raden itu turunan penindas, to. Dan ayahku tidak suka menjadi turunan 
penindas. Penindas, ya penindas itu adalah hal yang sangat buruk. Kerja bersama 
menikmati hasil  kerja secara bersama-sama itu lebih baik. Dan ajaran ayahku 
itu terpatri teguh dalam hatiku yang paling dalam.
   
  Mbah Mangun Atmodjo kata ibuku keturunan ningrat berasal dari Solo. Ya, di 
Solo menurut cerita ibuku ada keraton. Dan yang namanya keraton itu adalah 
bangunan megah tentu saja terbuat dari batu atau beton. Di keraton itulah  
bersemayam atau tinggal ratu atau raja. Raja adalah penguasa  absolut yang 
memerintah kerajaannya. Itu di zaman kerajaan. Sekarang ini bukan lagi zaman 
kerajaan, zamannya sudah berubah.  Begitulah cerita ibuku.
   
  Aku senang mendengar cerita ibuku. Menurut ibuku di zaman purba 
dahulu………dahulu sekali menurut ibuku,  manusia yang lahir di bumi  ini hidupnya 
sangat rukun.  Tidak ada yang lebih kaya atau lebih miskin.  Mereka berburu 
bersama,  mencari buah-buahan bersama, tinggal bersama-sama, pokoknya mereka 
sangat rukun  membagi semua hasil kerja mereka secara adil. Mereka tidak 
mengenal yang namanya uang.
   
  Ibuku tidak menceritakan mendetail tentang masyarakat waktu itu  dan hanya 
menceritakan sepotong-sepotong  perkembangan masyarakat kuno, perbudakan, zaman 
kerajaan atau zaman feodal, zaman kapitalisme kejam harus dibinasa dan 
seterusnya. 
   
  Lalu ibuku menyanyi : 
   
  Kapitalisme kejam,
  Harus dibinasa,
  Kaum yang bekerja.
  Seluruh dunia,
  Bersatulah, bersatulah.
  Merebut kemenangan, 
  Kaum pekerja, Kaum pekerja.
  Hidup harus gemilang.
   
  Nah begitulah cerita ibuku yang telah meninggal pada usia 89 tahun pada  hari 
Rabu 24 Mei 1989. Ibuku orang desa yang sejak kecil hidup di pesantren. Pernah 
mengikuti ayahnya yaitu kakekku ke daerah Lombok Nusa Tenggara Timur untuk 
melakukan siar agama Islam.
   
  O ya, maaf, aku akan menuliskan cerita mbah Mangun Atmodjo yang keturunan 
ningrat itu, kan. Baiklah.
   
  Mbah  Mangun yang keturunan ningrat atau darah biru itu ayahnya adalah 
pengikut setia Pangeran Diponegoro.   Jiwa melawan kolonialis Belanda berakar 
tumbuh di dalam hatinya  seperti juga  oom Pontjo Pangrawit  ahli gending yang 
juga berasal dari Solo  yang menurut cerita temanku salah sebuah gamelan yang 
dibuat oom Pontjo Pangrawit ini, kini tersimpan di Australia sebagai benda 
peninggalan sejarah. 
   
  Ada cerita ayahku yang menarik tentang oom Pontjo Pangrawit ini.  Daripada 
nanti aku lupa baiklah aku sisipkan sepenggal ceritanya di sini, ya.  Oom 
Pontjo Pangrawit adalah tetangga dekat rumah kami di kampung B. Rumahnya 
berdekatan dengan rumah mbah Kiyahi Haji Muchlas ayahnya mas M.H. Lukman (wk. 
Ketua CCPKI) yang di zaman peristiwa G30S hilang tak tentu rimbanya dan mati 
tak tahu di mana makamnya, tentu saja dibunuh secara sadis oleh algojo-algojo 
orba Suharto. 
   
  Dibelakang rumah oom Pontjo Pangrawit ini ada sebatang pohon kluwih yang 
sangat besar,   rimbun dan di bawah pohon  itu ada sebuah sumur yang airnya 
sangat jernih. Di sumur itulah ayahku dan abangku Darsono sering mengangsu air 
dengan memikulnya memakai dua kaleng minyak tanah. Ya, memikul air dari sumur 
oom Pontjo ke rumahku itu  lumayan jauh dan aku belum mampu mengerjakan 
pekerjaan itu. 
   
  Biasanya yang kami pakai adalah air hujan yang kami tampung dengan drum atau 
tong yang dibuat oleh abangku Darsono dengan memakai seng. Abangku Darsono 
sangat pintar membuat alat-alat dari seng tanpa dipatri misalnya ember, oven 
untuk membuat kuwe dll. Air hujan itu lah yang kami gunakan untuk minum dan 
masak. Air hujan sangat jernih tapi katanya merusak gigi karena tidak 
mengandung kalsium. Enthlah aku tidak tahu. Masa bodoh mau gigi rusak kek 
enggak rusak kek, toh gigi yang rusak itu  lama-lama dibawa mati juga. Hehehehe.
   
  Di rumah oom Pontjo Pangrawit ini penuh dengan alat musik gamelan ada 
gambang, bonang, saron dan entah apalagi namanya aku tak tahu. Semuanya adalah 
buatan Oom Pontjo. Beliau pintar sekali menabuh gamelan dan bahkan dengan 
kaleng-kaleng susu yang dibuatnya gamelan itu bisa melagukan lagu Darah Rakyat, 
Internasionale,  lagu 1 Mei, Mariana Proletar,  de Rode Vandel dll. Aku sudah 
lupa lagu de Rode Vandel tapi yang lain aku masih ingat nootnya.
   
  Oom Pontjo itu menurut ayahku adalah ahli gending di kraton. Tahu, apa 
kesenangannya? Kegemarannya adalah nyeret. Ketika kutanyakan kepada ayahku apa 
nyeret itu, maka jawab ayahku : nyeret itu kebiasaan jelek sekali dan tak perlu 
ditiru yaitu menghisap candu.       
   
  Pada tanggal 12 November 1926  meletus pemberontakan rakyat  melawan   
Belanda. Pemberontakan  ini bukan hanya di Jawa tapi juga meluas ke Sumatra dan 
tempat-tempat lainnya. Semua anggota dan pimpinan gerakan yang menentang 
Belanda ditangkapi dan bahkan pesantren-pesantren pun di obrak-abrik, 
pimpinannya ditangkapi  dan  diasingkan ke Tanah Merah Boven Digul. Demikian 
pulalah oom Pontjo Pangrawit ini yang menjadi anggota PKI,  tak luput dari 
penangkapan.
   
  Di dalam tahanan oom Pontjo Pangrawit ini merasakan badannya sangat lemah dan 
tak berdaya. Kenapa? Karena ketagihan nyeret atau menghisap candu. Dia minta 
kiriman candu dan isterinya mengiriminya secara sembvunyi-sembunyi. Begitu 
menghisap candu, oom Pontjo menjadi trengginas gesit dan bisa berbicara 
berapi-api.  Tentu saja teman-teman mengkritiknya habis-habisan. Kata temannya 
: “bung Pontjo,  sampean ini betul anggota PKI atau anggota gadungan. Masak 
anggota PKI  kalah sama umpling candu.”
   
  Tentu saja oom Pontjo tidak mau menerima kritikan seperti itu, sebab dia 
merasa berjuang anti Belanda sungguh-sungguh dan masuk menjadi anggota PKI  
juga benar-benar secara sadar dan bukan ikut-ikutan.
   
  Keesokan harinya dia tidak mau menghisap  candu. Umpling candu yang 
terbungkus timah itu diletakkan di lepekan  (piring kecil)  dan dia deleming 
(berbicara kepada diri sendiri). “E, umpling candu. Sakbenere kowe sing 
merintah aku opo aku sing merintah kowe. Aku iki Pontjo Pangrawit anggota PKI 
aku emoh mbok perintah. Mulai dino iki aku sing merintah kowe. Kowe kudu tunduk 
karo aku. Ngerti?”
   
  Nah begitulah  pada hari itu oom Pontjo tergolek tidur tak berdaya, tapi dia 
tetap bertahan tak mau menyentuh  umpling candu itu.  Selama seminggu dia 
tergeletak tak mau makan hanya minum. 
   
  Di hari ke tujuh dia buang air dan kotorannya berwarna kehitam-hitaman. Isi 
perutnya terkuras habis. Oleh teman-teman setahanan dia di beri minuman teh  
manis hangat. Keringat kekuar dari tubuhnya dan kemudian  oom Pontjo mau 
menyuap nasi.  Katanya baru kali itu oom Pontjo merasakan nikmatnya makan nasi.
   
  Sesudah makan oom Pontjo merasa segar dan mulailah dia menyanyi :
   
  Bangunlah kaum yang terhina, 
  bangunlah kaum yang lapar, 
  Kehendak yang mulia dalam dunia senantiasa tambah besar, 
  lenyapkan adat dan faham  tua, kita rakyat sedar sedar…………..dst. “.
   
  Oom Pontjo menyanyikan  lagu itu sampai selesai dan kemudian menyanyikan lagi 
Darah Rakyat masih berjalan menderita sakit dan miskin.  
   
  Teman-teman seselnya mendiamkannya saja. Dan akhirnya dia beteriak :
   
  “aku menang, aku menang.” 
  Dan diambillnya umpling candu di lepekan itu dan  dibuangnya ke WC, lalu 
kembali duduk bersama riungan teman-temannya.
   
  Teman-temannya menyalami  dan berpelukan dengan oom Pontjo.  Sukses bung, 
sukses, Kalau mau terus berjuang kita pasti menang. 
  Nah itulah sekelumit cerita ayahku tentang oom Pontjo Pangrawit.
   
  Sekarang aku harus teruskan cerita ibuku tentang Mbah Mangun  yang  gugur 
membawa cita-citanya.
   
  Ketika itu  tanggal 8 April 1928.  Baru satu tahun  Tanah Merah Boven Digul 
dihuni oleh orang-orang pergerakan yang dibuang oleh kolonialis Belanda.
   
  Udara cerah waktu itu dan sungai Digul yang bening airnya itu  mengalir deras 
seperti biasanya.  Ada anak-anak yang berperahu dan ada juga yang sedang mandi 
di tepian sungai Digul yang berkerikil dan berpasir hitam itu.
   
  Matahari bersinar terang dan agak panas. Orang –orang yang mandi  sudah 
selesai dan kembali ke rumahnya masing-masing.  Mbah Mangun yang baru saja 
selesai makan siang turun ke sungai membawa piring-piring, panci  dan alat2 
masak bekas beramai-ramai menikmati daging buaya. Ya, dua hari sebelumnya ada 
yang mancing dan mendapat seekor buaya yang lumayan besarnya.
   
  Sebenarnya ransum (makanan) yang diberikan oleh Belanda cukup baik, ada 
rondvlees, ikan sardin, daging kornet, bruinebonen  dll.  tapi ikan segar dan 
daging segar memang tidak ada.
   
  Bagi  mereka yang suka daging, daging buaya pun merupakan daging segar yang 
mungkin nikmat. Aku sendiri belum pernah mencoba dan tidak ingin mencoba 
memakannya.
   
  Begitulah mbah Mangun dan beberapa orang temannya  menyembelih buaya hasil 
pancingan itu dan  memasaknya dengan bumbu-bumbu yang lengkap. Lezat, lezat 
sekali kata mbah Mangun.
   
  Begitulah, mbah Mangun sambil mandi di sungai Digul  mencuci piring-piring 
dan alat dapur lainnya.
   
  Ketika itu dua orang anak yang sedang bermain  perahu  mendayung ke arah hulu 
sungai Digul  melewati  tepian tempat  mbah Mangun mandi sambil berkata keras.  
“Mbah, hati-hati   di sebelah hilir ada seekor buaya kuning sedang berenang ke 
hulu. “ kata kedua anak itu yang tak lain adalah  Parno dan abangku Darsono.
   
  “Biar, biar saja,  wong buaya dagingnya juga enak”,  jawab mbah Mangun.
   
  Sebentar kemudian abangku Darsono yang mengemudikan perahu menoleh ke 
belakang.
   
  Aklangkah terkejutnya,  buaya yang ada di hilir mengangkat  kepalanya dan 
mbah Mangun melintang di mulut buaya itu.  Parno dan abangku Darsono sambil 
berteriak-teriak meminggirkan perahunya dan naik ke darat.
   
  “Mbah Mangun diterkam buaya, mbah Mangun diterkam buaya.” 
   
  Penduduk Tanah Merah Digul berlarian ke tepi sungai Digul. Ada yang, membawa 
parang, panah, dll.  Sepasukan militer KNIL  segera datang. Di tepian sungai 
Digul menjadi ramai sekali. Bunyi dor, dor dor berulang-ulang terdengar 
menembaki buaya kuning yang ganas itu. Buaya itu sebentar-sebentar mengangkat 
kepalanya ke permukaan air tapi kemudian menyelam kembali. Hanya tembakan  
bedil rupanya tak mampu membunuh buaya ganas itu.
   
  “Bung Suro, pinjam belatinya”, kata oom Darsono kepada ayahku.  Ayahku 
memberikan  pisau belatinya kepada oom Darsono.  Ayahku  memang tak pernah 
melepaskan pisau belati itu dari pinggangnya. Sudah menjadi kebiasaannya sejak 
muda  tak pernah katinggalan pisau belati walaupun ayahku sangat sabar dan tak 
pernah bertengkar atau berkelahi.  Pisau belati ayahku dilengkapi dengan tali 
kulit untuk diikatkan ke pergelangan tangan sehingga tak mudah terlepas dari 
tangan. 
   
  Oom Darsono (namanya sama dengan nama abangku ) perawakannya lebih kecil 
daripada ayahku. Tapi gerakannya gesit, pandai berenang dan pintar olah raga 
beladiri silat SH. Oom Darsono ini berasal dari semarang.
   
  Dengan cekatan  hanya mengenakan celana pendek, oom Darsono berenang ke arah 
buaya di tengah sungai  Digul dan langsung buaya itu ditungganginya. Rupanya 
oom Darsono ini punya ilmu Djoko Tingkir barangkali.
   
  Berkali-kali dihunjamkannya pisau belati yang sangat tajam itu, 
diodet-odetnya perut buaya dan akhirnya buaya itu mati lemas ditarik berenang 
kepinggir.  Sungguh luar biasa. Jenazah mbah Mangun masih berada di mulut  
buaya itu.  Beramai-ramai dengan pikulan dan entah apa lagi mulut buaya itu 
dingangakan dan berhasillah mbah Mangun dikeluarkan dari mulut buaya kuning 
yang ganas itu.
   
  Nah itulah cerita menyedihkan ibuku, cerita mbah Mangun Atmodjo yang  gugur 
dalam perjuangan untuk mencapai kemerdekaan dan  membawa pergi cita-citanya.  
Semoga saja anak cucunya meneruskan  cita-cita mbah Mangun yang walaupun 
kemerdekaan Indionesia sudah tercapai, kita belum terlepas dari kolonialisme 
model baru  atau nekolim. Bukan hanya anak cucu mbah Mangun tetapi siapa saja 
yang mencintai  tanah air dan rakyat, marilah cita-cita perjuangan untuk 
mencapai masyarakat yang adil dan makmur kita  lanjutkan.
   
  Mbah Mangun Atmodjo gugur pada  tanggal 8 April 1928 dan  dimakamkan di 
pemakaman ujung Kampung “B”.  Pemakaman kampung “B” inilah satu-satunya  tempat 
pemakaman pejuang-pejuang PKI = PERINTIS KEMERDEKAAN INDONESIA yang dibuang ke 
Tanah Merah Digul.  Di situ juga terdapat makam oom Ali Archam, oom Marco, oom 
Entolenoh dll. 
   
  Patah tumbuh, hilang berganti, 
  Mati satu, lahir seribu.
  Kalau kakek pandir di Tiongkok bisa memindahkan gunung.
  Maka putra putri Indonesia  pasti mampu menghancurkan angkara murka, 
  Sisa-sisa orde baru    Suharto dan kroni-kroninya.
   
    Tangerang  Kamis Wage 13 Desember 2007.  jam 01.21 WIB tengah malam.
   

  Note  : maaf, aku gak sempat koreksi. Silahkan yang membaca mengoreksi 
sendiri .                




      
[EMAIL PROTECTED]
milisgrup opini alternatif

  
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/
penerbit buku sejarah alternatif

  
http://progind.net/
kolektif info coup d'etat 65: kebenaran untuk keadilan

  http://herilatief.wordpress.com/




       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke