Dalam konflik, apalagi perang, akan muncul banyak retorika dari kedua pihak 
yang bertikai. Orang-orang yang serius mau berdamai, akan melepaskan diri dari 
retorika, dan kembali ke esensi dasar permasalahan yang menimbulkan konflik. 

Dan esensi konflik Arab-Israel itu adalah tanah/wilayah rakyat Palestina, yang 
saat ini masih diduduki Israel. Tidak akan pernah ada perdamaian sejati, selama 
tanah hak rakyat Palestina ini masih diduduki Israel. Hak rakyat Palestina 
sudah jelas dan tegas, karena dikukuhkan dengan Resolusi PBB.

Ketika kita bicara "perdamaian," perdamaian bukanlah konsep bebas nilai yang 
muncul di awang-awang, tetapi harus dibumikan secara konkret. Ketika kita 
membumikan suatu konsep, dan diterjemahkan dalam tindakan praktis di lapangan, 
kita akan berhadapan dengan realita politik, ekonomi, kekuasaan, dan sebagainya 
yang pada FAKTANYA adalah TIDAK seimbang. 

Otoritas Palestina yang miskin, terpecah-belah, terkepung, terisolasi, 
diembargo, hanya dipersenjatai dengan senjata api ringan, tentu tidak seimbang 
dengan Israel, negara dengan militer terkuat di Timur Tengah (punya hampir 500 
pesawat tempur canggih), yang kaya, didukung dana dan teknologi militer 
Amerika, bahkan memiliki senjata nuklir pula. 

Kondisi TIDAK seimbang ini memungkinkan pihak-pihak yang dominan atau superior 
untuk memaksakan term-term atau point-point "perdamaian" pada pihak-pihak yang 
lebih lemah. Ketika pihak yang lemah menolak, karena merasa diperlakukan tidak 
adil, pihak yang kuat dengan mudah bisa mengatakan, "Oh, kalau begitu Anda 
menolak berdamai. Anda adalah musuh perdamaian!"

Di sinilah sebabnya, saya tidak mentah-mentah menelan begitu saja konsep 
"perdamaian." Saya menggunakan pendekatan kritis untuk membongkar mitos-mitos 
"proses perdamaian," sebagai selubung dari dominasi atau pemaksaan kehendak 
pihak yang kuat terhadap pihak yang lemah.  

Dalam mengritik perilaku Zionis Israel (yang didukung Amerika), saya justru 
banyak menggunakan pendekatan kritis dari tokoh intelektual Yahudi Amerika yang 
saya kagumi, yaitu Noam Chomsky. Hal ini membuktikan, cukup banyak tokoh Yahudi 
yang bisa berpikiran jernih. Kita berharap bisa tercapai perdamaian 
Arab-Israel, dengan adanya tokoh-tokoh Yahudi yang semacam ini.

 
Satrio Arismunandar 
Producer - News Division, Trans TV, Floor 3
Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790 
Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 4026,  Fax: 79184558, 79184627
 
http://satrioarismunandar6.blogspot.com
http://satrioarismunandar.multiply.com  
 
"If you know how to die, you know how to live..."



----- Original Message ----
From: Nugroho Dewanto <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, December 13, 2007 6:55:12 PM
Subject: Re: [ppiindia] Re: Anggota LibForAll Indonesia Temui Shimon Peres di 
Yerusalem

pindah ke topik lain?

saling memaafkan dan melupakan masa lalu adalah
proses yang harus dilakukan ke arah perdamaian.

bahkan pejabat israel yang paling cinta damai seperti
simon peres pun dulunya bekas aktivis haganah.
sebaliknya apa jadinya bila israel terus mengingat
abu mazen sebagai pejabat fatah yang menggerakkan
perlawanan bersenjata anti-israel?

segala simpati saya untuk rakyat palestina. tapi kita
tak bisa memandang satu sisi saja untuk menciptakan
perdamaian. bagaimana dengan bom dan serangan roket
kepada warga israel? dan yang paling buruk adalah
sentimen dan retorika menendang yahudi ke laut.
semua itu adalah lingkaran setan yang harus diputus.

atau anda setuju retorika menendang yahudi ke laut
harus terus dikobarkan? bahkan abu mazen sudah
meninggalkan retorika itu. buat israel, kalau anda masih
seperti itu berarti anda tak serius untuk berdamai.
sederhana saja.

At 03:32 AM 12/13/2007 -0800, you wrote:
>Pengertian "memaafkan" itu harus jelas.
>
>Tanah Palestina masih diduduki Israel, pengungsi Palestina masih 
>terlunta-lunta tak bisa pulang ke tanahnya, pelanggaran HAM terhadap 
>rakuat Palestina terus berlangsung, ...dst.... dan orang Palestina disuruh 
>"memaafkan" ? Apa tidak terbalik?
>
>Dalam kondisi sekarang, yang posisi underdog dan tertindas itu ya rakyat 
>Palestina, bukan Israel (negara paling kuat secara militer di Timur 
>Tengah, dan diyakini sudah memiliki senjata nuklir -- hal yang implisit 
>sudah diakui PM Israel Olmert).
>
>Jangan sampai kita "blaming the victim," justru menyalahkan orang yang 
>jadi korban (mengutip judul buku Edward Said).
>
>
>Satrio Arismunandar
>Producer - News Division, Trans TV, Floor 3
>Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790
>Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 4026, Fax: 79184558, 79184627
>
>http://satrioarismu nandar6.blogspot .com
>http://satrioarismu nandar.multiply. com
>
>"If you know how to die, you know how to live..."
>





      
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing.  Make Yahoo your home page. 
http://www.yahoo.com/r/hs

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke