"Tanyalah sesuatu kepada ahlinya"! itu sebuah nasehat dari kitab 
suci ato sunah ?(cmiiw). Jadi, kalo presiden menanyakan soal agama 
ya tanyalah kepada suatu institusi kumpulan ulama agama tsb. Dimana 
salahnya? Andaikan fatwa MUI itu salah, biarlah itu menjadi tanggung 
jawab para ulama yang tergabung disitu.

Kebaradaan MUI di Indonesia ini, saya rasa masih diperlukan karena 
memang masih banyak orang bodoh dan awam soal agama tapi mereka 
masih peduli dengan agama (Islam)nya. 

Tinggal bagaimana sekarang pemerintah (plus aparat hukumnya) 
menyikap fatwa-fatwa tsb beserta akibatnya yang akan timbul menurut 
hukum yang berlaku dinegara ini.



--- In [email protected], Freedom Of Mind 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> bener banget,
> 
> MUI kudu di denger lah, wong MUI itu produk orde baru Yang 
Dipertuan Soeharto...,  apalagi sekarang masih banyak produk orde 
baru yang masih eksis dan didengerin omongannya sama rakyat 
indonesia. yah..salah satunya MUI. 
> 
> jadi si Gus dur nih ada2 aja..., ngapain sih pake toleransi 
sgala.., wong toleransi, demokrasi dan persamaan hak setiap manusia 
itu kan produk orang kafir, justru dengan Gus dur mempraktekkan 
toleransi, demokrasi dan persamaan hak setiap manusia sama aja 
memangkas rambu-rambu moral yang selama ini dijaga oleh MUI.
> 
> makanya rambu-rambu moralitas MUI harus tetap ditegakkan, supaya 
umat tetap didalam koridor rambu2 moralitas nya MUI. 
> 
>  yang berbeda dengan MUI justru harus di bablas habis..., 
ahmadiyah atau siapapun yang berbeda..
> 
> yang berbeda harus dibablas..., tegakkan rambu2 moralitas. 
> 
> stop toleransi, demokrasi dan persamaan hak setiap manusia karena 
cuman produk orang kafir dan merusak moralitas umat.
> 
> 
> salam kebablasan...
> 
> 
> ----- Original Message ----
> From: Rulita Damayanti <[EMAIL PROTECTED]>
> To: "[email protected]" <[email protected]>
> Sent: Thursday, December 13, 2007 1:19:48 PM
> Subject: [ppiindia] Kata Gus Dur: Presiden nurut sama MUI
> 
> Kalau para ulama secara kolektif bermusyawarah untuk memunculkan 
fatwa demi kepentingan umat terus ndak diikuti, lah khan percuma 
institusi ini didirikan! Terus mau diapain negeri ini, kalau rambu-
rambu moral dipangkas!
> 
> Berikut pernyataan gus dur dalam kemasan berita dari gusdur.net, 
semoga kita tidak ketularan virus &quot;kebablasan toleransi&quot; .
> 
> Salam 
> RDM
> 
> Membebaskan Diri dari Menghukumi Orang
>  
> Jakarta, gusdur.net (http://www.gusdur. net)
> 
> KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengatakan menjaga kemerdekaan dari 
segala bentuk penjajahan adalah sangat penting. Bahkan dia 
mengingatkan, bahwa orang mudah sekali menjadi penjajah orang lain 
tanpa disadari..
> 
> Demikian Gus Dur dalam Halal bi Halal Lintas Iman; Menuju 
Indonesia Tanpa Kekerasan, di Aula Universitas Paramadina Mulya, 
Jumat (9/11/07) malam.
> Penjajahan yang dimaksud Gus Dur bisa terjadi dalam ranah apa 
saja. Misalnya keluarga.
> "Saya ini termasuk generasi yang sial. Waktu anak-anak dijajah 
orang tua. Habis itu dijajah anak. Kapan saya bisa jadi penjajah?" 
seloroh Gus Dur mengutip kata-kata pamannya, KH. Yusuf Hasyim.
> Dia mengaku merasa bahagia dapat hadir dalam acara itu karena bisa 
berada di tengah-tengah orang-orang yang seperjeuangan. "Dengan 
orang dan teman-teman yang menjaga kemerdekaan dari penjajahan dalam 
segala bentuknya," tutur Gus Dur disambut gemuruh tepuk tangan.
> Dalam kesempatan itu, Gus Dur menilai Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono sedang tersesat karena Fatwa Majlis Ulama Indonesia (MUI) 
dijadikan acuan dalam keputusan negara. "Dia menerima hasil 
keputusan MUI yang menganggap bahwa ada (aliran) yang tersesat," 
tegasnya.
> Padahal MUI, menurut Gus Dur, juga tersesat karena tidak mau 
mempelajari persoalan lebih dulu sebelum memutuskan pendapat. "Ini ` 
kan kesesatan yang paling besar."
> Perbedaan dalam berbagai hal termasuk aliran dan agama, kata 
mantan Presiden RI ini, sebaiknya diterima karena itu bukan sesuatu 
masalah.
> Jika sudah bisa menerima perbedaan maka akan lebih terbuka dalam 
berdialog, bahkan kata Gus Dur, lahir lelucon seperti yang 
dilontarkan seorang kyai, bhiksu, dan pendeta.
> "Pendeta mengatakan; Kami dekat sekali dengan Tuhan. Jadi kami 
memangil Tuhan Anak, Tuhan Bapak. Si bhiksu menimpali; Kami juga 
dekat. Bukan manggil Bapak, tapi Om. Lha bagaimana dengan Anda, pak 
kyai? Pak Kyai menjawab; Boro-boro deket, manggil-nya aja mesti pake 
menara," urai Gus Dur diiringi tawa seisi ruangan.
> Dalam hal perbedaan aliran, Gus Dur juga mengkritik penyesatan MUI 
Tasikmalaya terhadap aliran Wahidiyah.
> Padahal Gus Dur pernah diajak ke tempat pendiri Wahidiyah KH Abdul 
Majid tiga kali oleh kakeknya, KH Bisri Syansuri, salah satu ahli 
fikih di Nahdlatul Ulama.
> "Kyai Bisri sendiri tidak pernah memberikan komentar apa-apa, 
termasuk soal sesat tidaknya aliran tersebut," ungkap Gus Dur.
> Karena itulah Gus Dur mengikuti sikap itu. "Sikap membebaskan diri 
dari menghukumi orang."
> Menurut Gus Dur, Tuhan lah yang menciptakan ke-bhineka-an, salah 
satunya adalah dengan adanya Firman Allah Saw `lakum dinukum wa liya 
din' (bagimu agamamu dan bagiku agamaku).
> "Tiap orang berhak memiliki keyakinan sendiri," pungkasnya.
> 
> ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
> Sent from Yahoo! Mail - a smarter inbox http://uk.mail. yahoo.com
> 
> 
> 
> 
> 
>       
_____________________________________________________________________
_______________
> Be a better friend, newshound, and 
> know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo..com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ 
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke