MUI emang harus didengerin donk..pasti itu... wong MUI adalah institusi ulama di indonesia, mau fatwa salah ato bener yang penting MUI harus didengerin.., seperti bu lina bilang dibawah ini andaikan fatwa salah, biarlah itu menjadi tanggung jawab para ulama yang tergabung disitu. yang terpenting umat harus mendengarkan MUI.
apalagi seperti bu lina bilang keberadaan MUI masih diperlukan karena masih banyak orang bodoh dan awam soal agama tapi mereka masih peduli dengan agamanya, mereka perlu MUI lah, toh andaikan fatwa salah mereka juga harus dengerin (apalagi kalo masih bodoh dan awam..yah mana ngerti juga kalo fatwa salah), tapi gak ada masalah kok biar kalo salah mejadi tangung jawab para ulama di MUI. untuk pemerintah, mudah2 pemerintah tetap menghormati dan mendengarkan MUI lah..., wong MUI semuanya ulama..., aparat pemerintah kan bukan ahli agama.., contohnya untuk kasus ahmadiyah.., yah pemerintah harus mendengarkan MUI, dengan menindak dengan tegas antek2 ahmadiyah.., tangkap ustad2 ahmadiyah beserta pengikutnya, robohkan tempat ibadahnya, kalo pun ahmadiyah pake barikade ibu2 sebagai barikade hidup untuk mengahalangi pemerintah dalam melaksanakan fatwa MUI untuk memasuki dan merobohkan rumah ibadah ahmadiyah, pemerintah harus menindak keras, terjang aja tuh ibu2.....demi fatwa MUI. demi tegaknya rambu2 moralitas umat yang telah dijaga oleh MUI selama ini. kalo di sini, gak jamin deh keselamatannya. itu bapak2, ibu2, anak2 kecil dan semua golongan kaum ahmadiyah mending daripada bikin onar disini, dan mending diusir dari indonesia. kan mereka juga gak bisa beribadah juga disini. mending tuh orang2 ahmadiyah, diusir ato deportasi ke negara2 kafir, mungkin mereka bisa diterima dengan baik dan bisa menjalankan ibadahnya disana. lebih baik mereka diusir aja. demi keselamatan dan kesejahteraan umat muslim di indonesia. untung ada MUI, penjaga moralitas muslim di indonesia. fatwa MUI bener2 menggugah banget deh. ----- Original Message ---- From: Lina Dahlan <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Thursday, December 13, 2007 5:42:03 PM Subject: [ppiindia] Re: Kata Gus Dur: Presiden nurut sama MUI "Tanyalah sesuatu kepada ahlinya"! itu sebuah nasehat dari kitab suci ato sunah ?(cmiiw). Jadi, kalo presiden menanyakan soal agama ya tanyalah kepada suatu institusi kumpulan ulama agama tsb. Dimana salahnya? Andaikan fatwa MUI itu salah, biarlah itu menjadi tanggung jawab para ulama yang tergabung disitu. Kebaradaan MUI di Indonesia ini, saya rasa masih diperlukan karena memang masih banyak orang bodoh dan awam soal agama tapi mereka masih peduli dengan agama (Islam)nya. Tinggal bagaimana sekarang pemerintah (plus aparat hukumnya) menyikap fatwa-fatwa tsb beserta akibatnya yang akan timbul menurut hukum yang berlaku dinegara ini. --- In [EMAIL PROTECTED] s.com, Freedom Of Mind <freedom.of_ [EMAIL PROTECTED]> wrote: > > bener banget, > > MUI kudu di denger lah, wong MUI itu produk orde baru Yang Dipertuan Soeharto..., apalagi sekarang masih banyak produk orde baru yang masih eksis dan didengerin omongannya sama rakyat indonesia. yah..salah satunya MUI. > > jadi si Gus dur nih ada2 aja..., ngapain sih pake toleransi sgala.., wong toleransi, demokrasi dan persamaan hak setiap manusia itu kan produk orang kafir, justru dengan Gus dur mempraktekkan toleransi, demokrasi dan persamaan hak setiap manusia sama aja memangkas rambu-rambu moral yang selama ini dijaga oleh MUI. > > makanya rambu-rambu moralitas MUI harus tetap ditegakkan, supaya umat tetap didalam koridor rambu2 moralitas nya MUI. > > yang berbeda dengan MUI justru harus di bablas habis..., ahmadiyah atau siapapun yang berbeda.. > > yang berbeda harus dibablas..., tegakkan rambu2 moralitas. > > stop toleransi, demokrasi dan persamaan hak setiap manusia karena cuman produk orang kafir dan merusak moralitas umat. > > > salam kebablasan.. . > > > ----- Original Message ---- > From: Rulita Damayanti <rulita_dm2000@ ...> > To: "[EMAIL PROTECTED] s.com" <[EMAIL PROTECTED] s.com> > Sent: Thursday, December 13, 2007 1:19:48 PM > Subject: [ppiindia] Kata Gus Dur: Presiden nurut sama MUI > > Kalau para ulama secara kolektif bermusyawarah untuk memunculkan fatwa demi kepentingan umat terus ndak diikuti, lah khan percuma institusi ini didirikan! Terus mau diapain negeri ini, kalau rambu- rambu moral dipangkas! > > Berikut pernyataan gus dur dalam kemasan berita dari gusdur.net, semoga kita tidak ketularan virus "kebablasan toleransi" . > > Salam > RDM > > Membebaskan Diri dari Menghukumi Orang > > Jakarta, gusdur.net (http://www.gusdur. net) > > KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengatakan menjaga kemerdekaan dari segala bentuk penjajahan adalah sangat penting. Bahkan dia mengingatkan, bahwa orang mudah sekali menjadi penjajah orang lain tanpa disadari.. > > Demikian Gus Dur dalam Halal bi Halal Lintas Iman; Menuju Indonesia Tanpa Kekerasan, di Aula Universitas Paramadina Mulya, Jumat (9/11/07) malam. > Penjajahan yang dimaksud Gus Dur bisa terjadi dalam ranah apa saja. Misalnya keluarga. > "Saya ini termasuk generasi yang sial. Waktu anak-anak dijajah orang tua. Habis itu dijajah anak. Kapan saya bisa jadi penjajah?" seloroh Gus Dur mengutip kata-kata pamannya, KH. Yusuf Hasyim. > Dia mengaku merasa bahagia dapat hadir dalam acara itu karena bisa berada di tengah-tengah orang-orang yang seperjeuangan. "Dengan orang dan teman-teman yang menjaga kemerdekaan dari penjajahan dalam segala bentuknya," tutur Gus Dur disambut gemuruh tepuk tangan. > Dalam kesempatan itu, Gus Dur menilai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sedang tersesat karena Fatwa Majlis Ulama Indonesia (MUI) dijadikan acuan dalam keputusan negara. "Dia menerima hasil keputusan MUI yang menganggap bahwa ada (aliran) yang tersesat," tegasnya. > Padahal MUI, menurut Gus Dur, juga tersesat karena tidak mau mempelajari persoalan lebih dulu sebelum memutuskan pendapat. "Ini ` kan kesesatan yang paling besar." > Perbedaan dalam berbagai hal termasuk aliran dan agama, kata mantan Presiden RI ini, sebaiknya diterima karena itu bukan sesuatu masalah. > Jika sudah bisa menerima perbedaan maka akan lebih terbuka dalam berdialog, bahkan kata Gus Dur, lahir lelucon seperti yang dilontarkan seorang kyai, bhiksu, dan pendeta. > "Pendeta mengatakan; Kami dekat sekali dengan Tuhan. Jadi kami memangil Tuhan Anak, Tuhan Bapak. Si bhiksu menimpali; Kami juga dekat. Bukan manggil Bapak, tapi Om. Lha bagaimana dengan Anda, pak kyai? Pak Kyai menjawab; Boro-boro deket, manggil-nya aja mesti pake menara," urai Gus Dur diiringi tawa seisi ruangan. > Dalam hal perbedaan aliran, Gus Dur juga mengkritik penyesatan MUI Tasikmalaya terhadap aliran Wahidiyah. > Padahal Gus Dur pernah diajak ke tempat pendiri Wahidiyah KH Abdul Majid tiga kali oleh kakeknya, KH Bisri Syansuri, salah satu ahli fikih di Nahdlatul Ulama. > "Kyai Bisri sendiri tidak pernah memberikan komentar apa-apa, termasuk soal sesat tidaknya aliran tersebut," ungkap Gus Dur. > Karena itulah Gus Dur mengikuti sikap itu. "Sikap membebaskan diri dari menghukumi orang." > Menurut Gus Dur, Tuhan lah yang menciptakan ke-bhineka-an, salah satunya adalah dengan adanya Firman Allah Saw `lakum dinukum wa liya din' (bagimu agamamu dan bagiku agamaku). > "Tiap orang berhak memiliki keyakinan sendiri," pungkasnya. > > ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _ > Sent from Yahoo! Mail - a smarter inbox http://uk.mail. yahoo.com > > > > > > ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _ ____________ ___ > Be a better friend, newshound, and > know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. http://mobile. yahoo..com/ ;_ylt=Ahu06i62sR 8HDtDypao8Wcj9tA cJ > > > [Non-text portions of this message have been removed] > ____________________________________________________________________________________ Never miss a thing. Make Yahoo your home page. http://www.yahoo.com/r/hs [Non-text portions of this message have been removed]

