Mas Agus, saya tidak tahu pasti, apa memang pegeseran nilai-nilai yang terjadi sekarang, disebabkan karena kualitas pendidikan agama itu sendiri yang merosot, atau karena secara kuantitas juga menurun. Berbicara kualitas, tentu berkaitan dengan isi (content) ajaran agama yang diajarkan, terutama di forum pengajian dsbnya. Saya melihat keberagamaan kita sekarang ini telah bergeser dari apa yang disebut dengan EDUCATIONAL RELIGIOUSITY (keberagamaan yang bersifat pengajaran) menjadi ENTERTAINMENT RELIGIOUSITY (keberagamaan yang bersifat hiburan). Sehingga event-event keagamaan di satu sisi dianggap komoditi, di lain sisi sebagai upaya umat mencari obyek pelarian (eskapisme) untuk mengatasi kejenuhan dan kegelisahan hidup, atau karena suatu motivasi lain agar pelaku tampak agamis dihadapan publik.
Maka, tidak heran kalau sekarang ada istilah rohaniwan selebritis, ustadz selebitis, dsbnya, dan umat terjebak dengan suatu sikap yang melihat event-event keagamaan sebagai TONTONAN, bukan sebagai obyek untuk melegakan rasa haus dan lapar spiritualitas. Secara kuantitas, saya juga melihat bahwa frekuensi pendidikan agama di sekolah-sekolah sangat jauh dari kelayakan, seminggu hanya 2 jam (2 sks), bagaimana mungkin serapan keagamaan yang mendasar bisa diperoleh, hanya bersifat kognitif saja, para siswa tidak memperoleh kebutuhan afektif dan psikomotoriknya, dan ironisnya lagi, para orang tua tidak ada kesempatan mendidik anak-anaknya dalam masalah agama, entah karena tidak waktu untuk itu, atau memang tidak ada kapabilitas untuk mengajarkannya! Dan itupun tidak ditopang oleh inisiatif orang tua untuk membekali anaknya dalam pendidikan agama kepada pihak lain, seperti ngaji, TPA, dll. Ini kalau dibiarkan, apa yang disebut dengan LOST GENERATION (kehilangan generasi) akan terjadi juga. Parameternya jelas, sekarang ada kecenderungan majelis taklim, pengajian-pengajian umum lebih banyak dihadiri generasi tua daripada generasi muda! Padahal dalam sebuah hadist dikatakan, bahwa seluruh amal manusia akan hilang ketika meninggal dunia, kecuali amal sodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang soleh! Nah, kalau anak yang soleh tidak jadi fokus pembangunan bangsa (character and nation building) ini, apa jadi jadinya anak-anak kita ke depan, nilai-nilai dan norma apa yang akan dipakai sebagai landasan hidupnya! Dalam sejarah jelas kita melihat bahwa hancurnya sebuah peradaban adalah karena peradaban itu sendiri tidak mampu untuk menduplikasikan pada generasi berikutnya (next generation)! Bagaimana dengan generasi muda kita ke depan? Itulah yang harus kita renungkan sekarang ini! Salam RDM agussyafii wrote: > hehehhe, makasih masukannya mbak rulita, > sebagai bagian masyarakat urban, maksudnya keluar kota masuk kota udah > pusing mondar-mandir selalu berharap dan berusaha untuk memperbaiki > kondisi bangsa ini dengan semampu..ya seperti yang saya tulis > itu...bukan berarti cuek bebek dengan keadaan bangsa ini tapi mengerti > pada bagian mana saya bisa berkontribusi tanpa mesti mengeluhkan > keadaan yang kian sulit.. > salam peace & love.. > agussyafii > --- In [EMAIL PROTECTED] s.com , Rulita Damayanti <rulita_dm2000@ ...> > wrote: >> >> Wah saya baru tahu, kalau sekarang ada theologi baru. BIARIN AJA, > inspirasinya dari bus kota lagi. Asyik juga ya! >> Cuma mas agus, biarin aja itu khan sikap egocentris juga, yang > pokoknya dirinya aman, dan masa bodohlah dengan di luar sono! >> Kata pepatah "berdoa sambil bekerja" (ora et labora), ada > doa juga ada ikhtiar! Problem solving itu pemecahaannya khan tidak > hanya doa, dzikir, istighfar, dsbnya, harus ada upaya kongkrit! Nah, > itu yang harus kita pikirkan dan diskusikan untuk benahi bangsa ini. >> (istilah kerennya: Involvement of nation care >> Ini sekedar masukan aja lho mas! >> >> Salam, >> RDM >> >> agussyafii wrote: >> > "Biarin Aja" >> > Pagi yang cerah, matahari memancarkan sinarnya menghangatkan tubuh. >> > Mengirup udara merupakan anugerah yang tiada tara. Menapaki jalan, >> > diantar oleh anak dan istri berangkat kerja adalah kebahagiaan yang >> > tersendiri. Tak lama sudah duduk manis di bus Patas AC berjalan pelan >> > menuju Senen. Penumpang mulai penuh, bahkan nampak yang berdiri. Laju >> > bus yang awalnya pelan mulai melaju dengan cepat. Ditengah laju bus >> > yang cepat, tiba-tiba ada bus lain yang menyalip membuat bus yang > saya >> > tumpangi berhenti mendadak. Semua penumpang bus kaget setengah mati. >> > Ada seorang ibu berteriak mencaci maki pak sopir, ada bapak yang >> > istighfar, sebagian lainnya mengelus dada. Dibelakang bus yang >> > menyalip ada tulisan yang besar bunyinya, "Biarin Aja." Mendamaikan >> > diri untuk bisa selalu bersabar bukanlah hal yang mudah. Apa lagi >> > ditengah deru kota Jakarta, bersabar merupakan satu kegiatan yang > mewah. >> > Cobalah perhatikan dijalan raya, semua melaju dengan kencangnya. Baik >> > kendaraan umum, kendaraan pribadi roda empat maupun roda dua semuanya >> > terlihat saling tidak mau mengalah, yang paling tidak nyaman menjadi >> > pejalan kaki, hamper tidak memiliki ruang untuk bisa berjalan kaki >> > dengan santai. >> > Beberapa waktu lalu ada seorang ibu yang berkonsultasi, bahwa dirinya >> > sakit hati, dia menceritakan ketika suaminya hendak dinas keluar kota >> > sambil menyiapkan baju, suaminya marah-marah. Saya sudah menyiapkan >> > keperluannya dengan baik-baik, e..malah dia marah-marah. Apa saya >> > tidak sakit hati pak. Terus apa yang saya harus lakukan biar suami >> > saya tidak seenaknya marah-marah, katanya. Biarin aja, jawab saya. >> > Seminggu kemudian ibu tadi kembali menghubungi saya dan mengatakan >> > suami sudah kembali dari dinasnya dari luar kota dan suaminya dengan >> > santainya tanpa minta maaf, katanya sudah lupa, kapan dia marah-marah >> > pada istrinya. Apa saya tidak dongkol, bagaimana mungkin saya sakit >> > hati sementara suami saya bilang, kapan ya saya marah-marahnya. >> > Begitulah kehidupan yang selalu saja kita terbelenggu oleh >> > peristiwa-peristiwa yang membuat diri kita menterjemahkan sebagai >> > sesuatu yang menyakitkan hati kita, sementara pelaku yang telah >> > menyakiti hati kita sendiri sudah lupa kapan dia melakukannya. Cara >> > yang paling mudah untuk melepaskan belenggu-belenggu peristiwa yang >> > menyakitkan adalah dengan tidak menyimpan kejadian buruk itu ke dalam >> > memori kita, jadi ya biarin aja semua itu berlalu. >> > Membiarkan semua kejadian berlalu seperti yang dikatakan Krisna Murti >> > membuat diri kita selalu lahir kembali dan keberanian kita untuk mati >> > pada masa lalu. Membuat hidup ini menjadi penuh keriangan tanpa >> > dihinggapi oleh berbagai problem kehidupan. >> > Keriangan hidup saya hadir dengan menyaksikan Hana bermain dengan >> > teman-teman belajar mengaji, tanpa takut salah Hana selalu membaca >> > Iqro' dan ikut menghapal doa-doa atau ketika melantunkan Asma al >> > husna. Keriangan itulah yang menjadikan anak-anak pengajian di rumah >> > saya giat belajar tak ubahnya dengan bermain. Menanamkan pada memori >> > anak-anak bahwa belajar mengaji tak ubahnya bermain akan membuat anak >> > selalu bersemangat dan juga lebih menghayati ajaran agama dalam >> > kehidupan sehari-hari. >> > Jika ingin menanamkan aqidah dengan benar yang paling mudah dimulai >> > pada usia anak-anak.. Seperti mengajarkan sholat, mengajak sholat >> > berjamaah sebagai aktifitas harian dilakukan bersama-sama dengan ayah >> > dan ibunya membuat anak merasa nyaman dan memahami bahwa sholat >> > merupakan kegiatan yang menyenangkan baginya, sambil ayah dan ibunya >> > menerangkan untuk apa kita melaksanakan sholat itu. >> > Pernah saya punya teman yang enggan melaksanakan sholat, dia bertutur >> > dulu sewaktu kecilnya dia hidup bersama kakeknya yang sangat keras >> > mendidik dirinya. Katanya setiap subuh dia selalu dibangunkan untuk >> > sholat subuh dengan cara menyiramkan air sampai basah kuyup dan >> > sehabis sholat subuh kakeknya selalu memaksa dirinya untuk tadarus, >> > jika dirinya mengantuk, kakeknya selalu memukul punggungnya dengan >> > rotan. Semua itu membuat dirinya menjadi trauma dengan kegiatan > sholat >> > dan mengaji bahkan setiap kali dia ingin melakukan selalu terbayang >> > wajah kakeknya yang seram itu. >> > Beberapa kali pertemuan saya membantunya untuk menjadikan sholat dan >> > mengaji itu sebagai kegiatan yang menyenangkan, saya mengajaknya > untuk >> > sholat berjamaah dan membaca asma al husna dengan dilantunkan dan >> > berkumpul dengan anak-anak yang belajar mengaji membuat dirinya mulai >> > merasa nyaman dengan kegiatan mengaji. Sampai pada suatu hari dia >> > mengabarkan telah menikah dan dengan mudah mengucapkan kalimat dua >> > sahadat tanpa trauma masa lalunya. >> > Sama juga dengan mengajarkan anak bahwa merokok itu merusak > kesehatan, >> > sebaiknya diajarkan sebelum anak mencoba menghisap rokok. Jika anak >> > sudah mengenal betapa enaknya rokok akan sulit untuk diajarkan bahwa >> > merokok itu merusak kesehatan. Kalau sudah begitu anak dinasehatin >> > apapun selalu akan bilang, "Biarin aja…" >> > Wassalam, >> > Agussyafii >> > ============ ========= ========= ========= ========= ========= === >> > Silahkan kirimkan komentar anda tentang tulisan ini di >> > http://agussyafii. blogspot. com Atau di sms 0888 176 48 72 >> > ============ ========= ========= ========= ========= ========= === >> > >> >> >> >> ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _ >> Sent from Yahoo! Mail - a smarter inbox http://uk.mail. yahoo.com >> > __________________________________________________________ Sent from Yahoo! Mail - a smarter inbox http://uk.mail.yahoo.com

