Setuju mbak lina, Kalau ada istilah demam panggung, nah gus dur ini demam berita! Dan, kita tahu dunia jurnalistik kita banyak yang suka dengan sensasi. Makanya gus dur tidak hanya deman berita, tapi juga demam sensasi! Dalam dunia pers dikenal istilah: jika ada manusia digigit anjing itu bukan berita, tapi jika anjing yang digigit manusia itulah berita! Nah gus dur termasuk yang mana?
Salam RDM Lina Dahlan wrote: > Komentar ah! > --- In [EMAIL PROTECTED] s.com , Rulita Damayanti > <rulita_dm2000@ ...> wrote: >> > [delete] >> >> Membebaskan Diri dari Menghukumi Orang >> >> Jakarta, gusdur.net ( http://www.gusdur. net ) >> >> KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengatakan menjaga kemerdekaan dari > segala bentuk penjajahan adalah sangat penting. Bahkan dia > mengingatkan, bahwa orang mudah sekali menjadi penjajah orang lain > tanpa disadari. >> >> Demikian Gus Dur dalam Halal bi Halal Lintas Iman; Menuju > Indonesia Tanpa Kekerasan, di Aula Universitas Paramadina Mulya, > Jumat (9/11/07) malam. >> Penjajahan yang dimaksud Gus Dur bisa terjadi dalam ranah apa > saja. Misalnya keluarga. >> “Saya ini termasuk generasi yang sial. Waktu anak-anak dijajah > orang tua. Habis itu dijajah anak. Kapan saya bisa jadi penjajah?” > seloroh Gus Dur mengutip kata-kata pamannya, KH. Yusuf Hasyim. > Lina: > GD saja mengaku bhw dia adalah generasi sial. Wong dari generasi > sial kok didenger. Isinya kan sesalan dan kesialan melulu. Salah > satu kesialan yang dia tidak akui adalah menjadi Presiden RI cuma > sbentar...:- ). Makanya siapapun presidennya di negara ini (kecuali > dirinya sendiri), tentu akan trus digonjang-ganjing. Kesempatan tuk > jadi Presiden lagi. >> Dia mengaku merasa bahagia dapat hadir dalam acara itu karena bisa > berada di tengah-tengah orang-orang yang seperjeuangan. “Dengan > orang dan teman-teman yang menjaga kemerdekaan dari penjajahan dalam > segala bentuknya,” tutur Gus Dur disambut gemuruh tepuk tangan. >> Dalam kesempatan itu, Gus Dur menilai Presiden Susilo Bambang > Yudhoyono sedang tersesat karena Fatwa Majlis Ulama Indonesia (MUI) > dijadikan acuan dalam keputusan negara. “Dia menerima hasil > keputusan MUI yang menganggap bahwa ada (aliran) yang tersesat,” > tegasnya. >> Padahal MUI, menurut Gus Dur, juga tersesat karena tidak mau > mempelajari persoalan lebih dulu sebelum memutuskan pendapat. “Ini > ‘ kan kesesatan yang paling besar.” > Lina: Trus, GD sendiri mau belajar dari mana? para pembisik??? >> Perbedaan dalam berbagai hal termasuk aliran dan agama, kata > mantan Presiden RI ini, sebaiknya diterima karena itu bukan sesuatu > masalah. > Lina: Buat pribadi sih betul. Buat Negara, kalau hal2 spt ini > nyatanya membuat resah? >> Jika sudah bisa menerima perbedaan maka akan lebih terbuka dalam > berdialog, bahkan kata Gus Dur, lahir lelucon seperti yang > dilontarkan seorang kyai, bhiksu, dan pendeta. >> “Pendeta mengatakan; Kami dekat sekali dengan Tuhan. Jadi kami > memangil Tuhan Anak, Tuhan Bapak. Si bhiksu menimpali; Kami juga > dekat. Bukan manggil Bapak, tapi Om. Lha bagaimana dengan Anda, pak > kyai? Pak Kyai menjawab; Boro-boro deket, manggil-nya aja mesti pake > menara,” urai Gus Dur diiringi tawa seisi ruangan. >> Dalam hal perbedaan aliran, Gus Dur juga mengkritik penyesatan MUI > Tasikmalaya terhadap aliran Wahidiyah. >> Padahal Gus Dur pernah diajak ke tempat pendiri Wahidiyah KH Abdul > Majid tiga kali oleh kakeknya, KH Bisri Syansuri, salah satu ahli > fikih di Nahdlatul Ulama. >> “Kyai Bisri sendiri tidak pernah memberikan komentar apa-apa, > termasuk soal sesat tidaknya aliran tersebut,” ungkap Gus Dur. >> Karena itulah Gus Dur mengikuti sikap itu. “Sikap membebaskan > diri dari menghukumi orang.” > Lina: Nah kakeknya GD memang bijak kalau beliau tidak memberikan > komentar apa-apa. Tapi kalo GD apa dia juga tidak memberikan > komentar apa-apa? Bukankah dikenal komentar2 GD itu sangat > mengundang kontroversi? Dimana GD mengikuti sikap kakeknya? > Mengatakam MUI sesat apa bukan menghukumi? > Bisa dimaklumi kalo kakek GD demikian bijak, krn gak punya syahwat > jadi Presiden. >> Menurut Gus Dur, Tuhan lah yang menciptakan ke-bhineka-an, salah > satunya adalah dengan adanya Firman Allah Saw ‘lakum dinukum wa > liya din’ (bagimu agamamu dan bagiku agamaku). >> “Tiap orang berhak memiliki keyakinan sendiri,” pungkasnya. > Lina: Betul. Bagimu agamamu, bagiku agamaku. Makanya kalo mau buat > agama baru, ya pake nama baru aja. Jadi, aman. Selama memakai nama > Islam, Kristen, or etc..pastinya akan ditambah-tambahkan "sempalan". > Buat saya sih, GD ini cuma mau menarik perhatian dan sebuah > kesempatan. >> >> >> ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _ >> Sent from Yahoo! Mail - a smarter inbox http://uk.mail. yahoo.com >> > __________________________________________________________ Sent from Yahoo! Mail - a smarter inbox http://uk.mail.yahoo.com

